Tablet Tambah Darah Remaja Putri Jadi Investasi Jangka Panjang Cegah Stunting
- 22 Agt 2026 06:59 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Program pencegahan stunting tidak hanya menyasar bayi dan balita, tetapi perlu dimulai jauh sebelum seorang perempuan memasuki masa kehamilan. Remaja putri menjadi salah satu kelompok penting dalam upaya tersebut karena berada pada fase pertumbuhan sekaligus mengalami menstruasi yang menyebabkan kehilangan zat besi secara berkala.
Kondisi itu membuat remaja putri lebih rentan mengalami anemia. Kekurangan hemoglobin dalam darah tidak hanya dapat memengaruhi kondisi fisik, tetapi juga berpotensi mengganggu konsentrasi belajar dan aktivitas sehari-hari. Karena itu, pemberian tablet tambah darah (TTD) menjadi salah satu intervensi yang dilakukan untuk mencegah anemia sejak usia remaja.
Nutrisionis Puskesmas Sambutan, Muhammad Syafrin Alnizam Banggo, AMG, melalui Program Acara Indonesia Sehat Pro 1 RRI Samarinda menjelaskan bahwa intervensi pada remaja merupakan bagian dari pendekatan kesehatan berdasarkan siklus kehidupan. Menurutnya, pencegahan stunting perlu dilakukan sejak seseorang masih berada pada fase remaja sebelum memasuki masa sebagai calon pengantin dan kemudian menjadi ibu.
“Pencegahan jangan sampai terjadi stunting ini diawali dari remaja. Jadi dari Kementerian Kesehatan memberikan program untuk mencegah hal itu terjadi dengan melakukan intervensi pada kelompok remaja, khususnya remaja putri,” ujar Syafrin.
Pemberian TTD secara rutin diharapkan dapat membantu menjaga kadar hemoglobin sekaligus mempersiapkan remaja putri agar memiliki kondisi gizi yang lebih baik ketika memasuki usia reproduktif. Dalam program pencegahan, remaja putri yang tidak mengalami anemia tetap mendapatkan TTD sebanyak satu tablet setiap pekan sebagai upaya mencegah terjadinya anemia.
Manfaat TTD tidak berhenti pada pencegahan anemia. Meningkatnya kadar hemoglobin membantu distribusi oksigen dalam tubuh sehingga dapat mendukung konsentrasi belajar. Sebaliknya, anemia dapat menimbulkan keluhan seperti lemah, letih, lesu dan mudah mengantuk yang berpotensi mengganggu aktivitas remaja.
Di wilayah kerja Puskesmas Sambutan, pemberian TTD menyasar remaja putri mulai kelas 7 SMP hingga kelas 12 SMA. Puskesmas bekerja sama dengan guru Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) untuk mendistribusikan TTD kepada siswi. Pada sejumlah sekolah, konsumsi tablet dilakukan secara bersama-sama setelah sarapan pada hari Jumat, sementara sebagian lainnya membawa tablet untuk dikonsumsi di rumah dengan pemantauan guru dan orang tua.
Program tersebut juga dilengkapi dengan skrining anemia. Remaja putri yang memiliki kadar hemoglobin di bawah batas normal mendapatkan penanganan sesuai tingkat anemia. Sementara siswi dengan anemia berat perlu dirujuk ke puskesmas untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut guna mengetahui penyebab kondisi tersebut.
Syafrin menyebut tantangan dalam pelaksanaan program bukan hanya memastikan TTD tersedia, tetapi juga memastikan tablet benar-benar dikonsumsi secara rutin. Salah satu keluhan yang masih ditemukan adalah rasa atau after taste seperti besi setelah mengonsumsi tablet. Karena itu, edukasi mengenai anemia dan manfaat TTD terus dilakukan agar remaja memahami alasan pentingnya mengonsumsi suplemen tersebut.
“Kami dari Puskesmas Sambutan selalu melakukan penyuluhan anemia tentang bagaimana pentingnya tablet tambah darah, apa itu anemia dan bahaya anemia. Sehingga kalau informasi tentang anemia ini sampai ke remaja putrinya, mereka punya kesadaran lebih untuk disiplin minum tablet tambah darah,” kata Syafrin.
Pada 2025, Puskesmas Sambutan mencatat pemberian TTD telah mencakup 1.025 remaja putri berdasarkan data sasaran yang dihimpun melalui sekolah. Selain program di sekolah, keberadaan posyandu remaja juga dimanfaatkan sebagai ruang edukasi, skrining, dan pembentukan kebiasaan hidup sehat bagi remaja.
Upaya pencegahan stunting melalui remaja putri merupakan bagian dari rangkaian intervensi yang lebih luas dan berkelanjutan. Ketika remaja kelak menjadi calon pengantin dan ibu, kondisi gizi yang baik akan menjadi modal penting selama kehamilan. Pencegahan anemia, pemenuhan gizi seimbang, pemantauan kesehatan, serta pendampingan sejak remaja diharapkan dapat menekan berbagai faktor risiko yang berkontribusi terhadap stunting.
Karena itu, tablet tambah darah tidak sekadar dipandang sebagai suplemen untuk mencegah anemia, tetapi sebagai salah satu investasi kesehatan jangka panjang. Dengan dukungan sekolah, keluarga, tenaga kesehatan, dan kesadaran remaja itu sendiri, upaya mempersiapkan generasi sehat dapat dimulai sejak masa remaja, jauh sebelum seorang perempuan mengandung dan melahirkan anak.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....