OIKN Siapkan Drone Otomatis, Mahasiswa Bawa Inovasi UAV ke IKN
- 22 Sep 2026 09:44 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Nusantara – Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) membuka peluang pemanfaatan teknologi pesawat tanpa awak atau UAV yang dikembangkan mahasiswa untuk kebutuhan nyata di IKN, termasuk pemantauan karhutla dan penanganan bencana.
Deputi Bidang Transformasi Hijau dan Digital OIKN Agung Indrajit mengatakan pengembangan drone yang dipadukan dengan kecerdasan buatan (AI) dan robotika menjadi bagian penting dari teknologi masa depan. Menurutnya, pemanfaatan teknologi tersebut tidak terbatas pada pengawasan kawasan, tetapi dapat menyentuh berbagai kebutuhan masyarakat.
Hal itu disampaikan Agung kepada rri.co.id seusai pembukaan Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2026 di Gedung Kemenko 3, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN, Senin, 21 September 2026.
“Drone bersama dengan AI dan robotika itu teknologi masa depan. Bukan hanya karhutla, tapi kehidupan sehari-hari juga sangat berpengaruh,” ujar Agung.
Agung mengatakan OIKN saat ini telah memiliki sekitar delapan unit drone yang digunakan untuk mendukung pemantauan kawasan. Ke depan, OIKN juga menyiapkan drone otomatis yang dapat bergerak melakukan pemantauan ketika sistem mendapatkan pemicu atau indikasi kejadian tertentu.
“Ke depan akan ada drone otomatis yang memantau jika ada sesuatu, event atau trigger yang mencurigakan,” katanya.
Pengembangan tersebut menjadi relevan dengan kondisi Kalimantan Timur yang masih menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan. Pemantauan berbasis udara dapat membantu memperoleh informasi awal dari kawasan yang luas maupun lokasi yang sulit dijangkau petugas.
Namun, Agung menilai peluang pemanfaatan UAV jauh lebih luas daripada karhutla. Integrasi drone dengan AI dan robotika dapat dikembangkan untuk berbagai kebutuhan perkotaan dan pelayanan masyarakat seiring berkembangnya IKN sebagai kota masa depan.
“Drone bukan hanya teknologi masa depan di IKN, tapi teknologi masa depan kita semua,” ucapnya.
Agung mengatakan OIKN terbuka terhadap inovasi yang dikembangkan mahasiswa maupun perguruan tinggi untuk mendukung pengelolaan Nusantara. Menurutnya, IKN harus menjadi ruang yang ramah bagi para inovator untuk mengembangkan gagasan dan teknologi.
“IKN itu kota anak muda, kota masa depan,” ujarnya.
Ia mengatakan peluang tersebut dapat mencakup berbagai bentuk pengembangan, mulai dari investasi, perusahaan rintisan atau startup, usaha mikro, kecil, dan menengah, hingga inovasi teknologi.
Bahkan, OIKN membuka kemungkinan menjadi pengguna awal atau first buyer bagi inovasi yang mampu menjawab kebutuhan kawasan. Mekanisme tersebut dinilai dapat memberikan jalur agar hasil penelitian dan pengembangan mahasiswa tidak berhenti sebagai prototipe atau karya kompetisi.
“Kita bisa menjadi first buyer dari inovasi-inovasi,” kata Agung.
Salah satu contoh inovasi tersebut ditampilkan mahasiswa Universitas Bina Nusantara atau BINUS dalam KRTI 2026. Winston, mahasiswa semester lima dari bidang robotik dan anggota UKM Aerospace BINUS, membawa drone bernama Hayabusa yang turun pada divisi Vertical Take-Off and Landing (VTOL).
Winston menjelaskan Hayabusa dirancang untuk menjalankan misi secara otonom. Drone tersebut dapat membawa dan melepaskan paket P3K pada lokasi yang telah ditentukan, termasuk untuk mendukung kebutuhan di kawasan yang baru terdampak bencana.
