Ketersediaan Pangan Jadi Tantangan Pengembangan Pertanian IKN

  • 17 Sep 2026 12:33 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Nusantara – Pengembangan pertanian di kawasan IKN masih membutuhkan penguatan produksi dan rantai pasok untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. OIKN menyebut kapasitas produksi petani lokal saat ini belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan pangan di kawasan IKN.

Direktur Ketahanan Pangan Otorita IKN, P. Setia Lenggono, mengatakan kemampuan produksi pangan dari petani di sekitar kawasan IKN saat ini diperkirakan tidak lebih dari 30 persen dari kebutuhan yang dapat dipenuhi secara lokal.

Pernyataan tersebut disampaikan Setia kepada rri.co.id saat pelaksanaan hari terakhir Sekolah Lapang Musim Kemarau dan Pengelolaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) di Wisata Agro Sukaraja, Kecamatan Sepaku, Kamis, 17 September 2026.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat pasokan pangan dari daerah lain tetap diperlukan untuk memenuhi kebutuhan kawasan IKN. Kemitraan antardaerah di Kalimantan, khususnya Kalimantan Timur, menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga ketersediaan pangan.

“Perkiraan kami ini tidak lebih dari 30 persen kemampuan kita untuk memperluas pangan kita sendiri. Artinya tetap saja kita membutuhkan dukungan dari daerah-daerah lain,” ujar Setia.

Ia menjelaskan, persoalan tidak hanya berada pada kemampuan produksi, tetapi juga berkaitan dengan rantai pasok dari sentra pertanian menuju kawasan IKN. Samboja dan Muara Jawa disebut menjadi salah satu wilayah yang memiliki produksi pertanian untuk kebutuhan kawasan tersebut.

Namun, sebagian hasil pertanian dari kedua wilayah itu masih melalui Balikpapan sebelum kemudian masuk ke kawasan IKN. Pola distribusi tersebut membuat rantai pasok menjadi lebih panjang.

“Lumbung pertanian kita sebetulnya Samboja, Muara Jawa. Sebagian terbesar itu lari dulu ke Balikpapan baru masuk ke IKN, sehingga dia transit dulu ke Balikpapan sehingga harganya pasti lebih mahal,” ucapnya.

Kondisi rantai distribusi tersebut menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam pengembangan sistem pangan IKN. Penguatan hubungan langsung antara sentra produksi dan pasar dapat menjadi bagian dari upaya memperpendek jalur distribusi.

Di sisi lain, peningkatan kapasitas petani lokal tetap menjadi kebutuhan agar produksi pangan di kawasan IKN dapat berkembang. Menurut Setia, kemampuan produksi lokal perlu diperkuat secara bertahap, sementara kebutuhan dari daerah lain tetap diperlukan selama kapasitas tersebut belum mencukupi.

Karena itu, OIKN melihat kemitraan dengan daerah lain sebagai bagian penting dalam menjaga kesinambungan pasokan pangan. Kerja sama tersebut terutama diarahkan untuk menghubungkan kebutuhan kawasan IKN dengan potensi produksi di wilayah Kalimantan.

“Makanya kemitraan ini menjadi satu program yang penting dalam memastikan ketersediaan pangan di IKN, kemitraan dengan daerah-daerah yang ada di Pulau Kalimantan, khususnya Kalimantan Timur,” kata Setia.

Pengembangan sistem pangan tersebut juga berkaitan dengan arah ketahanan pangan IKN dalam jangka panjang. Selain meningkatkan produksi lokal, keterhubungan antara petani, sentra produksi, distribusi, dan pasar menjadi faktor penting dalam menjaga ketersediaan pangan bagi masyarakat.

Bagi petani, penguatan akses pasar juga dapat memberikan kepastian terhadap hasil produksi yang mereka usahakan. Dengan demikian, pengembangan pertanian di sekitar IKN tidak hanya berkaitan dengan peningkatan jumlah produksi, tetapi juga bagaimana hasil pertanian dapat terserap melalui rantai pasok yang lebih efisien.

OIKN pada saat yang sama tetap membutuhkan pasokan dari daerah lain untuk menjaga keseimbangan kebutuhan pangan. Pola kemitraan tersebut menjadi pendekatan yang memungkinkan produksi lokal dan pasokan antardaerah berjalan bersama dalam mendukung kebutuhan pangan di kawasan IKN.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....