Perbedaan Pola Pikir Milenial dan Gen Z Dipengaruhi Perubahan Zaman dan Teknologi
- 20 Agt 2026 12:54 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda — Ramai di media sosial ungkapan yang membandingkan prinsip generasi milenial dan Generasi Z dalam menghadapi kehidupan. Generasi milenial disebut memiliki prinsip, “Kalau orang lain bisa, saya juga bisa,” sementara Generasi Z digambarkan dengan prinsip, “Kalau orang lain bisa, kenapa harus saya?”
Ungkapan tersebut kemudian memunculkan perbincangan mengenai apakah perbedaan cara pandang itu benar-benar dipengaruhi karakter generasi atau justru merupakan pola pikir yang dapat dimiliki siapa saja.
Ketua Ikatan Psikolog Klinis (IPK) HIMPSI Kalimantan Timur, Ayunda Ramadhani dalam obrolan Tonight Corner Health Pro 2 RRI Samarinda mengatakan, karakteristik generasi memang dapat memengaruhi cara seseorang menghadapi tantangan dan tuntutan dalam kehidupan.
Ia menjelaskan, generasi milenial yang banyak dibesarkan oleh generasi baby boomer cenderung terbiasa dengan pola hidup yang menekankan kerja keras dan kemampuan bertahan dalam berbagai kondisi.
Pada masa tersebut, berbagai kemudahan teknologi seperti yang tersedia saat ini belum berkembang. Berbagai kebutuhan harus diperoleh melalui usaha secara langsung sehingga membentuk pola pikir untuk bekerja keras demi mendapatkan sesuatu.
“Kalau kita enggak bekerja keras, kita tertinggal,” ujarnya dikutip Kamis, 20 Agustus 2026.
Sementara itu, Generasi Z tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang memberikan berbagai kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi tersebut membuat mereka memiliki ruang lebih besar untuk mengembangkan kreativitas dan mempertimbangkan berbagai aspek sebelum mengambil keputusan.
Kesadaran Generasi Z terhadap kesehatan mental juga dinilai semakin terbuka. Mereka tidak hanya mempertimbangkan aspek finansial atau pencapaian dalam pekerjaan, tetapi juga dampak pekerjaan terhadap kondisi mental.
Ketika menghadapi tuntutan berlebih, Generasi Z cenderung mempertimbangkan apakah tuntutan tersebut sepadan dengan risiko yang harus ditanggung.
“Kalau anak sekarang bisa jadi menolak. Dia mempertimbangkan risikonya apa, kerja lembur apa risikonya, ada untungnya enggak untuk saya,” katanya.
Dosen Psikologi Universitas Mulawarman (UNMUL) ini berpendapat perbedaan tersebut tidak dapat langsung dianggap sebagai kelemahan atau kemunduran karakter suatu generasi. Pola pikir setiap generasi terbentuk dari kondisi sosial, teknologi, dan tantangan zaman yang mereka hadapi.
“Jadi sebenarnya karakteristik generasi sekarang seperti itu. Itu kan kemajuan peradaban yang saya rasa juga menjadi suatu hal yang tidak bisa kita nafikan begitu saja. Kita kan hidup sesuai masa, sesuai zaman,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....