“Kalau untuk area bencana yang baru dilanda bencana, kita bisa melepaskan P3K di area yang kita inginkan,” ujar Winston.

Menurut Winston, mekanisme tersebut menjadi bagian dari tantangan pada divisi VTOL yang diikuti timnya. Drone harus menjalankan lintasan dan misi yang telah ditentukan, termasuk membawa serta melepaskan muatan pada titik yang ditargetkan.
Berbeda dengan pengoperasian drone secara manual, Hayabusa telah diprogram agar mampu menjalankan misi secara otomatis. Winston mengatakan tim cukup memasukkan perintah yang telah dikodekan, kemudian sistem akan menjalankan rangkaian misi penerbangan.
“Kita sudah coding dalam drone-nya, lalu kita tinggal pencet enter, nanti drone-nya akan menjalankan misinya secara sendiri,” katanya.
Kemampuan otonom tersebut ditopang komputer mini yang dipasang di dalam drone. Perangkat itu berfungsi sebagai pusat pemrosesan perintah yang memungkinkan Hayabusa menjalankan instruksi penerbangan sesuai program yang telah dibuat tim.
Winston mengatakan Hayabusa bukan produk yang dibuat dalam waktu singkat untuk KRTI 2026. Tim telah mengembangkan drone tersebut sejak tahun sebelumnya dan melakukan penyempurnaan untuk mengikuti kompetisi tahun ini.
“Drone-nya sudah dari tahun lalu. Tahun ini kita cuma meng-improve drone-nya,” ujarnya.
Secara keseluruhan, proses pengembangan Hayabusa telah berlangsung sekitar dua tahun. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran mahasiswa dalam menggabungkan kemampuan robotika, pemrograman, sistem kendali, dan teknologi penerbangan tanpa awak.
Kehadiran Hayabusa memperlihatkan salah satu kemungkinan pemanfaatan teknologi UAV untuk kebutuhan kemanusiaan. Drone yang mampu membawa muatan dan bergerak secara otonom dapat dikembangkan lebih lanjut untuk menjangkau lokasi yang sulit diakses, terutama ketika kondisi lapangan membahayakan manusia.
Meski demikian, pemanfaatan untuk kebutuhan publik tetap membutuhkan pengujian dan pengembangan lebih lanjut agar teknologi memenuhi aspek keselamatan, ketepatan, keandalan, serta kebutuhan operasional di lapangan.
KRTI 2026 sendiri mempertemukan 94 tim dari 43 perguruan tinggi dalam lima divisi, yaitu Racing Plane, Fixed Wing, VTOL, Technology Development, serta Long Endurance Low Altitude (LELA).
Pertemuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi tersebut memberi kesempatan bagi OIKN untuk melihat langsung beragam pendekatan teknologi yang dikembangkan generasi muda. Di sisi lain, mahasiswa memperoleh kesempatan memahami kebutuhan kawasan secara lebih dekat.
Agung berpesan agar peserta tidak meremehkan setiap proses pengembangan yang dilakukan dalam kompetisi. Menurutnya, inovasi yang saat ini terlihat sederhana dapat berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar apabila terus dikembangkan.
“Jangan remehkan setiap progres, apalagi progres seperti ini di level nasional, karena setiap progres itu bisa jadi langkah-langkah besar di kemudian hari,” ujarnya.
Pesan tersebut sekaligus menempatkan KRTI sebagai titik awal, bukan akhir dari pengembangan teknologi mahasiswa. Ketika inovasi mampu menjawab kebutuhan nyata, terbuka peluang bagi teknologi tersebut untuk masuk ke tahap pengembangan, pengujian, hingga pemanfaatan yang lebih luas.
Bagi IKN, peluang itu dapat menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem kota yang tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi juga memberi ruang bagi generasi muda untuk menciptakan dan mengembangkannya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....