Fenomena Self-Diagnosis di Media Sosial Ancam Kesehatan Mental Generasi Muda

  • 24 Agt 2026 22:15 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Maraknya penyebaran informasi kesehatan mental di media sosial berpotensi memicu fenomena self-diagnosis di kalangan anak muda. Hal tersebut disampaikan oleh dokter umum RSJD Atma Husada Mahakam Kalimantan Timur, Gerit, dalam program Dokter Etam yang disiarkan di kanal YouTube RRI Samarinda, pada Kamis 6 Agustus 2026.

Meski literasi digital mengenai kesehatan mental membaik, tindakan mendiagnosis diri sendiri tanpa bantuan tenaga medis profesional justru dapat memicu manifes gangguan psikologis yang lebih berat.

"Ada baiknya orang jadi lebih melek terkait permasalahan mental health, cuma sisi tidak baiknya adalah orang jadinya self-diagnosis dan dia akan mengikuti apa yang dia baca," ujar Gerit.

Ia menambahkan, pola pikir manusia memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap kondisi fisik dan psikologisnya. Ketika seseorang terlalu mendalami gejala minor yang dibaca di internet, pemikiran tersebut dapat berujung pada manifestasi nyata dalam tubuh.

"Lama-lama itu dipikirin sama dia, jadi dimanifestasi sendiri, akhirnya beneran muncul gejala itu. Sebegitu kuatnya pemikiran kita terhadap tubuh kita sendiri," katanya menambahkan.

Fenomena ini juga membuat sejumlah pasien bersikap resisten terhadap penanganan medis yang valid. Tak jarang pasien justru mempertahankan asumsi awal mereka dibandingkan mendengarkan analisis obyektif dari dokter.

"Terkadang yang susah itu karena sudah self-diagnosis dan dia yakin banget sama diagnosisnya ini. Nah, itu yang agak susah untuk diberitahu lagi," ucap Gerit.

Guna mengatasi ancaman patologis akibat kecemasan berlebih, masyarakat diimbau untuk tidak ragu berkonsultasi langsung dengan psikiater atau psikolog daripada terjebak dalam generalisasi informasi digital.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....