Kampung Dongeng Etam Tanam Nasionalisme Anak Lewat Cerita Budaya
- 20 Agt 2026 12:06 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda — Menanamkan nilai nasionalisme kepada anak-anak di tengah perkembangan teknologi dinilai perlu dilakukan dengan cara yang dekat dengan dunia mereka. Ketua Kampung Dongeng Etam Samarinda, Fitri Jawsika, mengatakan salah satu upaya yang dilakukan adalah mengenalkan makna kemerdekaan melalui cerita, kegiatan kreatif, serta pembentukan karakter.
Fitri menjelaskan, anak-anak perlu memahami bahwa kemerdekaan bukan sekadar terbebas dari penjajahan, tetapi juga kesempatan untuk mengisi kehidupan dengan kegiatan positif dan memiliki tujuan. Menurutnya, generasi muda perlu memiliki daya juang agar tidak terlena dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan perkembangan zaman.
“Jangan-jangan kita sedang dijajah lagi dengan hal-hal lain yang berhubungan dengan teknologi dan kemajuan zaman,” ujar Bunda Fitri, sapaan akrabnya saat menjadi narasumber Talkshow Pro 4, di kutip 20 Agustus 2026.
Ia mengatakan, nilai-nilai seperti akhlak, budi pekerti, semangat belajar dan kepedulian perlu terus ditanamkan kepada anak-anak. Nilai tersebut menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi yang mampu mengisi kemerdekaan secara bijaksana.
Kampung Dongeng Etam tidak hanya mengandalkan kegiatan mendongeng dalam menanamkan nilai tersebut. Menurut Fitri, kegiatan juga mencakup pembentukan karakter, aktivitas bersama, membaca, hingga membuat kembali cerita tentang pahlawan dan budaya daerah dalam bentuk yang lebih mudah dipahami anak.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah membuat buku cerita bergambar mengenai tokoh perjuangan kemerdekaan, termasuk kisah Soekarno. Selain itu, Kampung Dongeng Etam juga mereproduksi cerita rakyat Kalimantan Timur, salah satunya kisah Naga Erau, untuk diperkenalkan kembali kepada anak-anak.
Fitri menyebut, upaya tersebut penting karena masih banyak anak yang belum mengenal cerita rakyat dari daerahnya sendiri. Melalui buku dan kegiatan mendongeng, cerita budaya Kalimantan Timur diharapkan dapat kembali dikenal sekaligus menjadi sarana pembentukan karakter anak.
“Kita mereproduksi kembali buku cerita tentang Naga Erau. Jadi cerita Erau itu kita buat buku, kita ceritakan dan kita bagikan bukunya,” katanya.
Menurut Fitri, kreativitas juga menjadi salah satu cara anak-anak menunjukkan kecintaan terhadap Indonesia. Anak-anak didorong untuk menghasilkan karya, termasuk menulis, karena kegiatan tersebut dapat mendorong mereka untuk banyak membaca sekaligus mengekspresikan pemikiran.
Ia menambahkan, pembentukan karakter juga dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti belajar mencari teman, peduli terhadap teman dan memiliki kepedulian terhadap orang lain. Fitri menilai, anak-anak membutuhkan perhatian, sentuhan dan ruang untuk diajak berbicara agar nilai-nilai tersebut dapat tumbuh dalam diri mereka.
Fitri berharap generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu memanfaatkannya untuk berkarya dan mengenalkan budaya. Dengan cara tersebut, nilai nasionalisme dan budaya dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....