Stunting di Kalimantan Timur Masih Jadi Tantangan Serius

  • 21 Apr 2026 08:08 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Program keluarga berencana (KB) bukanlah program baru di Indonesia. Namun, angka stunting di Kalimantan Timur masih tergolong tinggi dan menjadi perhatian serius berbagai pihak.

Hal ini disampaikan Sekretaris Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Kalimantan Timur, Muslimin, dalam dialog Indonesia Sehat Pro 1 RRI Samarinda, saat menjawab pertanyaan pendengar mengenai faktor penyebab tingginya angka stunting.

Definisi dan Penyebab Stunting Menurut Muslimin, stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang. Kondisi ini ditandai dengan tinggi dan panjang badan anak yang tidak sesuai dengan usianya.

“Stunting adalah gagal tumbuh yang disebabkan oleh kekurangan gizi dan infeksi berulang, yang membuat tinggi badan anak tidak sesuai standar usianya,” ujar Muslimin, dikutip Selasa 21 April 2026.

Ia menjelaskan, terdapat kategori stunting mulai dari ringan hingga sangat berat (severely stunting) berdasarkan standar pengukuran kesehatan nasional. Intervensi Stunting: Spesifik dan Sensitif Muslimin menjelaskan penanganan stunting terbagi dalam dua pendekatan, yaitu intervensi spesifik dan intervensi sensitif.

Intervensi spesifik berada di bawah sektor kesehatan, seperti pemberian makanan tambahan (PMT) di posyandu serta layanan kesehatan ibu dan anak. Saat ini, sebagian program tersebut juga diperkuat melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Intervensi spesifik sekitar 30 persen kontribusinya dalam penurunan stunting,” kata Muslimin.

Sementara itu, 70 persen lainnya berasal dari intervensi sensitif yang mencakup faktor lingkungan seperti air bersih, sanitasi, jamban keluarga, serta pola asuh anak.

Muslimin menegaskan, faktor lingkungan memiliki peran besar dalam kasus stunting. Kondisi sanitasi yang buruk dan akses air bersih yang terbatas dapat meningkatkan risiko infeksi berulang pada anak. “Masih ada masyarakat yang belum memiliki akses sanitasi layak, sehingga berpotensi menyebabkan infeksi berulang pada anak,” ujarnya.

Selain itu, pola asuh dalam keluarga juga menjadi faktor penting yang menentukan tumbuh kembang anak. Berdasarkan data yang disampaikan, angka stunting di Kalimantan Timur berada pada kisaran 22,2 persen, masih di atas target nasional sebesar 14 persen.

“Angka ini masih tergolong tinggi dan perlu kerja sama semua pihak untuk menurunkannya,” kata Muslimin.

Ia menjelaskan, pengukuran stunting dilakukan melalui dua metode, yaitu survei nasional seperti SSGI dan data berbasis layanan kesehatan di posyandu (EPPGBM).

Muslimin juga menyoroti pentingnya kehadiran masyarakat dalam layanan posyandu. Tidak semua balita dan ibu hamil rutin datang ke posyandu, sehingga data dan intervensi kesehatan belum optimal. “Jika tidak hadir ke posyandu, maka intervensi kesehatan juga tidak maksimal,” ucapnya.

Menurutnya, penanganan stunting tidak bisa hanya dilakukan oleh sektor kesehatan, tetapi membutuhkan kolaborasi lintas sektor, termasuk pemerintah daerah dan masyarakat. Ia menegaskan, keberhasilan penurunan stunting sangat bergantung pada kesadaran keluarga dalam menjaga kesehatan, gizi, serta lingkungan yang bersih.

Melalui penguatan program KB dan intervensi stunting, pemerintah terus berupaya mewujudkan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berkualitas. “Penurunan stunting adalah investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa,” ujar Muslimin.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....