Debit Air Menurun IKN Gelar Salat Istisqa Memohon Hujan
- 04 Sep 2026 08:42 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Nusantara – Kekeringan mulai terasa di kawasan Ibu Kota Nusantara ketika debit air menurun dan kebutuhan tanaman terhadap air semakin besar.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat bersama unsur pemerintah dan pekerja di kawasan IKN melaksanakan Salat Istisqa untuk memohon hujan yang membawa keberkahan dan manfaat bagi kehidupan.
Salat Istisqa digelar Jumat, 4 September 2026, mulai pukul 08.00 WITA hingga selesai di Jalan Grande, depan Istana, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan atau KIPP Ibu Kota Nusantara.
Kegiatan tersebut terbuka untuk umum. Ust. Darto Gunadi, S.Pd.I., Imam Masjid Negara Ibu Kota Nusantara, bertindak sebagai imam, sedangkan khotbah disampaikan Ust. Dr. H. Rusdi Abdullah, M.S.I., Dosen Studi Islam Program Doktor UIN Samarinda.
Deputi Bidang Sosial Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat Otorita Ibu Kota Nusantara Alimuddin mengatakan kemarau panjang mulai memberikan dampak terhadap kondisi lingkungan di kawasan IKN.
Menurutnya, kondisi cuaca kering memang membuat sejumlah pekerjaan fisik pembangunan berjalan lebih lancar. Namun, persoalan muncul ketika debit air mulai menurun dan kebutuhan air bagi lingkungan semakin besar.
“Kalau pembangunan sih jalan terus. Justru dengan tidak hujan secara fisik mungkin bisa lancar. Tetapi di luar itu kita tahu sekarang debit air kita sudah menurun dan tanaman juga,” ujarnya kepada rri.co.id.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Salat Istisqa dilaksanakan. Alimuddin mengatakan permohonan hujan bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari tuntunan umat Islam ketika menghadapi kondisi seperti kekeringan.
Menurutnya, pelaksanaan Salat Istisqa telah direncanakan sejak melihat kondisi yang berkembang. Namun, pelaksanaannya tetap memperhatikan ketentuan yang harus dipenuhi.
“Ini kewajiban kita sebagai umat Islam. Ketika ada musibah seperti ini, menjadi sunah Rasulullah untuk melaksanakan Salat Istisqa yang menjadi salat sunah yang dikuatkan atau muakkad,” katanya.
Sekitar seribu orang diperkirakan mengikuti kegiatan tersebut. Peserta berasal dari masyarakat, pegawai, serta pelajar yang berada di kawasan IKN.
Alimuddin mengatakan jumlah peserta bukan menjadi ukuran utama dalam pelaksanaan Salat Istisqa. Menurutnya, ketulusan dan niat untuk memohon pertolongan kepada Allah jauh lebih penting.
“Memang kita siapkan kurang lebih seribu, tapi mungkin lebih. Karena anak sekolah saja sudah 200-an. Tapi mungkin bukan jumlahnya, melainkan ketulusan hati dan niat,” ujarnya.
Dalam khotbahnya, Ust. Dr. H. Rusdi Abdullah mengajak umat untuk kembali melakukan introspeksi dan memperbanyak istigfar. Ia mengingatkan bahwa permohonan hujan juga harus disertai kesadaran untuk memperbaiki hubungan manusia dengan Allah.
Rusdi mengacu pada pesan dalam Al-Qur'an mengenai pentingnya memohon ampun kepada Allah. Menurutnya, istigfar menjadi salah satu bagian penting dari upaya manusia ketika menghadapi kekeringan.
“Intinya adalah bahwa kita harus kembali ke jalan yang telah ditetapkan Allah. Yang terutama sekali adalah bagaimana kita banyak memohon ampun kepada Allah,” katanya.
Ia menjelaskan, dalam Surah Nuh ayat 10–12 terdapat janji tentang ampunan Allah yang diikuti dengan turunnya hujan. Pesan tersebut kemudian menjadi bagian dari penguatan makna Salat Istisqa yang dilakukan umat Islam.

Rusdi juga mengajak masyarakat melihat hujan bukan sekadar kebutuhan manusia. Air menjadi bagian penting bagi keberlangsungan tanaman, hewan, dan berbagai makhluk hidup lainnya.
Karena itu, doa meminta hujan di kawasan IKN juga membawa harapan agar kondisi lingkungan kembali mendapatkan keseimbangan. Terlebih, pembangunan kawasan terus berlangsung dan kebutuhan terhadap sumber daya air tetap harus diperhatikan.
Pelaksanaan Salat Istisqa di IKN berlangsung ketika wilayah tersebut menghadapi periode kering. Kondisi itu membuat persoalan ketersediaan air tidak hanya menjadi perhatian pemerintah, tetapi juga masyarakat yang beraktivitas di kawasan Nusantara.
Bagi Alimuddin, hujan yang diharapkan bukan sekadar hujan yang turun, melainkan hujan yang memberikan manfaat dan tidak menimbulkan persoalan baru bagi lingkungan.
“Kita memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk mendapatkan keberkahan hujan, hujan yang berkah sehingga dapat memberikan banyak kemanfaatan bagi keberlangsungan makhluk-makhluk hidup yang ada di bumi,” ucapnya.
Harapan terhadap turunnya hujan juga semakin terasa setelah sejumlah wilayah di sekitar Kalimantan Timur mulai mendapatkan hujan. Alimuddin menyebut dirinya memperoleh informasi mengenai hujan deras di Balikpapan pada pagi hari.
Sementara itu, Rusdi mengaku masyarakat mulai merasakan adanya tetesan air setelah rangkaian pelaksanaan Salat Istisqa. Ia berharap hujan tersebut menjadi bagian dari keberkahan dan membawa manfaat bagi masyarakat.
“Alhamdulillah, ini sudah terasa hujan turun. Mudah-mudahan ini dampak dari apa yang dilaksanakan oleh kaum muslimin di seluruh penjuru yang sudah melaksanakan Salat Istisqa, minta hujan,” kata Rusdi.
Di tengah pembangunan IKN yang terus berjalan, air menjadi kebutuhan yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari. Bukan hanya untuk manusia, tetapi juga untuk tanaman, lingkungan, dan keberlangsungan ekosistem kawasan.
Salat Istisqa kemudian menjadi ruang untuk berhenti sejenak dari aktivitas pembangunan dan mengingatkan kembali bahwa kemajuan sebuah kawasan juga membutuhkan lingkungan yang tetap terjaga.
Doa meminta hujan di Jalan Grande, depan Istana IKN, pada akhirnya bukan hanya tentang turunnya air dari langit. Ada harapan agar hujan membawa keberkahan bagi kawasan Nusantara dan seluruh kehidupan yang tumbuh di dalamnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....