Embung Jadi Strategi OIKN Hadapi Tantangan Air Pertanian

  • 17 Sep 2026 12:33 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Nusantara – Ketersediaan air menjadi tantangan serius bagi petani di kawasan IKN saat musim kemarau. OIKN menyebut sejumlah lahan pertanian bahkan mengalami gagal sebelum memasuki masa panen akibat keterbatasan air.

Direktur Ketahanan Pangan Otorita IKN, P. Setia Lenggono, mengatakan persoalan air menjadi salah satu tantangan terberat yang dihadapi petani saat ini. Kondisi tersebut membuat kebutuhan infrastruktur penampungan air menjadi semakin penting untuk mendukung keberlanjutan pertanian.

“Air menjadi salah satu tantangan terberat bagi petani-petani kita saat ini. Banyak tempat di lahan pertanian di IKN ini yang gagal panen, bahkan sebelum panen sudah gagal,” kata Setia Lenggono.

Ia menyampaikan hal tersebut kepada rri.co.id dalam pelaksanaan hari terakhir Sekolah Lapang Musim Kemarau dan Pengelolaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) di Wisata Agro Sukaraja, Kecamatan Sepaku, Kamis, 17 September 2026.

Menurut Setia, salah satu langkah yang dilakukan OIKN untuk menghadapi persoalan tersebut adalah memperbanyak embung sebagai tempat memanen dan menyimpan air. Saat ini, jumlah embung di kawasan IKN disebut telah mencapai 24 unit.

Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah hingga sekitar 50 embung sampai akhir tahun. Penambahan embung diarahkan untuk membantu masyarakat menghadapi kondisi kemarau sekaligus memperkuat pengelolaan air di kawasan IKN.

Setia menjelaskan, fungsi embung tidak hanya berkaitan dengan penyediaan air bagi pertanian. Infrastruktur tersebut juga memiliki fungsi lain, termasuk menciptakan iklim mikro yang lebih sejuk dan mendukung kegiatan budidaya perikanan.

“Embung itu tidak hanya berfungsi untuk mengentaskan banjir. Tapi juga berfungsi untuk menciptakan iklim mikro yang lebih sejuk, menjadi tempat penampungan air, dan juga untuk budidaya perikanan,”ucapnya.

Pengembangan embung tersebut sejalan dengan konsep IKN sebagai kota hutan, kota cerdas, dan sponge city. Dalam konsep tersebut, air hujan tidak sekadar dialirkan keluar kawasan, tetapi juga diupayakan untuk ditampung dan dimanfaatkan kembali.

Bagi sektor pertanian, kemampuan menyimpan air menjadi semakin penting ketika periode kering berlangsung. Ketersediaan air tidak hanya menentukan keberlangsungan tanaman, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga produktivitas petani di sekitar kawasan IKN.

Persoalan air juga berkaitan dengan pengelolaan lahan tanpa bakar yang sedang didorong OIKN melalui Sekolah Lapang PLTB. Pengelolaan biomassa dan tanah yang tepat diharapkan dapat berjalan bersamaan dengan upaya menjaga ketersediaan air untuk mendukung pertanian.

Setia mengatakan tantangan tersebut membutuhkan pengelolaan yang berkelanjutan karena kebutuhan petani tidak berhenti ketika kegiatan pelatihan selesai. Infrastruktur penyimpan air menjadi salah satu bagian yang diperlukan agar petani tetap dapat menjalankan kegiatan produksi ketika kondisi kemarau semakin berat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....