Baru Diluncurkan, Buku Sejarah Islam di Kaltim Tarik Minat Pembaca Generasi Muda
- 02 Apr 2026 19:45 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Buku "Sejarah Islam di Kalimantan Timur: Empat Setengah Abad Jaringan Dakwah, Ulama, dan Peradaban dari Kerajaan hingga Republik" menarik perhatian generasi muda setelah resmi diluncurkan di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispursip) Kota Samarinda, Kamis 2 April 2026.
Seperti Peneliti Pusat Studi Konstitusi, Demokrasi dan Masyarakat (SIDEKA) Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Ira Fadia Herviska Putri, yang menyambut antusias kehadiran buku tersebut. Menurutnya, buku ini dapat menarik minat pembaca mulai dari bab pembuka.
“Di bab awal dijelaskan bagaimana Islam masuk ke Kalimantan Timur, termasuk kisah Tuan Tunggang Parangan dan Raja Mahkota. Itu membantu pembaca memahami awal sejarah Islam di Kaltim,” kata Ira, saat memberikan reviunya dalam sesi diskusi buku Sejarah Islam di Kalimantan Timur itu.
Ia juga menilai, buku ini mengajak pembaca lebih kritis dalam memahami sejarah. Beberapa kisah dalam sejarah awal perkembangan Islam di Kalimantan Timur, menurutnya, memuat unsur mitos atau mitologi yang perlu dipahami dalam konteks zamannya.
Salah satu yang sering disebut adalah kisah Tuan Tunggang Parangan yang digambarkan datang dengan menaiki hiu parang. Cerita seperti itu, menurut Ira, dapat dipahami sebagai cara masyarakat pada masa lalu menggambarkan keistimewaan seorang tokoh.
“Bisa jadi itu gaya bahasa masyarakat saat itu untuk menggambarkan keistimewaan tokoh, jadi pembaca tidak bisa langsung menelan mentah-mentah kisah tersebut seperti pendapat salah satu ahli di buku ini,” ujarnya.
Meski begitu, ia juga mencatat masih ada beberapa istilah dalam buku yang cukup sulit dipahami pembaca pemula. Hal tersebut terutama dirasakan oleh generasi muda yang baru mulai membaca literatur sejarah.
“Untuk generasi Z atau pembaca sejarah pemula, ada istilah seperti ‘babat’ yang agak sulit dipahami,” kata dia.

Pandangan lain datang dari Mahasiswa S2 Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Muhammad Ilham Syahputra. Ia menilai, buku tersebut relatif mudah dipahami karena menggunakan gaya bahasa populer.
Menurutnya, pendekatan bahasa yang ringan membuat buku ini dapat dibaca tidak hanya oleh kalangan akademisi, tetapi juga masyarakat umum yang tertarik pada sejarah.
“Menurut saya buku ini cukup mudah dipahami karena menggunakan gaya bahasa populer, jadi yang bukan orang sejarah pun bisa memahami,” kata Ilham.
Namun di sisi lain, ia menemukan beberapa kekurangan yang sifatnya teknis, seperti kesalahan penulisan atau typo yang lazim terjadi dalam karya tulis. Ilham berharap, catatan tersebut dapat menjadi bahan perbaikan pada penerbitan berikutnya agar buku ini semakin baik.
“Catatannya mungkin nanti di cetakan kedua bisa diperbaiki lagi, termasuk masukan dari para peserta diskusi agar buku ini lebih baik,” ujarnya.
Sementara itu, penulis sekaligus Sejarawan Publik, Muhammad Sarip menyambut baik berbagai saran dan masukan tersebut. Ia menilai, kritik dan saran merupakan hal yang wajar dalam penerbitan sebuah karya ilmiah.
Menurutnya, peluncuran buku juga menjadi ruang untuk menerima masukan dari pembaca agar isi buku dapat terus disempurnakan pada edisi berikutnya.
“Typo, salah ketik, atau salah input data itu pasti akan direvisi. Buku ini bukan kitab suci, jadi wajar kalau ada kekurangan,” kata Sarip.

Senada, Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kalimantan Timur yang juga penulis buku ini, Abdunnur, menilai diskusi dalam peluncuran buku menjadi kesempatan untuk memperkaya isi buku ke depan.
Ia mengatakan, berbagai masukan dari pembaca dan peserta diskusi justru menjadi motivasi untuk memperbaiki sekaligus mengembangkan kajian sejarah Islam di Kalimantan Timur yang lebih luas. Tidak hanya di lingkup Kutai Kartanegara saja, tetapi juga daerah lainnya.
“Launching ini memang kita gunakan untuk meminta masukan dan sharing session, karena kami juga menyadari tidak ada karya yang sempurna,” kata Abdunnur.
Selain Ira dan Ilham, diskusi buku tersebut juga dihadiri sejumlah tokoh agama dan pemerhati sejarah, antara lain Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia Kota Samarinda Inui Nurhikmah, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Timur KH Muhammad Rasyid, serta Ketua Lasaloka-KSB sekaligus Tim Ahli Cagar Budaya Fajar Alam.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....