Dokter: Tak Tercium Bau Asap Bukan Berarti Udara Aman

  • 14 Sep 2026 16:29 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda — Masyarakat diminta tidak menjadikan bau asap sebagai satu-satunya indikator untuk menentukan kualitas udara aman. Partikel berukuran sangat kecil maupun sejumlah gas berbahaya dapat berada di udara tanpa terdeteksi oleh penciuman manusia.

Dokter Spesialis Paru RS Hermina Samarinda, dr. Parluhutan Doli S., dalam obrolan Tonight Corner Health Pro 2 RRI Samarinda mengatakan, kondisi udara yang tidak berbau bukan berarti terbebas dari zat berbahaya. Hal tersebut perlu menjadi perhatian masyarakat di tengah paparan asap akibat kebakaran hutan dan lahan.

“Nah, itu mitos itu,” katanya, dikutip Senin, 14 September 2026.

Ia menjelaskan, terdapat partikel berukuran sangat kecil yang tidak terlihat oleh mata. Partikel tersebut tetap dapat terhirup dan masuk ke saluran pernapasan meskipun masyarakat tidak mencium bau asap.

“Karena enggak, belum kalau misalnya enggak tercium bau apa pun itu belum ada jaminan kalau itu udaranya bersih,” ujarnya.

Menurut dr. Parluhutan, selain partikel berukuran kecil, terdapat pula sejumlah gas yang tidak memiliki bau tetapi dapat membahayakan kesehatan. Salah satunya adalah karbon monoksida atau CO.

“Karena ada beberapa partikel tadi saya bilang, ada beberapa partikel yang memang di bawah 0,1 itu kan kelihatan enggak kelihatan sama mata ya. Yang kedua, ada beberapa gas yang tidak berbau. Misalnya apa kayak CO, gas CO itu kan enggak berbau,” katanya.

Ia mencontohkan bahaya gas yang tidak berbau tersebut melalui kasus keracunan karbon monoksida. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penciuman tidak dapat dijadikan patokan untuk memastikan udara terbebas dari zat berbahaya.

“Makanya pada kasus-kasus misalnya keracunan CO kan banyakan apa itu, misalnya pada waktu dia istirahat di mobil pakai AC itu kan enggak berbau tuh, hati-hati,” katanya.

dr. Parluhutan menegaskan, masyarakat tetap perlu mewaspadai paparan asap meskipun secara kasatmata maupun penciuman tidak menemukan tanda-tanda polusi. Terlebih, partikel berukuran sangat kecil dapat masuk ke saluran pernapasan dan menimbulkan gangguan kesehatan.

“Jadi ada beberapa gas yang tidak berbau tapi berbahaya itu,” ujarnya.

Ia mengimbau masyarakat tetap mengurangi paparan asap dan menggunakan masker yang sesuai ketika harus beraktivitas di luar ruangan. Kewaspadaan tersebut penting dilakukan, terutama oleh kelompok rentan seperti penderita asma, balita, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki faktor risiko gangguan pernapasan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....