Program Makan Bergizi Gratis Dinilai Bantu Gizi Anak dan Ekonomi Warga
- 15 Mar 2026 05:19 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah. Selain membantu pemenuhan gizi anak-anak di sekolah, program tersebut juga disebut membawa dampak pada berbagai sektor lainnya.
Hal tersebut disampaikan anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia sekaligus anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia daerah pemilihan Kalimantan Timur, Aji Mirni Mawarni, saat berbagi pengalaman hasil peninjauan langsung di lapangan, Jumat 14 Maret 2026 di Samarinda.
Ia menilai, meskipun program tersebut kerap menuai beragam tanggapan di media sosial, banyak masyarakat yang merasakan manfaat nyata dari pelaksanaannya.
Menurutnya, ia pernah bertemu seorang ibu dengan empat anak yang bekerja sebagai tukang cuci dan mengaku terbantu dengan adanya program tersebut. Melalui program MBG, anak-anaknya dapat memperoleh makan siang di sekolah sehingga meringankan beban ekonomi keluarga.
“Bagi keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas, hal seperti itu sangat berarti,” ujarnya.
Selain membantu keluarga, program tersebut juga dinilai memberi dampak positif terhadap pola makan anak-anak. Beberapa orang tua, kata dia, menyampaikan bahwa anak mereka mulai terbiasa mengonsumsi sayuran melalui menu makanan yang disediakan di sekolah.
Ia juga meninjau langsung sejumlah sekolah yang menerima program tersebut. Menurutnya, sebagian besar siswa menyambut baik menu yang diberikan meskipun pada awalnya perlu penyesuaian karena makanan yang disediakan tidak menggunakan penyedap rasa seperti monosodium glutamat atau MSG.
“Awalnya anak-anak perlu beradaptasi karena menunya lebih sehat. Namun setelah beberapa waktu mereka mulai terbiasa,” katanya.
Di sisi lain, program MBG juga dinilai membuka peluang kerja bagi masyarakat. Dalam pelaksanaannya, dapur penyedia makanan melibatkan puluhan tenaga kerja yang membantu proses produksi hingga distribusi makanan ke sekolah-sekolah.
Selain membuka peluang kerja, program tersebut turut memberi dampak bagi sektor pertanian. Peningkatan kebutuhan bahan pangan untuk penyediaan menu makanan bagi siswa dinilai membantu penyerapan hasil produksi petani.
Ia mencontohkan, pada suatu kesempatan para petani kentang sempat mengalami kesulitan pemasaran saat panen melimpah dan harga di pasaran tidak stabil. Kondisi tersebut kemudian mendapat perhatian pemerintah dengan memasukkan komoditas kentang sebagai salah satu menu dalam program MBG di sejumlah daerah.
Langkah tersebut dinilai membantu penyerapan hasil panen petani sehingga harga komoditas kembali stabil di pasaran.
Meski demikian, ia menekankan pentingnya pengawasan dalam pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, keberhasilan program sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam memastikan standar pelaksanaan berjalan dengan baik.
Ia menilai sistem pengawasan yang kuat dapat menjamin kualitas makanan, kebersihan proses produksi, hingga kelancaran distribusi ke sekolah-sekolah.
Selain itu, transparansi mengenai menu makanan juga dinilai penting agar orang tua dapat mengetahui jenis makanan yang dikonsumsi anak-anak di sekolah setiap harinya.
“Pengawasan yang baik serta keterlibatan masyarakat sangat penting agar program ini dapat berjalan dengan optimal dan terus memberikan manfaat bagi masyarakat,” ucapnya, mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....