Pengrajin Kampung Tenun Samarinda Jaga Warisan dari Hulu hingga Hilir

  • 01 Apr 2026 18:27 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Tradisi pembuatan sarung tenun di Kampung Tenun Samarinda Seberang terus bertahan sebagai warisan budaya yang tidak hanya bernilai historis, tetapi juga menjadi penopang ekonomi masyarakat. Para pengrajin menjaga keberlanjutan proses produksi secara utuh, mulai dari tahap awal hingga akhir, sebagai bentuk pelestarian identitas daerah.

Salah satu pengrajin sekaligus pemilik Rumah Sarung Tenun di Jalan Pangeran Bendahara, Hj. Fatmawati, menjadi contoh generasi penerus yang mempertahankan usaha keluarga secara turun-temurun. Ia mengaku mulai serius menekuni usaha tersebut sejak tahun 2000 setelah orang tuanya meninggal dunia.

“Karena saya keturunan penenun, setelah orang tua meninggal saya mencoba meneruskan usaha sarung tenun ini. Dulu saya juga bekerja di perusahaan, jadi sedikit banyak punya pengalaman bisnis,” ujarnya, Selasa 31 Maret 2026 di Samarinda.

Di rumah produksinya, berbagai motif khas tenun Samarinda terus dipertahankan, seperti motif Belang Hatta yang dipadukan dengan pucuk rebung serta motif Belang Negara. Produk yang dihasilkan memiliki nilai jual tinggi, dengan harga berkisar antara Rp350 ribu hingga Rp1,5 juta per lembar, tergantung tingkat kerumitan dan kualitas pengerjaan.

Fatmawati menjelaskan, ketersediaan bahan baku masih menjadi tantangan tersendiri karena sebagian benang harus didatangkan dari luar daerah. Meski demikian, dukungan pemerintah terus diharapkan agar bahan baku lokal dapat dikembangkan untuk menjaga keberlanjutan produksi.

Selain menjaga kualitas produk, upaya regenerasi juga menjadi fokus utama. Pembinaan kelompok penenun dilakukan agar generasi muda tetap tertarik melanjutkan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

“Memang tidak mudah, tapi kami selalu menyiapkan generasi penerus. Biasanya anak-anak melihat orang tuanya menenun, lalu ikut tertarik,” jelasnya.

Di sisi lain, proses produksi tenun di Kampung Tenun Samarinda tidak hanya berhenti pada tahap penenunan. Tahapan awal seperti pemintalan benang masih dilakukan secara tradisional oleh para pengrajin, salah satunya Harimah di Rumah Tenun Rahma Dina.

Harimah menuturkan, sebelum benang ditenun, terlebih dahulu melalui proses pemintalan dan penggulungan menggunakan alat sederhana. Proses ini menjadi bagian penting dalam menentukan kualitas hasil akhir kain.

“Benang dipintal dan digulung dulu sebelum masuk proses tenun. Semua masih manual menggunakan alat tenun bukan mesin,” ujarnya.

Ia menjelaskan, proses pembuatan kain tenun cukup panjang dan membutuhkan ketelatenan tinggi, mulai dari pemilihan serat, pemintalan, penggulungan, pewarnaan, pencucian, pengkanjian, pengeringan, hingga penenunan motif.

Untuk pewarnaan, sebagian pengrajin masih mempertahankan penggunaan bahan alami seperti daun bawang dan kayu ulin. Selain menghasilkan warna khas, metode ini juga lebih ramah lingkungan meskipun membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan pewarna kimia.

“Pewarna alami memang prosesnya lebih lama, tapi warnanya khas dan lebih ramah lingkungan. Dari kecil saya sudah ikut membantu orang tua dalam proses ini,” kata Harimah.

Keberadaan para pengrajin ini menunjukkan bahwa sarung tenun Samarinda tidak sekadar produk budaya, tetapi juga sistem ekonomi berbasis kearifan lokal yang dijaga dari hulu hingga hilir. Dengan mempertahankan proses tradisional sekaligus beradaptasi dengan kebutuhan pasar, Kampung Tenun Samarinda terus bertahan sebagai simbol identitas budaya sekaligus sumber penghidupan masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....