Diabetes Mulai Mengancam Generasi Muda, Kenali Faktor Risikonya

  • 07 Okt 2026 06:47 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Diabetes selama ini kerap dikaitkan dengan kelompok usia lanjut. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, penyakit tersebut juga semakin menjadi perhatian pada kelompok usia yang lebih muda, termasuk anak-anak dan remaja.

Perubahan pola hidup menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan, terutama ketika aktivitas sehari-hari semakin banyak dilakukan dengan bantuan teknologi. Kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman tinggi gula, makanan olahan, serta pola makan yang kurang seimbang dapat meningkatkan risiko gangguan metabolisme.

Di sisi lain, aktivitas fisik yang rendah akibat terlalu banyak menghabiskan waktu dengan gawai membuat tubuh lebih sedikit bergerak. Jika berlangsung dalam waktu lama dan disertai faktor risiko lainnya, kondisi tersebut dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya resistensi insulin yang berkaitan dengan diabetes tipe 2.

Dilansir dari laman resmi Kementerian Kesehatan RI, Selasa 6 Oktober 2026, meningkatnya kasus diabetes tipe 2 pada anak-anak dan remaja menjadi perhatian serius. Gaya hidup modern yang cenderung serba cepat, kurang aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, serta tekanan psikologis dapat membuat generasi muda semakin rentan terhadap penyakit tersebut.

Karena itu, kesadaran untuk menerapkan kebiasaan hidup sehat perlu dibangun sejak usia dini.

Paparan kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama sejak usia muda dapat meningkatkan risiko munculnya berbagai komplikasi. Kondisi ini dapat berdampak pada organ dan fungsi tubuh, mulai dari penyakit jantung, stroke, gangguan ginjal, hingga masalah penglihatan. Pada kondisi yang lebih serius, diabetes juga dapat meningkatkan risiko terjadinya amputasi.

Dampak diabetes tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik. Penyakit yang harus dikelola dalam jangka panjang juga dapat memengaruhi kondisi psikologis, termasuk meningkatkan risiko kecemasan dan depresi. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi rasa percaya diri, hubungan sosial, hingga aktivitas dan rencana masa depan seseorang.

Ada sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko diabetes pada generasi muda. Faktor tersebut tidak hanya berasal dari pola makan dan aktivitas sehari-hari, tetapi juga dapat berkaitan dengan kondisi kesehatan sejak masa kanak-kanak, berat badan, serta riwayat diabetes dalam keluarga.

Artinya, diabetes tidak hanya berkaitan dengan konsumsi gula, tetapi merupakan kondisi yang dipengaruhi berbagai faktor.

Faktor Risiko Diabetes pada Generasi Muda

Malnutrisi sejak kecil

Masalah gizi yang terjadi sejak masa awal kehidupan dapat memengaruhi pertumbuhan dan metabolisme tubuh. Asupan nutrisi yang tidak mencukupi atau tidak seimbang dapat mengganggu kemampuan tubuh dalam mengatur kadar gula darah.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan metabolisme yang berkaitan dengan diabetes.

Pola makan tidak seimbang

Kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman tinggi gula, makanan olahan, serta makanan rendah serat dapat meningkatkan risiko diabetes. Asupan gula yang berlebihan dapat membuat kadar gula darah lebih mudah meningkat.

Jika kebiasaan tersebut terus berlangsung tanpa diimbangi pola makan bergizi dan aktivitas fisik yang cukup, risiko gangguan metabolisme dapat semakin besar.

Minim aktivitas fisik

Kurangnya aktivitas fisik menjadi salah satu persoalan dalam gaya hidup modern. Anak dan remaja yang terlalu banyak menghabiskan waktu dengan gawai cenderung memiliki lebih sedikit kesempatan untuk bergerak dan berolahraga.

Padahal, aktivitas fisik membantu tubuh menggunakan glukosa sebagai sumber energi sekaligus menjaga sensitivitas insulin.

Obesitas

Berat badan berlebih, terutama ketika terdapat penumpukan lemak di sekitar perut, dapat meningkatkan risiko resistensi insulin. Kondisi ini membuat tubuh tidak dapat menggunakan insulin secara optimal sehingga kadar gula darah lebih mudah meningkat.

Meski demikian, diabetes tidak hanya dapat dialami oleh orang dengan berat badan berlebih karena faktor risiko setiap orang dapat berbeda.

Faktor genetik

Riwayat diabetes dalam keluarga juga dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami penyakit tersebut. Risiko dapat menjadi lebih besar apabila orang tua atau anggota keluarga dekat memiliki riwayat diabetes.

