Dokter Ungkap Penyakit Jantung Kini Banyak Menyerang Anak Muda

  • 06 Jun 2026 22:16 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda- Penyakit jantung yang selama ini identik dengan kelompok usia lanjut kini semakin banyak ditemukan pada kalangan muda. Perubahan pola hidup, kurangnya aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, hingga kebiasaan merokok menjadi faktor yang mendorong meningkatnya kasus penyakit kardiovaskular pada usia produktif.

Fenomena tersebut diungkapkan dokter spesialis jantung dr. Dedy Pratama saat menjadi narasumber dalam Seminar dan Workshop TBM Azygos Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman bertema PULSE: Preparing Urgent Life Support Education di Samarinda, Sabtu, 6 Juni 2026. Kegiatan tersebut mengangkat tema Bantuan Hidup Dasar dan Strategi Pencegahan Penyakit Kardiovaskular.

Menurut Dedy, masyarakat masih banyak yang menganggap penyakit jantung hanya menyerang orang tua. Padahal, kenyataan di lapangan menunjukkan tren yang berbeda. Kasus penyakit jantung kini mulai banyak ditemukan pada remaja hingga usia dewasa muda.

“Kalau bicara tentang jantung, sekarang bukan lagi penyakit orang tua. Teman SMA saya ada yang sakit jantung, teman kuliah juga ada, pasien usia muda juga banyak. Bahkan pada anak-anak terdapat penyakit jantung bawaan,” ujarnya.

Ia menjelaskan penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia. Setiap tahun jutaan orang meninggal akibat gangguan jantung dan pembuluh darah, menjadikan penyakit tersebut sebagai ancaman kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius dari seluruh lapisan masyarakat.

Menurut Dedy, meningkatnya kasus penyakit jantung pada usia produktif tidak terlepas dari perubahan pola hidup masyarakat modern. Aktivitas fisik yang semakin berkurang, konsumsi makanan tinggi lemak dan gula, serta meningkatnya angka obesitas menjadi faktor risiko yang terus berkembang.

Ia mencontohkan kemudahan teknologi saat ini membuat banyak aktivitas dapat dilakukan hanya melalui telepon genggam. Di satu sisi memberikan kemudahan, namun di sisi lain membuat masyarakat semakin jarang bergerak sehingga berdampak pada kesehatan tubuh, termasuk kesehatan jantung.

Selain itu, hipertensi atau tekanan darah tinggi masih menjadi faktor risiko utama yang sering tidak disadari masyarakat. Dedy menyebut banyak orang merasa sehat sehingga enggan melakukan pemeriksaan rutin, padahal hipertensi kerap muncul tanpa gejala dan baru diketahui setelah memicu komplikasi.

“Kita harus mulai membiasakan mengukur tekanan darah secara berkala. Jangan hanya memeriksa orang lain, tetapi juga memeriksa diri sendiri dan keluarga,” katanya.

Ancaman lain yang juga menjadi perhatian adalah meningkatnya kasus prediabetes pada usia muda. Dalam praktiknya, Dedy mengaku tidak sedikit menemukan pasien berusia 20-an tahun yang telah menunjukkan kadar gula darah tinggi akibat pola konsumsi yang kurang sehat.

Tidak hanya itu, kebiasaan merokok maupun penggunaan rokok elektronik atau vape juga disebut berkontribusi terhadap meningkatnya risiko penyakit jantung. Menurutnya, anggapan bahwa vape lebih aman dibandingkan rokok konvensional merupakan persepsi yang perlu diluruskan karena keduanya tetap membawa dampak buruk bagi kesehatan.

Dedy menegaskan sebagian besar faktor risiko penyakit jantung sebenarnya dapat dicegah. Dengan menjaga tekanan darah tetap normal, mengendalikan gula darah, menghindari rokok, menjaga berat badan ideal, serta rutin berolahraga, risiko penyakit kardiovaskular dapat ditekan sejak usia muda.

“Faktor keturunan memang tidak bisa diubah, tetapi faktor risiko yang dapat dimodifikasi masih bisa kita kendalikan. Karena itu pencegahan harus dimulai sejak sekarang,” ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....