Kontes Robot Terbang 2026 Dorong IKN Jadi Ruang Tumbuh Talenta Teknologi

  • 22 Sep 2026 07:15 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Nusantara – Penyelenggaraan Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2026 di Ibu Kota Nusantara (IKN) dinilai tidak hanya menjadi kompetisi mahasiswa, tetapi bagian dari ekosistem teknologi yang sedang dibangun di Nusantara.

Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin mengatakan kehadiran puluhan perguruan tinggi dan ratusan mahasiswa dalam KRTI memperlihatkan bahwa IKN dapat menjadi ruang pertemuan antara talenta muda, inovasi teknologi, dan kebutuhan pembangunan kota masa depan. Hal itu disampaikannya saat menghadiri pembukaan KRTI 2026 di Gedung Kemenko 3, KIPP IKN, Senin, 21 September 2026.

Menurut Sultan, penyelenggaraan KRTI memiliki keterkaitan kuat dengan arah pembangunan IKN yang mengedepankan teknologi, sistem otonom, dan prinsip ramah lingkungan. Ia melihat kawasan Nusantara memiliki peluang menjadi tempat pengembangan berbagai inovasi yang melibatkan generasi muda Indonesia.

“Ini akan banyak sekali inovasi. Saya yakin mungkin ini ibu kota pertama di dunia yang betul-betul menerapkan sistem green, kemudian autonomous, dan betul-betul pro-lingkungan,” ujar Sultan.

KRTI 2026 mempertemukan 94 tim dari 43 perguruan tinggi dengan total 373 mahasiswa. Mereka mengembangkan dan menguji teknologi pesawat tanpa awak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dalam lima divisi, yakni Racing Plane, Fixed Wing, Vertical Take-Off and Landing, Technology Development, serta Long Endurance Low Altitude.

Jumlah peserta tersebut menunjukkan bahwa pengembangan teknologi UAV telah menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai daerah. Bagi IKN, pertemuan tersebut sekaligus membuka peluang terbentuknya jejaring antara perguruan tinggi dan ekosistem teknologi yang sedang dibangun di kawasan ibu kota baru.

Sultan mengatakan dirinya melihat langsung perkembangan kawasan IKN yang menurutnya berlangsung cepat dibandingkan pengalaman sejumlah negara yang pernah membangun ibu kota baru. Ia menilai pembangunan Nusantara pada akhirnya bukan hanya menghasilkan kawasan pemerintahan, tetapi juga harus meninggalkan warisan berupa kemampuan teknologi dan sumber daya manusia.

“Ini sebuah legacy yang luar biasa suatu hari,” katanya.

Peluang tersebut menjadi semakin relevan karena UAV memang telah masuk dalam konsep teknologi kota cerdas Nusantara. Dalam cetak biru Kota Cerdas Nusantara, OIKN memasukkan UAV atau drone sebagai salah satu teknologi yang dapat mendukung pengembangan kota, termasuk karena karakteristiknya yang fleksibel dan dapat dioperasikan dari jarak jauh maupun secara otonom.

Artinya, kompetisi seperti KRTI memiliki ruang untuk dikembangkan lebih jauh dari sekadar perlombaan. Teknologi yang lahir dari perguruan tinggi dapat diarahkan untuk kebutuhan pemetaan, pemantauan kawasan, mitigasi bencana, hingga mendukung pengelolaan lingkungan dan berbagai kebutuhan perkotaan.

Sultan juga melihat pentingnya mempertemukan kemampuan mahasiswa dengan kebutuhan pembangunan IKN sejak dini. Menurutnya, generasi muda tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi harus dipersiapkan menjadi pihak yang mampu merancang dan mengembangkan teknologi tersebut.

Ia mencontohkan perkembangan IKN yang diarahkan sebagai kota futuristik dan berbasis teknologi. Karena itu, menurutnya, keberadaan inovator muda dalam berbagai kegiatan teknologi menjadi bagian penting dari perjalanan pembangunan Nusantara.

“Kalau kita mau mengisi puncak Indonesia Emas, persiapkan diri dengan baik,” ucapnya kepada para peserta.

Sultan juga mengingatkan bahwa besarnya jumlah generasi muda Indonesia harus diikuti dengan peningkatan kemampuan dan inovasi. Menurutnya, kekuatan demografi baru akan menjadi modal pembangunan apabila generasi muda memiliki kompetensi yang dapat digunakan untuk menjawab tantangan masa depan.

Pesan tersebut membuat KRTI memiliki makna yang lebih luas. Kompetisi tidak hanya menguji kemampuan mahasiswa membuat dan menerbangkan wahana tanpa awak, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun pengalaman, jejaring, dan keberanian menghasilkan teknologi sendiri.

Bagi Kaltim, kehadiran KRTI di IKN juga memberikan konteks berbeda bagi perguruan tinggi daerah. ITK sebagai tuan rumah berada di kawasan penyangga IKN, sementara sejumlah perguruan tinggi dari Kalimantan turut mengirimkan tim pada babak final.

Sultan berharap perkembangan IKN dapat berjalan beriringan dengan pertumbuhan kualitas sumber daya manusia. Dengan demikian, teknologi yang berkembang di Nusantara tidak hanya didatangkan dari luar, tetapi juga memberi ruang bagi mahasiswa dan peneliti Indonesia untuk menciptakan solusi sendiri.

“PR terbesar kita itu adalah sumber daya manusia yang sebenarnya banyak,” kata Sultan.

KRTI 2026 berlangsung 21–25 September 2026 di IKN dan ITK Balikpapan. Dengan mempertemukan 94 tim dari 43 perguruan tinggi, ajang tersebut menjadi salah satu ruang yang memperlihatkan kemampuan mahasiswa Indonesia dalam mengembangkan teknologi pesawat tanpa awak sekaligus mempertemukan inovasi pendidikan tinggi dengan arah pembangunan IKN.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....