Kepala OIKN: Kontes Robot Terbang 2026 Harus Melahirkan Inovasi untuk IKN
- 22 Sep 2026 08:47 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Nusantara – Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) Basuki Hadimuljono meminta Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2026 tidak berhenti pada pencarian pemenang, tetapi menghasilkan gagasan teknologi yang dapat diterapkan untuk kebutuhan nyata di Ibu Kota Nusantara.
Pesan tersebut disampaikan Basuki dalam acara KRTI 2026 di Gedung Kemenko 3, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN, Senin, 21 September 2026. Ia mendorong mahasiswa menjadikan Nusantara sebagai ruang untuk menguji sekaligus mengembangkan gagasan teknologi yang lahir dari kompetisi.
“Saya harap hasilnya tidak hanya hasil lomba, tapi bisa diikuti dengan ide-ide lainnya, khususnya kalau memang ada usulan untuk bisa diterapkan di IKN,” ujar Basuki.
Menurut Basuki, KRTI memberikan kesempatan bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk memperlihatkan kemampuan teknologi yang mereka miliki. Namun, nilai penting dari kegiatan tersebut justru berada pada kemungkinan mengembangkan karya peserta menjadi solusi yang dapat digunakan di luar arena perlombaan.
KRTI 2026 diikuti 94 tim dari 43 perguruan tinggi pada babak final. Para peserta berkompetisi dalam lima divisi, yakni Racing Plane, Fixed Wing, Vertical Take-Off and Landing (VTOL), Technology Development, serta Long Endurance Low Altitude (LELA).
Besarnya keterlibatan perguruan tinggi tersebut, menurut Basuki, memperlihatkan bahwa perkembangan penguasaan teknologi di kalangan generasi muda semakin tersebar. Ia menilai kompetisi seperti KRTI tidak lagi hanya menjadi panggung bagi perguruan tinggi tertentu.
“Penguasaan teknologi sekarang sudah merata. Tidak ada lagi sekarang universitas favorit. Semuanya ikut, 43,” katanya.
Pernyataan tersebut menempatkan KRTI bukan sekadar kompetisi antarkampus, tetapi juga sebagai gambaran mengenai perkembangan kapasitas teknologi mahasiswa Indonesia. Setiap tim datang dengan rancangan, teknologi, dan pendekatan masing-masing untuk menyelesaikan tantangan yang diberikan dalam perlombaan.
Bagi OIKN, kondisi tersebut menjadi peluang untuk mempertemukan kemampuan mahasiswa dengan kebutuhan pembangunan Nusantara. Terlebih, IKN sedang diarahkan sebagai kota yang memanfaatkan teknologi dalam pengelolaan kawasan dan pelayanan.
Basuki mengatakan generasi muda justru menjadi kelompok yang akan memiliki hubungan paling panjang dengan perkembangan IKN. Karena itu, ia menilai pembangunan Nusantara tidak semestinya hanya dilihat sebagai proyek pembangunan fisik saat ini, tetapi juga sebagai ruang yang akan digunakan dan dikembangkan oleh generasi berikutnya.
“IKN adalah kota untuk generasi muda, bukan untuk kami-kami. Kami-kami sebentar lagi uzur. Ini adalah untuk Anda semua,” ucapnya.
Pesan tersebut juga mengubah sudut pandang terhadap keberadaan mahasiswa di KRTI. Mereka tidak hanya datang sebagai peserta kompetisi, tetapi berpotensi menjadi bagian dari ekosistem sumber daya manusia yang akan mengisi perkembangan teknologi di Nusantara.
Basuki mengajak peserta menikmati pengalaman berada di IKN sekaligus melihat langsung kawasan yang sedang berkembang. Menurutnya, pertemuan mahasiswa dari berbagai daerah di Nusantara dapat menjadi kesempatan untuk membangun jejaring dan bertukar gagasan.
“Selamat datang di Nusantara. Nikmati Nusantara,” katanya.
Dorongan agar inovasi KRTI dapat diterapkan di IKN juga memiliki konteks kebutuhan teknologi kawasan. OIKN sebelumnya mengembangkan berbagai pendekatan berbasis teknologi untuk pemantauan lingkungan dan pengendalian karhutla, termasuk patroli udara serta pemanfaatan data untuk mendukung respons di lapangan.
Dalam konteks tersebut, teknologi pesawat tanpa awak yang dikembangkan mahasiswa dapat membuka ruang penelitian dan pengembangan lebih lanjut apabila disesuaikan dengan kebutuhan lapangan. Bentuk pemanfaatannya tetap membutuhkan pengujian, kajian teknis, serta penyesuaian dengan sistem dan kebutuhan OIKN.
Karena itu, pesan Basuki memberikan pekerjaan lanjutan bagi perguruan tinggi dan peserta KRTI: bagaimana mengubah prototipe dan gagasan kompetisi menjadi teknologi yang matang, aman, dan benar-benar menyelesaikan persoalan.
KRTI 2026 berlangsung pada 21–25 September 2026 di IKN dan ITK Balikpapan. Selain menjadi arena kompetisi teknologi, penyelenggaraan di Nusantara membuka ruang pertemuan antara perguruan tinggi, mahasiswa, dan pengelola IKN untuk melihat kemungkinan pemanfaatan teknologi secara lebih konkret.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan inovasi mahasiswa tidak hanya berada pada hasil perlombaan, tetapi juga pada kemampuan karya tersebut berkembang setelah kompetisi berakhir. Pesan itu menjadi salah satu penekanan Kepala OIKN dalam menyambut ratusan mahasiswa teknologi yang berkumpul di Nusantara.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....