BNPB Ungkap Satgas Darat Lebih Efektif Padamkan Karhutla Kaltim

  • 14 Sep 2026 21:18 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Nusantara – BNPB menilai Satgas Darat menjadi kekuatan utama dalam memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Timur, terutama untuk mengejar luasan kebakaran yang terus bertambah. Perbandingan hasil pemadaman menunjukkan operasi darat mampu menangani area lebih luas dibandingkan pemadaman menggunakan helikopter water bombing.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyampaikan evaluasi tersebut dalam rapat koordinasi penanganan karhutla Kaltim dan IKN, Senin, 14 September 2026.

Menurut Suharyanto, pada 13 September terdapat 24 firespot yang terkonfirmasi dari 34 hotspot berdasarkan pemantauan Sipongi. Luasan kebakaran yang teridentifikasi saat itu diperkirakan mencapai 712,94 hektare.

Dari luasan tersebut, Satgas Darat berhasil menangani sekitar 307,99 hektare. Sementara operasi udara menggunakan helikopter water bombing hanya mampu memadamkan sekitar 15 hektare dalam satu hari pada perbandingan operasi yang disampaikan Suharyanto.

“Jadi sangat-sangat sedikit apabila dibandingkan dengan satuan tugas darat,” kata Suharyanto.

Ia menjelaskan, operasi udara tetap dibutuhkan karena terdapat lokasi kebakaran yang tidak dapat dijangkau pasukan melalui jalur darat. Namun, water bombing tidak ditempatkan sebagai pengganti Satgas Darat.

Helikopter lebih diarahkan untuk membantu memutus bagian tertentu dari api, terutama ketika lokasi kebakaran sulit dijangkau. Pernyataan tersebut sejalan dengan penjelasan Suharyanto dalam kunjungan di Kalimantan Selatan beberapa hari sebelumnya, bahwa water bombing paling efektif digunakan ketika api masih kecil dan berada di lokasi yang sulit dijangkau dari darat.

Dengan karakter tersebut, strategi pemadaman di Kaltim tetap menempatkan pasukan darat sebagai kekuatan utama. Sementara operasi udara berfungsi sebagai penguat untuk menjangkau medan yang memiliki keterbatasan akses.

Suharyanto mengatakan Satgas Darat Kaltim dibentuk dengan melibatkan berbagai unsur. Di dalamnya terdapat personel TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, OIKN, Masyarakat Peduli Api, relawan, hingga masyarakat.

Khusus kawasan IKN, kekuatan tersebut juga telah bekerja secara terpadu untuk menangani sejumlah titik kebakaran. OIKN sebelumnya menyebut pengendalian karhutla dilakukan melalui satuan reaksi cepat multipihak yang melibatkan pemerintah, aparat, perusahaan, organisasi lingkungan, dan kelompok masyarakat.

Suharyanto menilai keterlibatan banyak unsur menjadi modal penting untuk mempercepat pemadaman. Personel darat dapat langsung melakukan penyisiran, membuat sekat, mengendalikan bara, dan memastikan api tidak kembali menyala setelah pemadaman awal.

“Operasi karhutla itu memang satuan tugas darat yang paling utama,” ujarnya.

Pendekatan tersebut menjadi semakin penting ketika kebakaran terjadi di kawasan yang luas. Kemampuan pasukan untuk bergerak langsung di permukaan memungkinkan pemadaman dilakukan secara lebih berkelanjutan dibandingkan pengiriman air dari udara.

Meski hasil pemadaman darat lebih besar, Suharyanto menegaskan operasi udara tetap diperlukan. Beberapa kawasan memiliki medan yang sulit dijangkau sehingga pemadaman dari udara menjadi pilihan untuk membantu pasukan di bawah.

Di kawasan IKN, misalnya, Otorita IKN sebelumnya menyebut sejumlah area di Bukit Tengkorak dan Bukit Merdeka membutuhkan water bombing karena tidak mudah dijangkau melalui jalur darat.

Karena itu, BNPB menerapkan pola pemadaman yang menggabungkan kekuatan darat dan udara. Operasi udara diarahkan untuk memperlemah atau memutus api, kemudian Satgas Darat melanjutkan penanganan di lokasi.

Pola tersebut juga terlihat dalam operasi nasional. BNPB dalam penanganan karhutla di Kalimantan Tengah menegaskan penguatan operasi gabungan antara Satgas Darat dan Satgas Udara untuk mempercepat pemadaman secara terukur.

Bagi Kaltim, strategi tersebut menjadi penting karena luas kebakaran yang telah mencapai ribuan hektare membutuhkan kemampuan pemadaman yang tidak hanya cepat, tetapi juga mampu bekerja dalam waktu panjang.

Suharyanto mengatakan pada saat rapat berlangsung masih terdapat sekitar 319,95 hektare area yang sedang ditangani Satgas. Ia berharap seluruh area tersebut dapat segera dipadamkan dan tidak muncul titik kebakaran baru.

Menurutnya, keberhasilan operasi tidak cukup diukur dari berapa luas api yang berhasil dipadamkan dalam sehari. Satgas juga harus memastikan lokasi yang telah dipadamkan tidak kembali terbakar.

Hal itu penting karena kebakaran pada musim kering dapat kembali aktif akibat bara yang tersisa, angin, maupun kondisi vegetasi yang masih kering. BMKG sendiri menyebut September 2026 masih menjadi fase kritis karhutla karena kondisi kering, pengaruh El Niño, dan tingginya hotspot.

Dengan demikian, BNPB mendorong Satgas Darat Kaltim mempertahankan intensitas pemadaman hingga seluruh titik yang masih aktif benar-benar terkendali. Operasi udara tetap digunakan sebagai dukungan ketika kondisi medan tidak memungkinkan penanganan dari permukaan.

Suharyanto menegaskan pemerintah pusat akan terus mengevaluasi perkembangan pemadaman berdasarkan laporan harian. Targetnya bukan hanya menurunkan luas kebakaran yang sedang berlangsung, tetapi menghentikan munculnya kebakaran baru di Kaltim.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....