Bonus Demografi Jadi Tantangan Besar Indonesia menuju 2045
- 22 Sep 2026 07:21 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Nusantara – Besarnya jumlah penduduk usia produktif menjadi modal penting bagi Indonesia menuju 2045, tetapi peluang tersebut membutuhkan kualitas sumber daya manusia yang mampu mengubah jumlah penduduk menjadi kekuatan pembangunan.
Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin mengatakan bonus demografi Indonesia dapat menjadi peluang sekaligus persoalan apabila generasi muda tidak dibekali kemampuan, inovasi, dan kapasitas yang memadai. Pernyataan itu disampaikan dalam pembukaan Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2026 di Gedung Kemenko 3, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN, Senin, 21 September 2026.
Sultan menggambarkan kondisi demografi Indonesia seperti lapisan dengan kelompok usia muda yang sangat besar. Menurutnya, besarnya populasi tersebut akan menentukan kemampuan Indonesia mengisi pembangunan dalam beberapa dekade mendatang.
“Kita punya volume demografi yang luar biasa. Generasi muda atau yang biasa disebut dengan bonus demografi itu besar sekali,” ujar Sultan.
Namun, jumlah tersebut tidak otomatis menjadi keuntungan. Sultan menyebut bonus demografi memiliki dua kemungkinan, bergantung pada kesiapan generasi muda dalam mengembangkan kompetensi dan menghasilkan inovasi.
“Bonus demografi kita ini ibarat pisau bermata dua,” katanya.
Menurut Sultan, generasi muda yang memiliki kualifikasi dan inovasi dapat menjadi aset sekaligus kekuatan bagi negara. Sebaliknya, ketika kemampuan tersebut tidak berkembang, besarnya populasi usia produktif dapat menimbulkan beban sosial dan ekonomi bagi negara.
“Dia bisa menjadi opportunity, aset atau power pada saat teman-teman yang muda ini betul-betul punya kualifikasi, punya inovasi,” ucapnya.
Karena itu, ia mendorong generasi muda untuk memandang peningkatan kapasitas sebagai proses yang harus dilakukan terus-menerus. Ia bahkan mengajak anak muda mengukur perkembangan diri bukan hanya dalam hitungan tahunan, tetapi sedapat mungkin setiap hari.
Pesan tersebut disampaikan di tengah KRTI 2026 yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi Indonesia. Menurut Sultan, kompetisi teknologi seperti KRTI dapat menjadi salah satu ruang untuk melatih kemampuan, kreativitas, ketekunan, sekaligus keberanian mahasiswa menghadapi persoalan teknis.
Pada babak final KRTI 2026, terdapat 94 tim dari 43 perguruan tinggi yang berkompetisi dalam lima divisi. Kompetisi tersebut mencakup Racing Plane, Fixed Wing, Vertical Take-Off and Landing (VTOL), Technology Development, serta Long Endurance Low Altitude (LELA).
Bagi Sultan, pengalaman mahasiswa mengikuti kompetisi teknologi merupakan bagian dari proses mempersiapkan generasi yang akan mengisi Indonesia pada masa mendatang. Ia mengaitkan kesempatan tersebut dengan momentum satu abad Indonesia pada 2045.
“Kalau kita mau mengisi puncak di Indonesia Emas, persiapkan diri dengan baik,” katanya.
Sultan mengatakan generasi muda yang saat ini mengikuti KRTI merupakan bagian dari kelompok yang nantinya akan memiliki peran dalam menentukan arah Indonesia pada 2045. Karena itu, kemampuan teknologi dan inovasi perlu dibangun sejak masa pendidikan.
KRTI juga memperlihatkan bahwa pengembangan kompetensi tidak berhenti pada ruang kelas. Mahasiswa dituntut menerapkan pengetahuan melalui proses perancangan, pengujian, pemecahan masalah, dan kompetisi dengan tim dari perguruan tinggi lain.
Dalam konteks tersebut, Sultan menilai Indonesia memiliki modal sumber daya manusia yang besar. Tantangan berikutnya adalah memastikan potensi tersebut berkembang menjadi kemampuan yang benar-benar dapat digunakan untuk meningkatkan daya saing bangsa.
Ia menyoroti masih adanya persoalan kepercayaan diri di kalangan masyarakat Indonesia ketika berhadapan dengan kemampuan negara lain. Menurutnya, pengalaman kompetisi dan pertemuan internasional dapat menjadi ruang untuk membuktikan kemampuan anak muda Indonesia.
“Anak-anak Indonesia hebat. Ternyata anak-anak Indonesia tidak kalah pintarnya,” ucap Sultan.
KRTI 2026 di IKN kemudian menjadi salah satu contoh bagaimana pendidikan tinggi dapat mempertemukan pengembangan kompetensi dengan kebutuhan teknologi masa depan. Bagi generasi muda, pengalaman tersebut bukan hanya tentang hasil perlombaan, tetapi juga proses membangun keterampilan yang akan menentukan posisi mereka dalam dunia kerja dan pembangunan nasional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....