Diskusi Literasi Hari Pustakawan Nasional Soroti Perpustakaan di Era Digital
- 10 Jul 2026 16:37 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Perpustakaan dinilai masih memiliki peran penting di tengah derasnya arus digitalisasi. Selain menjadi ruang membaca, perpustakaan juga berkembang sebagai pusat belajar hingga konsultasi yang bisa dimanfaatkan masyarakat.
Hal itu mengemuka dalam kegiatan Diskusi Literasi Hari Pustakawan Nasional bertajuk "Proses Kreatif Menulis, Membaca, dan Mengelola Pustaka" yang digelar di Perpustakaan Kota Samarinda, Jalan Kesuma Bangsa pada Jumat, 10 Juli 2026.
Salah satu pembicara, Mahasiswa Universitas Mulawarman (Unmul), Ananta Tsabita mengatakan bahwa keberadaan perpusatakaan masih relevan di tengah pesatnya perkembangan buku digital karena memberikan layanan secara gratis.
"Justru sekarang mahasiswa karena minim bujet in this economy (di ekonomi sekarang), perpustakaan menjadi relevan. Teman-teman bisa menggunakan komputer, membaca, hingga meminjam buku tanpa biaya," ujarnya.
Meski begitu, Ananta tidak menampik bahwa dirinya juga memanfaatkan sumber digital dalam proses menyusun skripsi. Sebab, beberapa jurnal ilmiah terbaru banyak yang tersedia via digital dibandingkan fisik.
Namun ia menilai, buku fisik tetap dibutuhkan sebagai rujukan teori dan landasan akademik. "Penelitian terbaru itu lebih relevan di jurnal ilmiah daripada buku fisik, tetapi bukan berarti buku fisik itu enggak penting," ucapnya, menegaskan.

Menambahkan pernyataan Ananta, Sejarawan Publik, Muhammad Sarip menuturkan bahwa perpustakaan kini sudah lebih maju dengan menyediakan fasilitas selain dari membaca atau meminjam buku. Salah satunya, seperti menyediakan ruang konsultasi yang bisa dimanfaatkan siapa saja.
"Di perpustakaan bukan cuma ada komputer, buku gratis. Mungkin ada yang belum tahu di perpustakaan juga tersedia jasa konsultasi psikolog, karena sekarang lagi trend isu mental health," kata Sarip.
Selain membahas soal keberadaan perpustakaan di era digital, diskusi juga membahas berbagai isu lain, mulai dari kebiasaan membaca generasi muda, pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam proses kreatif menulis, strategi meningkatkan budaya literasi, hingga cara mengembangkan taman bacaan masyarakat (TBM).
Kegiatan ini diinisiasi oleh Lembaga Studi Sejarah Lokal Komunitas Samarinda Bahari (Lasaloka KSB) dan Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Kota Samarinda, dengan menghadirkan pembicara dari berbagai kalangan selain Ananta dan Sarip.
Mereka, yaitu Ketua IPI Kota Samarinda, Inui Nurhikmah; penulis, akademisi, dan Ketua Lasaloka-KSB, Fajar Alam; Duta Baca Remaja Kota Samarinda, Celine Huang; serta Vilonis dan Ventrilokuis, Cinzy Grace.
Kegiatan berlangsung dalam suasana santai dan interaktif. Acara juga dimeriahkan dengan penampilan biola dari Cinzy Grace yang menambah kehangatan forum literasi tersebut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....