Masyarakat Diminta Hati-hati, Perilaku Sehari-hari Rentan Sebabkan Hepatitis
- 24 Agt 2026 15:41 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap hepatitis karena penularannya dapat berkaitan dengan sejumlah aktivitas sehari-hari. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Hepatitis merupakan peradangan pada hati yang dapat disebabkan oleh virus maupun faktor noninfeksi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat terdapat lima virus utama penyebab hepatitis, yakni hepatitis A, B, C, D, dan E.
Meski sama-sama menyerang hati, setiap jenis hepatitis memiliki cara penularan yang berbeda. Hepatitis A dan E umumnya menyebar melalui makanan atau air yang terkontaminasi, sedangkan hepatitis B, C, dan D lebih berkaitan dengan paparan darah atau cairan tubuh yang terinfeksi. Perbedaan ini membuat langkah pencegahannya juga tidak dapat disamaratakan.
Kebersihan Tangan dan Makanan Jadi Perhatian
Salah satu kebiasaan yang perlu diperhatikan adalah menjaga kebersihan tangan, terutama sebelum makan dan saat menyiapkan makanan. WHO menjelaskan, hepatitis A terutama menular melalui konsumsi makanan atau air yang telah tercemar. Penularan juga dapat terjadi ketika orang yang terinfeksi tidak menjaga kebersihan tangan setelah menggunakan toilet dan kemudian menyiapkan makanan untuk orang lain.
Karena itu, kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan dengan sabun, memastikan air yang dikonsumsi aman, serta menjaga kebersihan makanan dan peralatan makan menjadi bagian penting dalam mencegah hepatitis A. Sanitasi yang baik juga berperan dalam memutus rantai penularan penyakit yang berkaitan dengan kontaminasi makanan dan air.
Jangan Sembarangan Berbagi Jarum dan Alat Pribadi
Pada hepatitis B dan C, masyarakat perlu lebih waspada terhadap aktivitas yang berpotensi menyebabkan kontak dengan darah. Penggunaan jarum suntik secara bergantian, peralatan medis yang tidak steril, serta transfusi darah yang tidak melalui prosedur penyaringan dapat menjadi jalur penularan. WHO juga menyebut penggunaan alat yang tidak steril dalam prosedur invasif sebagai salah satu faktor risiko.
Aktivitas seperti membuat tato, tindik, atau perawatan kecantikan yang menggunakan alat yang menembus kulit juga perlu dilakukan di tempat yang menerapkan standar kebersihan dan sterilisasi. Peralatan yang terkontaminasi darah dapat menjadi media penularan hepatitis B maupun C apabila tidak ditangani dengan benar.
Hepatitis B Juga Berkaitan dengan Penularan Seksual
Hepatitis B dapat ditularkan melalui paparan darah dan cairan tubuh yang terinfeksi. Selain penularan dari ibu kepada bayi saat persalinan, virus ini juga dapat menular melalui hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi. Oleh sebab itu, perilaku seksual yang aman menjadi salah satu bagian dari pencegahan hepatitis B.
Penularan dari ibu kepada anak juga menjadi perhatian penting. WHO menyebut infeksi hepatitis B yang diperoleh saat lahir atau pada masa kanak-kanak memiliki risiko tinggi berkembang menjadi infeksi kronis. Pemberian vaksin hepatitis B kepada bayi sesegera mungkin setelah lahir merupakan salah satu intervensi utama untuk mencegah penularan tersebut.
Kenali Gejala dan Jangan Menunda Pemeriksaan
Dikutip dari laman ayosehat.kemkes.go.id, Senin 24 Agustus 2026, hepatitis tidak selalu langsung menunjukkan gejala sehingga seseorang dapat terinfeksi tanpa menyadarinya. Ketika gejala muncul, beberapa tanda yang dapat terjadi antara lain mual, muntah, kelelahan, kehilangan nafsu makan, nyeri perut, urine berwarna gelap, tinja berwarna pucat, serta kulit dan bagian putih mata menguning.
Kementerian Kesehatan RI terus mendorong masyarakat melakukan pencegahan dan deteksi dini hepatitis. Pemeriksaan menjadi penting terutama bagi masyarakat yang memiliki faktor risiko atau pernah mengalami kondisi yang berpotensi menyebabkan paparan virus. Deteksi lebih awal dapat membantu seseorang memperoleh penanganan yang sesuai dan mencegah komplikasi penyakit hati.
Vaksinasi Menjadi Salah Satu Upaya Pencegahan
Vaksinasi merupakan langkah penting dalam mencegah hepatitis B. WHO merekomendasikan vaksin hepatitis B diberikan kepada bayi sesegera mungkin setelah lahir, idealnya dalam 24 jam pertama, kemudian dilanjutkan dengan rangkaian imunisasi berikutnya. Vaksinasi bayi menjadi strategi penting untuk mencegah penularan dari ibu ke anak dan infeksi pada masa kanak-kanak.
WHO dalam panduan terbaru yang diterbitkan pada 2026 juga menempatkan vaksinasi dosis lahir hepatitis B, pencegahan penularan dari ibu ke anak, keamanan darah dan suntikan, serta pemeriksaan sebagai bagian penting dalam upaya eliminasi hepatitis B dan C.
Dengan demikian, masyarakat tidak perlu menunggu hingga muncul gejala untuk mulai peduli terhadap hepatitis. Menjaga kebersihan tangan dan makanan, menggunakan peralatan medis yang steril, tidak berbagi jarum, menerapkan perilaku seksual yang aman, mengikuti vaksinasi, serta melakukan pemeriksaan bila memiliki faktor risiko merupakan langkah yang dapat dilakukan untuk melindungi diri dan keluarga.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....