Presiden Prabowo: Indonesia Harus Mengantisipasi Ketidakstabilan Dunia
- 06 Feb 2026 08:28 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Bogor - Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pentingnya mengantisipasi gejolak global di tengah dinamika dan ketegangan dunia yang semakin kompleks. Presiden menegaskan bahwa sejak awal berdirinya Republik Indonesia, dunia telah berada dalam pusaran konflik ideologis dan geopolitik yang berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap Indonesia.
“Sejak awal presiden pertama Indonesia, seluruh dunia sedang berada dalam perang ideologi besar. Perang ideologi besar di dunia, yang di mana dunia dibagi menjadi 2 blok, yaitu ada blok komunis dan blok antikomunis atau dapat juga dikatakan blok demokrasi dan blok kapitalis,” ucap Presiden dalam pidatonya.
Pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Senin, 2 Februari 2026.
Dilansir dari Setneg.go.id. Presiden menyampaikan untuk konflik dunia seperti perang di Ukraina dan krisis kemanusiaan di Gaza memberikan dampak luas, termasuk terhadap stabilitas ekonomi, keamanan, dan ketahanan nasional Indonesia. Oleh karena itu, seluruh jajaran pemerintahan diminta untuk memahami secara menyeluruh, terhadap tantangan yang sedang dihapai dunia saat ini.
“Ini yang saya ingin jelaskan ke semua jajaran pemerintahan mari kita terus waspada, marilah kita memahami tantangan-tantangan yang ada di dunia ini,” ucapnya
Presiden Prabowo juga menyampaikan bahwa hasil pengamatannya dari semua pertemuan internasional yang baru saja dia hadiri di Eropa, termasuk forum ekonomi dunia atau World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss. Menurut Presiden pada pertemuan tersebut ada peningkatan kekhawatiran untuk masalah pecahnya Perang Dunia Ketiga dari para pemimpin dunia.
“Seluruh pemimpin dunia memikirkan kemungkinan terjadinya Perang Dunia Ketiga,” ucap Presiden.
Presiden juga menjelaskan bahwa konflik yang berskala global, khususnya yang melibatkan senjata nuklir, dapat berdampak luas bahkan untuk negara-negara yang tidak terlibat langsung dalam konflik tersebut. Dampaknya akan berupa gangguan terhadap lingkungan, gangguan pangan dan perikanan, bahkan sampai perubahan iklim ekstrim akibat fenomena nuclear winter yang berpotensi akan berlangsung puluhan tahun.
Dalam konteks tersebut, Presiden menyampaikan kembali komitmen Indonesia terhadap politik luar negeri bebas aktif, serta prinsip nonblok. Indonesia, ucap Presiden, tidak akan bergabung dalam pakta militer mana pun dan akan terus mengutamakan persahabatan dengan seluruh bangsa dan negara.
“Filosofi luar negeri saya adalah seribu kawan sedikit sekali, satu lawan banyak sekali,” ucap Presiden.
Presiden menyampaikan bahwa sikap nonblok dan persahabatan dunia adalah menuntut kemandirian nasional yang kuat. Apabila Indonesia bersikap tidak bergantung pada aliansi militer, maka bangsa Indonesia harus mampu berdiri di atas kekuatannya sendiri, sebagaimana ditegaskan oleh Presiden Sukarno dan Panglima Besar Jenderal Sudirman.
“Sejak awal, Bung Karno menyampaikan bahwa, kita harus berdiri di atas kaki kita sendiri! Dan Panglima Besar kita yang pertama, Panglima Besar Sudirman mengajarkan kepada kita, bahwa kita harus percaya kepada kekuatan kita sendiri!” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....