Muhammadiyah Samarinda Gaungkan Toleransi di Hari Raya

  • 20 Mar 2026 08:37 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Di tengah pelaksanaan Salat Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah oleh warga Muhammadiyah di GOR Kadrie Oening Sempaja, Jumat, 20 Maret 2026, pesan tentang menghargai perbedaan mengalir hangat dari mimbar khutbah, menyatu dengan suasana kebersamaan jemaah.

Imam sekaligus khatib, Ustaz Prof. Rahmat Soe’oed, mengajak umat Islam untuk memaknai Idulfitri tidak hanya sebagai perayaan spiritual, tetapi juga sebagai momentum memperkuat kedewasaan dalam menyikapi perbedaan, khususnya terkait penetapan hari raya.

Guru Besar dan dosen senior Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mulawarman itu menekankan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara amar makruf dan nahi mungkar. Namun, menurutnya, tantangan terbesar justru terletak pada keberanian menjalankan nahi mungkar di tengah keberagaman pandangan.

“Amar makruf tidak banyak mengandung risiko. Yang berisiko itu adalah nahi mungkar, karena di situ kita harus berani berbeda pendapat, dan tetap menghargai pandangan orang lain,” ujarnya usai pelaksanaan salat.

Ia menegaskan, perbedaan pandangan dalam Islam, termasuk dalam penentuan 1 Syawal, merupakan bagian dari ijtihad yang tidak perlu dipertentangkan secara berlebihan. Dalam konteks tersebut, setiap perbedaan tetap memiliki nilai di hadapan Tuhan.

“Kalau yang salah, pahala satu. Yang benar, pahala dua. Jadi tidak perlu diperdebatkan,” ucapnya.

Lebih jauh, Rahmat mengingatkan agar masyarakat tidak mudah mengklaim kebenaran tunggal atas suatu pandangan. Menurutnya, sikap saling menghormati menjadi kunci menjaga keharmonisan umat di tengah keragaman.

Ia juga menekankan bahwa perbedaan ijtihad merupakan ranah keagamaan yang tidak sepatutnya dipaksakan oleh pihak mana pun, termasuk pemerintah. Kebebasan dalam menjalankan keyakinan, menurutnya, harus tetap dijaga dalam koridor saling menghormati.

“Jangan mengatakan ini yang paling benar dan yang lain salah. Ini masalah ijtihad, dan tidak boleh dipaksakan,” katanya.

Dalam perspektif yang lebih luas, Rahmat mengajak umat Islam untuk tidak berhenti pada ibadah Ramadan semata. Ia menilai, nilai-nilai pengendalian diri yang dilatih selama sebulan penuh justru harus menjadi bekal menjalani kehidupan di 11 bulan berikutnya.

Menurutnya, keberhasilan Ramadan bukan hanya diukur dari ibadah ritual, tetapi dari sejauh mana nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menjaga lisan, sikap, dan cara menyikapi perbedaan.

“Ramadan mendidik kita untuk menjauhi hal-hal yang dilarang. Itu harus kita praktikkan di luar Ramadan, sepanjang kehidupan kita,” ujarnya.

Ia pun menutup pesannya dengan harapan agar umat Islam senantiasa diberi kekuatan untuk mempertahankan nilai-nilai kebaikan yang telah dibangun selama Ramadan, serta menjadikannya sebagai fondasi dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis.

Momentum Idulfitri, menurutnya, menjadi pengingat bahwa kemenangan sejati bukan hanya kembali suci, tetapi juga mampu hidup berdampingan dalam perbedaan dengan sikap saling menghargai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....