Lima Nutrisi yang Dapat Mendukung Tubuh Menghadapi Paparan Polusi Udara

  • 01 Sep 2026 13:44 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Kualitas udara menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan, terutama ketika tingkat polusi meningkat akibat aktivitas kendaraan maupun kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah.

Melansir studi yang dipublikasikan dalam Respiratory Research, paparan polusi udara yang mengandung partikel halus seperti PM2.5 dapat berdampak pada sistem pernapasan. Partikel tersebut berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk hingga ke bagian dalam saluran pernapasan. Kondisi ini dapat memicu berbagai reaksi biologis dalam tubuh, termasuk stres oksidatif dan peradangan.

Ketika tubuh terus-menerus terpapar polutan, molekul reaktif dapat terbentuk dalam jumlah lebih tinggi. Jika tidak diimbangi dengan sistem perlindungan tubuh, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan kerusakan pada sel.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mendukung kesehatan tubuh di tengah paparan polusi adalah menjaga pola makan dengan mengonsumsi makanan bergizi. Asupan yang mengandung antioksidan dapat menjadi salah satu pilihan karena senyawa tersebut membantu tubuh menghadapi dampak molekul reaktif.

Sejumlah vitamin dan senyawa alami dapat diperoleh dari makanan yang mudah dijumpai sehari-hari. Berikut beberapa jenis nutrisi yang dapat menjadi bagian dari pola makan seimbang ketika kualitas udara memburuk.

1. Vitamin C

Vitamin C dikenal sebagai salah satu nutrisi yang memiliki sifat antioksidan. Selain membantu melindungi sel dari paparan molekul reaktif, vitamin ini juga berperan dalam mendukung fungsi sistem pertahanan tubuh.

Berbagai makanan dapat menjadi sumber vitamin C, di antaranya jeruk, jambu biji, kiwi, stroberi, pepaya, paprika, brokoli, dan tomat.

2. Vitamin E

Selain vitamin C, tubuh juga membutuhkan vitamin E yang termasuk dalam kelompok senyawa larut lemak dan memiliki aktivitas antioksidan.

Vitamin E dapat diperoleh dari berbagai bahan pangan, seperti kacang almond, biji bunga matahari, kacang-kacangan, minyak nabati, alpukat, serta sayuran berdaun hijau.

Nutrisi ini juga menjadi perhatian dalam berbagai penelitian mengenai hubungan antara pola makan dan paparan polusi udara.

3. Karotenoid dan Likopen

Karotenoid merupakan pigmen alami yang terdapat pada berbagai jenis tumbuhan. Beberapa kelompok karotenoid memiliki aktivitas antioksidan dan umumnya dapat dikenali dari warna khas pada bahan makanan.

Beta-karoten, misalnya, banyak terdapat dalam wortel, ubi jalar, dan labu. Sementara itu, likopen dapat ditemukan dalam tomat dan semangka.

Jenis karotenoid lainnya, seperti lutein dan zeaksantin, dapat diperoleh dari bayam dan berbagai sayuran hijau. Sejumlah penelitian telah mengkaji potensi senyawa tersebut dalam membantu tubuh menghadapi dampak paparan polusi, meskipun penelitian mengenai manfaatnya masih terus berkembang.

4. Polifenol dan Flavonoid

Polifenol dan flavonoid merupakan kelompok senyawa yang banyak terdapat dalam makanan dan minuman sehari-hari. Keduanya dapat ditemukan pada buah, sayuran, teh, kakao, kopi, kacang-kacangan, hingga berbagai rempah.

Senyawa tersebut menarik perhatian karena memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi. Kandungan ini berpotensi mendukung mekanisme pertahanan tubuh terhadap berbagai proses biologis yang muncul akibat paparan lingkungan.

5. Sulforafana

Sulforafana bukan termasuk vitamin, melainkan senyawa yang banyak ditemukan dalam kelompok sayuran cruciferous. Brokoli dan kecambah brokoli (broccoli sprouts) merupakan salah satu sumber yang dikenal memiliki kandungan senyawa tersebut.

Sulforafana diketahui dapat berperan dalam memengaruhi sistem pertahanan antioksidan yang terdapat di dalam sel. Oleh karena itu, senyawa ini juga terus dipelajari untuk mengetahui potensinya dalam membantu respons tubuh terhadap berbagai paparan lingkungan.

Mengonsumsi makanan yang kaya vitamin, mineral, dan senyawa antioksidan dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan. Namun, pola makan bergizi tidak berarti dapat sepenuhnya menghilangkan dampak polusi udara.

Saat kualitas udara memburuk, masyarakat tetap perlu mengurangi paparan polutan dengan mengikuti informasi mengenai kualitas udara, membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi tidak sehat, serta menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai jika diperlukan.

Dengan demikian, menjaga pola makan bergizi dapat menjadi salah satu bagian dari upaya menjaga kesehatan di tengah kondisi kualitas udara yang kurang baik. Namun, langkah tersebut tetap perlu disertai dengan upaya mengurangi paparan polusi secara langsung.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....