Sejarah Roti Gembong Kuliner Tradisional Kutai Kartanegara

  • 20 Jan 2026 10:01 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Roti gembong dikenal luas sebagai jajanan tradisional yang merakyat dan sarat nilai nostalgia. Di balik kesederhanaannya, roti ini menyimpan jejak sejarah panjang yang berkaitan dengan masuknya budaya roti ke Nusantara pada masa kolonial serta proses adaptasi kuliner lokal di wilayah Kalimantan Timur, khususnya Kutai Kartanegara.

Jejak Budaya Roti di Nusantara

Masuknya budaya roti ke Indonesia berkaitan dengan kehadiran bangsa Eropa pada abad ke-17. Dalam sejumlah catatan sejarah kuliner Nusantara, roti diperkenalkan melalui jalur perdagangan dan pusat pemerintahan kolonial, terutama di kota pelabuhan dan wilayah administrasi.

Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIV Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara dalam beberapa kajian kebudayaan mencatat bahwa makanan berbahan gandum pada awalnya hanya dikonsumsi kalangan terbatas. Namun, masyarakat lokal kemudian mengadaptasi teknik pembuatannya dengan bahan yang lebih sederhana dan sesuai dengan selera setempat.

Dari proses adaptasi inilah lahir beragam jenis roti lokal, termasuk roti gembong yang dikenal berukuran besar dan bercita rasa manis-gurih.

Adaptasi Lokal Roti Gembong

Dalam tradisi lisan masyarakat Kutai, roti gembong dibuat dari adonan sederhana, dipanggang hingga mengembang, lalu diisi margarin dan gula pasir. Istilah “gembong” merujuk pada bentuk roti yang mengembang besar, sesuai dengan makna kata tersebut dalam bahasa lokal.

Menurut Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kutai Kartanegara, kuliner tradisional Kutai banyak berkembang dari hasil perjumpaan budaya luar dengan kearifan lokal. Roti gembong menjadi salah satu contoh adaptasi tersebut, di mana teknik pembuatan roti disesuaikan dengan bahan yang mudah diperoleh masyarakat.

Perkembangan di Wilayah Kutai Kartanegara

Kutai Kartanegara sejak lama dikenal sebagai wilayah strategis jalur perdagangan sungai dan laut. Berdasarkan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dan naskah sejarah Kerajaan Kutai Kartanegara, wilayah ini memiliki hubungan dagang yang terbuka dengan berbagai pihak, termasuk pedagang Eropa dan Asia.

Melalui jalur perdagangan inilah bahan pangan baru, termasuk tepung terigu dan teknik pengolahan roti, dikenal masyarakat Kutai. Dalam perkembangannya, roti gembong diolah dengan tekstur lebih lembut dan ukuran yang relatif besar, sehingga cocok sebagai kudapan yang mengenyangkan.

Roti Gembong di Lingkungan Istana Kutai

Dalam catatan budaya lokal dan penuturan budayawan Kutai yang terdokumentasi oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Kalimantan Timur, roti gembong disebut sebagai salah satu kudapan yang dikenal di lingkungan Kerajaan Kutai Kartanegara pada masa lalu.

Roti ini disajikan sebagai makanan selingan, teman minum teh atau kopi, serta suguhan bagi tamu. Kesederhanaan roti gembong mencerminkan nilai budaya Kutai yang tidak memisahkan secara tajam makanan istana dan makanan rakyat.

Dari Tradisi Istana ke Jajanan Rakyat

Seiring berjalannya waktu, roti gembong tidak lagi terbatas pada lingkungan tertentu. Resepnya diwariskan secara turun-temurun dan dijual di pasar tradisional, toko roti rumahan, hingga pedagang keliling di wilayah Kutai Kartanegara, Samarinda, dan sekitarnya.

Hingga kini, roti gembong tetap bertahan sebagai bagian dari identitas kuliner lokal Kalimantan Timur, sekaligus menjadi pengingat proses panjang pertemuan budaya yang membentuk kekayaan kuliner Nusantara.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....