Kemarau Kaltim 2026 Diprediksi Tetap Normal
- 06 Mar 2026 10:08 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan akan memasuki musim kemarau 2026 lebih awal dari biasanya. Namun, kondisi tersebut tidak sepenuhnya berlaku di Kalimantan Timur yang diprediksi masih mengalami pola kemarau normal seperti tahun-tahun sebelumnya.
Ketua Tim Data dan Informasi Stasiun Meteorologi SAMS Sepinggan Balikpapan, Carolina Meylita mengatakan, awal musim kemarau di Kalimantan Timur secara klimatologis biasanya terjadi pada periode Juli hingga Agustus. Pola tersebut diperkirakan tetap berlangsung pada tahun ini.
“Untuk Kalimantan Timur sendiri masih dalam kategori normal. Biasanya awal musim kemarau terjadi pada Juli hingga Agustus, dengan puncak kemarau pada Agustus,” ujarnya saat diwawancarai rri.co.id, Jumat 6 Maret 2026.
Ia menjelaskan, secara nasional sebagian wilayah Indonesia diprediksi mengalami kemarau lebih awal dibandingkan rata-rata klimatologinya. Kondisi ini dipengaruhi berakhirnya fenomena La Niña lemah pada Februari 2026 yang kemudian bergeser menuju fase netral dan berpotensi berkembang menjadi El Niño pada pertengahan tahun.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Teuku Faisal Fathani menyebutkan, pemantauan anomali iklim global menunjukkan indeks ENSO saat ini berada pada angka -0,28 atau berada dalam fase netral dan diperkirakan bertahan hingga Juni 2026.
“Mulai pertengahan tahun peluang munculnya El Niño kategori lemah hingga moderat sebesar 50 hingga 60 persen pada semester kedua tahun ini perlu menjadi perhatian,” ujarnya dalam konferensi pers prakiraan awal musim kemarau 2026 di Jakarta.
BMKG juga mencatat sebanyak 114 Zona Musim atau sekitar 16,3 persen wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada April 2026. Sementara 184 zona musim atau sekitar 26,3 persen wilayah lainnya diprediksi menyusul pada Mei, dan 163 zona musim pada Juni 2026.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan bahwa sekitar 325 zona musim atau 46,5 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami awal kemarau lebih cepat dari biasanya. Wilayah tersebut antara lain meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga sebagian wilayah Kalimantan dan Sulawesi.
Meski demikian, Carolina menegaskan Kalimantan Timur masih berada dalam kategori normal berdasarkan pola klimatologi selama sekitar 30 tahun terakhir. Artinya, wilayah ini tidak termasuk daerah yang mengalami percepatan awal musim kemarau.
“Jadi di Kalimantan Timur tidak termasuk wilayah yang maju atau mundur awal musim kemaraunya. Polanya masih sesuai kondisi normal yang biasa terjadi,” ucapnya.
BMKG memperkirakan puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia akan terjadi pada Agustus 2026. Kondisi ini mencakup sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia dan berpotensi memunculkan periode kemarau yang relatif lebih panjang di beberapa daerah.
Karena itu, BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak kemarau, termasuk kemungkinan penurunan ketersediaan air hingga risiko kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....