Namun, faktor genetik bukan berarti seseorang pasti mengalami diabetes. Pola makan, aktivitas fisik, berat badan, dan gaya hidup tetap berperan dalam menentukan risiko.

Perubahan gaya hidup modern

Perkembangan teknologi membuat berbagai aktivitas menjadi lebih mudah, tetapi di sisi lain juga dapat mengurangi aktivitas fisik. Waktu yang lebih banyak dihabiskan untuk menggunakan gawai, pola makan praktis, kurang tidur, serta tekanan psikologis dapat membentuk kebiasaan yang kurang sehat.

Jika berlangsung terus-menerus, kombinasi berbagai faktor tersebut dapat meningkatkan risiko diabetes pada usia muda.

Gejala Diabetes pada Anak dan Remaja

Diabetes pada anak dan remaja dapat menunjukkan sejumlah gejala yang perlu diperhatikan orang tua maupun lingkungan sekitar.

Sering haus

Rasa haus yang muncul terus-menerus dan tidak biasa dapat menjadi salah satu tanda diabetes. Anak atau remaja mungkin merasa ingin minum lebih sering meskipun sebelumnya sudah mengonsumsi cukup cairan.

Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan tingginya kadar gula dalam darah.

Sering buang air kecil

Selain rasa haus yang meningkat, frekuensi buang air kecil juga dapat menjadi lebih sering. Kondisi ini bahkan dapat terjadi pada malam hari dan membuat waktu tidur terganggu.

Jika perubahan tersebut berlangsung terus-menerus, orang tua perlu memperhatikannya dan mempertimbangkan pemeriksaan kesehatan.

Nafsu makan meningkat

Anak atau remaja yang mengalami diabetes dapat merasa lebih cepat lapar atau memiliki keinginan makan lebih sering dari biasanya.

Hal ini dapat terjadi ketika tubuh tidak menggunakan glukosa secara optimal sebagai sumber energi sehingga tubuh seolah membutuhkan asupan energi tambahan.

Berat badan menurun tanpa sebab jelas

Penurunan berat badan yang terjadi tanpa perubahan pola makan atau aktivitas yang disengaja juga perlu diperhatikan.

Pada kondisi diabetes, tubuh dapat menggunakan cadangan energi lain ketika glukosa tidak dapat dimanfaatkan dengan baik. Akibatnya, berat badan dapat mengalami penurunan meskipun nafsu makan tetap tinggi.

Penglihatan menjadi kabur

Kadar gula darah yang tinggi dapat memengaruhi keseimbangan cairan dan bentuk lensa mata sehingga penglihatan menjadi buram. Keluhan ini dapat muncul sementara maupun berulang.

Jika penglihatan tiba-tiba berubah atau sering kabur, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.

Luka sulit sembuh

Luka yang membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih juga perlu diperhatikan, terutama apabila terjadi berulang. Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat mengganggu proses penyembuhan dan meningkatkan risiko infeksi.

Sering merasa lemas

Rasa lelah atau lemas yang muncul terus-menerus juga dapat menyertai diabetes. Ketika tubuh tidak dapat memanfaatkan glukosa dengan baik sebagai sumber energi, seseorang dapat merasa kurang bertenaga meskipun sudah beristirahat atau makan.

Jika keluhan berlangsung terus-menerus dan disertai gejala lain, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan perlu dilakukan.

Peran Keluarga dan Sekolah

Pencegahan diabetes pada generasi muda membutuhkan dukungan dari lingkungan terdekat. Pemerintah terus mendorong masyarakat menerapkan pola hidup sehat melalui berbagai program, salah satunya Gerakan Masyarakat Hidup Sehat atau GERMAS.

Upaya pengendalian konsumsi gula juga perlu dilakukan melalui kebiasaan makan yang lebih sehat serta peningkatan kesadaran masyarakat mengenai dampak konsumsi makanan dan minuman tinggi gula.

Sekolah dapat ikut berperan dengan memberikan edukasi kesehatan sekaligus menyediakan lingkungan yang mendukung aktivitas fisik. Kegiatan olahraga dan kebiasaan membawa makanan yang lebih bergizi dapat menjadi bagian dari upaya tersebut.

Di sisi lain, generasi muda perlu memiliki kesadaran untuk mengenali faktor risiko diabetes dan mulai menjaga kesehatan melalui kebiasaan sehari-hari.

Pemeriksaan kadar gula darah secara berkala juga penting, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko. Kebiasaan sehat yang dibangun sejak dini diharapkan dapat membantu menekan risiko diabetes sekaligus mencegah munculnya komplikasi kesehatan di kemudian hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....