BNPB Dorong Operasi Modifikasi Cuaca Kaltim Cegah Munculnya Titik Kebakaran Baru

  • 14 Sep 2026 21:22 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Nusantara – BNPB mendorong Operasi Modifikasi Cuaca di Kalimantan Timur tidak hanya diarahkan untuk membantu memadamkan karhutla, tetapi juga membasahi wilayah yang belum terbakar. Strategi ini dinilai penting untuk mencegah munculnya titik kebakaran baru selama kondisi kering masih berlangsung.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyampaikan strategi tersebut dalam rapat koordinasi penanganan karhutla bersama pemerintah daerah, OIKN, TNI, Polri, BMKG, dan Kementerian Kehutanan, Senin, 14 September 2026.

Menurut Suharyanto, pelaksanaan OMC harus memanfaatkan informasi BMKG mengenai pertumbuhan awan yang berpotensi menghasilkan hujan. Ketika peluang tersebut muncul, operasi harus segera dilakukan agar hujan dapat dimanfaatkan untuk membasahi wilayah yang membutuhkan.

“Sumbernya dari BMKG. Begitu BMKG menginformasikan ada pertumbuhan awan potensial hujan, segera lakukan,” kata Suharyanto.

Ia bahkan meminta wilayah yang belum mengalami kebakaran ikut menjadi perhatian dalam operasi tersebut. Kawasan yang masih aman dapat dibasahi untuk menjaga kondisi lahan tetap memiliki kelembapan dan mengurangi potensi munculnya kebakaran.

Suharyanto mencontohkan wilayah kabupaten yang tidak sedang mengalami kebakaran. Jika BMKG mendeteksi pertumbuhan awan hujan di daerah tersebut, pemerintah dapat memanfaatkannya melalui OMC untuk mempertahankan kondisi lahan tetap basah.

“Paling tidak di kabupaten-kabupaten yang tidak kebakaran itu basah dan tidak terjadi kebakaran,” ujarnya.

Strategi tersebut bukan hal baru bagi Kaltim. BMKG bersama OIKN, TNI AU, BNPB, dan Pemerintah Provinsi Kaltim telah melaksanakan OMC untuk membantu mengatasi defisit air di Waduk Sepaku Semoi sekaligus mengurangi risiko karhutla.

Saat pelaksanaan sebelumnya, BMKG mencatat sebagian besar wilayah Kaltim mengalami Hari Tanpa Hujan dengan kategori sangat pendek hingga panjang. Durasi terpanjang tercatat di Kutai Barat dan Paser yang mencapai 28 hari berturut-turut.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa strategi pengendalian karhutla tidak cukup hanya dilakukan setelah api muncul. Ketersediaan air dan kondisi kelembapan lahan juga perlu dijaga sebelum kebakaran berkembang.

Untuk penanganan terbaru, Suharyanto mengatakan pemerintah provinsi telah meminta kembali pelaksanaan OMC. BNPB menargetkan operasi tersebut dapat segera dijalankan dengan memanfaatkan potensi awan hujan yang terpantau BMKG.

Ia juga menyebut permintaan serupa datang untuk Kabupaten Berau. BNPB menyatakan siap mendukung pelaksanaan OMC di wilayah tersebut sesuai kondisi cuaca dan kebutuhan lapangan.

Menurut Suharyanto, kebutuhan memperkuat OMC juga berkaitan dengan prediksi datangnya hujan secara lebih merata. Berdasarkan informasi BMKG yang diterimanya, kondisi hujan alami diperkirakan kembali normal pada akhir Oktober atau awal November.

Artinya, penanganan karhutla masih membutuhkan kerja intensif selama beberapa pekan ke depan. Pemerintah tidak bisa hanya menunggu perubahan musim untuk menghentikan kebakaran.

“Secara nasional Kepala BMKG memberikan prediksi hujan alami kembali normal itu di akhir Oktober atau awal November. Masih lama,” ujarnya.

Sementara itu, BMKG mencatat OMC masih menjadi salah satu instrumen yang digunakan pemerintah dalam penanganan karhutla di sejumlah wilayah Indonesia. Hingga pertengahan September, kegiatan OMC dilakukan antara lain di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan.

Bagi Kaltim, pemanfaatan OMC memiliki fungsi yang lebih luas dibanding sekadar menghasilkan hujan di lokasi kebakaran. Air hujan yang berhasil dipicu dapat digunakan untuk meningkatkan kelembapan kawasan yang rentan terbakar.

Strategi tersebut menjadi penting karena sebagian besar wilayah Kaltim memiliki karakter lahan mineral. Meski relatif berbeda dengan lahan gambut, kondisi kering tetap dapat meningkatkan risiko kebakaran pada vegetasi dan permukaan lahan.

Di kawasan IKN, pengendalian karhutla juga telah dilakukan melalui pendekatan pencegahan, penanggulangan, dan pemulihan. OIKN bersama berbagai pihak membentuk Satuan Reaksi Cepat Multi Pihak untuk melakukan pemantauan dan penanganan kebakaran.

Suharyanto meminta peluang hujan tidak dilewatkan ketika kondisi atmosfer memungkinkan. Menurutnya, kecepatan mengambil keputusan menjadi penting karena pertumbuhan awan hujan memiliki waktu dan lokasi yang terbatas.

Pendekatan ini juga membuat koordinasi BMKG dengan posko penanganan karhutla menjadi bagian penting dalam operasi. Informasi cuaca harus segera diterjemahkan menjadi tindakan di lapangan.

Dengan strategi tersebut, pemerintah berharap OMC dapat membantu menekan risiko kebakaran baru sekaligus mendukung pemadaman pada kawasan yang masih terbakar. Operasi tetap dilakukan berdasarkan kondisi atmosfer dan rekomendasi teknis BMKG.

BNPB memastikan pelaksanaan OMC akan berjalan bersama operasi darat dan udara. Seluruh strategi diarahkan untuk mempercepat pengendalian karhutla sekaligus menjaga agar api tidak kembali meluas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....