Wamenkomdigi: Pembangunan Konektivitas Nasional Tak Lagi Bertumpu pada BTS
- 05 Agt 2026 14:26 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Jakarta – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menegaskan bahwa paradigma pembangunan konektivitas nasional kini mengalami perubahan signifikan. Pemerataan akses internet di Indonesia tidak lagi hanya mengandalkan pembangunan Base Transceiver Station (BTS), tetapi disesuaikan dengan kondisi geografis, jumlah penduduk, serta kebutuhan spesifik di setiap wilayah.
Hal tersebut disampaikan Nezar saat menerima jajaran Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan Timur di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Jakarta Pusat, dikutip dari laman Komdigi, pada Rabu 5 Agustus 2026.
Menurut Nezar, pemerintah akan mengintegrasikan berbagai teknologi, seperti BTS, jaringan fiber optik, satelit, dan solusi telekomunikasi lainnya untuk memastikan layanan internet dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk wilayah dengan medan yang sulit diakses.
"Kita mencoba memetakan wilayah yang menjadi prioritas. Untuk daerah yang sulit dijangkau BTS, kita akan memanfaatkan satelit atau moda jaringan lainnya," ujar Nezar.
Ia mengatakan, pendekatan berbasis karakteristik wilayah menjadi langkah penting agar pembangunan konektivitas nasional berjalan lebih efektif, efisien, dan merata.
Sebagai contoh, Provinsi Kalimantan Timur telah mencapai cakupan konektivitas sebesar 95,5 persen. Dari total 841 desa, sebanyak 803 desa telah terhubung dengan layanan internet.
Meski demikian, masih terdapat 269 titik blankspot yang menjadi prioritas penanganan melalui sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI), serta operator telekomunikasi.
Nezar juga menegaskan bahwa keterbatasan anggaran tidak boleh menjadi hambatan dalam mempercepat pemerataan akses digital di seluruh Indonesia.
Menurutnya, kolaborasi antarpemangku kepentingan merupakan kunci untuk mempercepat pembangunan konektivitas di wilayah blankspot maupun daerah dengan kualitas sinyal yang masih lemah.
Nezar mengatakan, "Dengan sinergi ini, kita bisa saling menguatkan dan mewujudkan akses yang lebih merata".
Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan Timur, Ririn Sari Dewi, menyampaikan pemerintah provinsi telah menerapkan pendekatan pembangunan konektivitas melalui perpaduan berbagai teknologi, mulai dari fiber optik, Very Small Aperture Terminal (VSAT), hingga satelit.
Menurut Ririn, kombinasi teknologi tersebut dipilih agar layanan internet dapat disesuaikan dengan kondisi geografis dan kebutuhan masing-masing desa.
"Kami memilih perpaduan teknologi yang paling sesuai agar layanan internet dapat tersampaikan secara optimal ke desa-desa," ujar Ririn.
Ia menambahkan, percepatan pemerataan konektivitas membutuhkan dukungan berkelanjutan dari pemerintah pusat, terutama dalam sinkronisasi data, penguatan kebijakan, serta kolaborasi lintas sektor.
"Kunci saat ini adalah kolaborasi. Kami mohon dukungan penuh dari pemerintah pusat dan siap mendukung program-program internet untuk kemajuan masyarakat," katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....