Flash Sale dan FOMO Dorong Generasi Muda Lebih Rentan Belanja Impulsif
- 07 Agt 2026 10:46 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Perkembangan platform belanja digital dengan berbagai strategi seperti flash sale, diskon terbatas, hingga notifikasi stok hampir habis dinilai dapat memengaruhi keputusan masyarakat dalam membeli barang secara spontan. Psikolog menyebut strategi pemasaran tersebut bekerja dengan memanfaatkan respons psikologis konsumen, terutama ketika kontrol diri belum terbentuk dengan baik.
Psikolog Anang Arief Abdillah dalam obrolan Tonight Corner Health Pro 2 RRI Samarinda menjelaskan, strategi pemasaran digital saat ini memang dirancang dengan mempertimbangkan perilaku dan pola pikir masyarakat. Menurutnya, berbagai teknik seperti diskon besar, promosi terbatas, hingga ajakan membeli saat siaran langsung dapat memengaruhi keputusan seseorang.
“Teman-teman marketing sendiri pasti belajar terkait dengan psikologi, terutama psikologi bagaimana mengenal market, mengenal masyarakat, bagaimana masyarakat bertindak, bahkan mengenal pola apa yang biasa dilakukan oleh masyarakat,” ujarnya dikutip Jumat, 7 Agustus 2026.
Ia mengatakan, masyarakat Indonesia yang cukup konsumtif menjadi salah satu kelompok yang mudah terdorong oleh strategi pemasaran tersebut. Bahkan, barang yang sebenarnya tidak menjadi kebutuhan tetap bisa dibeli ketika dikemas dengan promosi tertentu.
“Saat ada flash sale, saat ada suatu diskon, walaupun kita tahu barang itu sebenarnya harganya sudah dinaikkan, tapi dikasih diskon. Itu memang sangat-sangat bermain secara psikologis, berpengaruh terhadap psikologis,” katanya.
Anggota IPK HIMPSI Kalimantan Timur ini mengatakan, kelompok yang paling rentan mengalami perilaku belanja impulsif adalah remaja akhir hingga dewasa awal. Pada fase tersebut, seseorang masih berada dalam proses belajar mengatur keuangan, mengendalikan emosi, serta menentukan prioritas antara kebutuhan dan keinginan.
“Karena sasaran empuknya adalah teman-teman remaja akhir sampai dewasa awal, di mana teman-teman tersebut mungkin sudah ada yang bekerja atau uang jajannya lebih dari cukup, sehingga itu bisa digunakan untuk berbelanja dan mengarahkannya ke hal-hal kesenangan instan,” katanya.
Dosen Psikologi Unmul ini juga menambahkan, kemampuan mengendalikan diri menjadi faktor penting agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh dorongan belanja akibat flash sale maupun rasa takut tertinggal atau Fear of Missing Out (FOMO). Ia mengingatkan, keputusan membeli sebaiknya tetap didasarkan pada kebutuhan, bukan hanya dorongan sesaat akibat strategi pemasaran digital.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....