Tiga Pekan Tak Diguyur Hujan, Dua Wilayah Sepaku Kekurangan Air

  • 01 Sep 2026 13:40 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Penajam Paser Utara - Kemarau panjang mulai menekan ketersediaan air bersih di Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara.

Dua wilayah, yakni Kelurahan Sepaku dan Desa Karang Jinawi, kini harus mendapat suplai air karena sumber air mulai berkurang.

Camat Sepaku Gamaliel Abimanyu Arliandito mengatakan, kondisi tersebut terjadi setelah wilayahnya hampir tiga pekan tidak mendapat hujan. Minimnya curah hujan membuat sejumlah sumber air masyarakat mengalami penurunan debit.

“Curah hujan cukup kecil, bahkan dalam tiga minggu ini kayaknya belum ada hujan sama sekali,” kata Gamaliel kepada rri.co.id di Sepaku, Selasa, 1 September 2026.

Menurut Gamaliel, kebutuhan air bersih paling terasa di Kelurahan Sepaku dan Desa Karang Jinawi. Kedua wilayah tersebut belum terjangkau jaringan PDAM sehingga masyarakat masih mengandalkan sumber air yang tersedia di lingkungan mereka.

Ketika sumber air mulai berkurang, pemerintah kecamatan bersama sejumlah pihak harus turun memberikan bantuan. Gamaliel menyebut distribusi air bersih telah dilakukan sebanyak dua kali ke dua wilayah tersebut.

“Untuk saat ini ada dua wilayah, Kelurahan Sepaku dan Desa Karang Jinawi, karena akses PDAM belum masuk sampai ke dua wilayah tersebut,” ucapnya.

Kondisi ini membuat ketersediaan air menjadi persoalan yang perlu diantisipasi selama kemarau masih berlangsung. Air bukan hanya dibutuhkan untuk minum, tetapi juga menunjang kebutuhan rumah tangga dan aktivitas masyarakat setiap hari.

Pemerintah Kecamatan Sepaku kemudian menyiapkan mekanisme pelaporan untuk mengetahui wilayah yang membutuhkan suplai air. Langkah ini memungkinkan kebutuhan warga dipetakan dan ditindaklanjuti berdasarkan kondisi di lapangan.

Gamaliel mengatakan pemerintah tidak bekerja sendiri dalam memenuhi kebutuhan tersebut.

Dukungan berasal dari pemerintah, pihak swasta, TNI, dan Polri yang berkoordinasi ketika masyarakat membutuhkan bantuan air.

“Kami sudah membangun posko pelaporan. Ketika masyarakat membutuhkan air bersih, kami bersama seluruh stakeholder akan merespons dan segera mengirimkan suplai,” katanya.

Kebutuhan air bersih di Sepaku juga perlu dilihat bersamaan dengan kondisi cuaca yang terjadi di Kalimantan Timur.

BMKG memprakirakan awal September 2026 masih didominasi cuaca panas dan kering di sejumlah wilayah, meski hujan lokal tetap berpeluang terjadi.

Kondisi kering tersebut dapat membuat sumber air semakin tertekan apabila berlangsung dalam waktu panjang. Karena itu, distribusi air menjadi langkah sementara untuk menjaga kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.

Di sisi lain, penguatan pengelolaan sumber air menjadi penting bagi wilayah yang belum terjangkau jaringan perpipaan.

Kondisi kemarau menunjukkan bahwa akses terhadap sumber air alternatif dan sistem distribusi darurat memiliki peran penting ketika sumber air masyarakat menurun.

Sepaku juga memiliki posisi strategis karena menjadi bagian dari kawasan sekitar Ibu Kota Nusantara.

Pertumbuhan aktivitas dan kebutuhan masyarakat membuat ketersediaan air menjadi salah satu aspek penting yang perlu dijaga secara berkelanjutan.

Pemerintah sebelumnya juga telah melakukan berbagai langkah menghadapi potensi kekeringan dan karhutla di kawasan IKN.

BMKG bersama Otorita IKN, BNPB, TNI AU, dan Pemerintah Kaltim bahkan menjalankan operasi modifikasi cuaca untuk membantu mengantisipasi defisit air dan risiko kebakaran.

Namun, bagi warga yang saat ini mulai kehilangan sumber air, kebutuhan paling mendesak tetap sederhana: memastikan air tersedia untuk kehidupan sehari-hari.

Karena itu, mekanisme pelaporan dan distribusi air menjadi penting agar masyarakat tidak menunggu hingga kondisi semakin sulit.

Gamaliel memastikan pemerintah kecamatan akan terus memantau kebutuhan masyarakat selama kemarau.

Ketika laporan masuk, koordinasi dengan berbagai pihak dilakukan agar bantuan air dapat segera dikirim ke wilayah yang membutuhkan.

Situasi tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kemarau bukan hanya persoalan cuaca.

Bagi masyarakat yang sumber airnya mulai menipis, perubahan kondisi alam dapat langsung memengaruhi kebutuhan dasar dan aktivitas sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....