Trauma Kolektif Kini Bisa Terbentuk Dari Media Sosial
- 14 Jun 2026 13:01 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda — Trauma kolektif selama ini identik dengan peristiwa besar seperti bencana alam, konflik, atau krisis yang dialami masyarakat secara langsung. Namun perkembangan media sosial menghadirkan pola baru, di mana rasa cemas, takut, dan terancam dapat muncul secara bersama-sama meski seseorang tidak berada di lokasi kejadian atau mengalami peristiwa tersebut secara nyata.
Anggota Himpunan Psikolog Indonesia Wilayah Kalimantan Timur (HIMPSI Kaltim), Anang Arief Abdulah, menilai trauma kolektif saat ini tidak lagi selalu berawal dari pengalaman langsung. Paparan informasi yang berulang melalui media sosial dapat membentuk persepsi dan emosi kelompok masyarakat hingga memunculkan respons psikologis yang serupa.
“Pengalaman tidak menyenangkan atau suatu situasi yang terjadi itu dihadirkannya bukan secara nyata, tapi lewat media sosial dan kita enggak bisa nebak algoritma media sosial kita seperti apa,” katanya dalam obrolan Tonight Corner Health Pro2 Samarinda, dikutip Minggu 14 Juni 2026.
Menurut dia, trauma kolektif merupakan kondisi ketika sekelompok orang merasakan ancaman terhadap eksistensi mereka, baik terkait keselamatan, kondisi ekonomi, maupun masa depan. Dalam ruang digital, ancaman tersebut dapat terbentuk melalui arus informasi yang terus menerus muncul dan dikonsumsi oleh pengguna media sosial.
Anang mencontohkan situasi serupa pernah terlihat saat pandemi Covid-19. Pada periode tersebut, hampir seluruh platform digital dipenuhi informasi terkait wabah, angka kematian, hingga berbagai prediksi yang memicu kecemasan masyarakat secara luas.
“Contoh kapan? Waktu Covid kemarin itu kan algoritmanya semuanya tentang Covid, berita di mana-mana. Akhirnya itu jadi salah satu contoh trauma kolektif yang terjadi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, algoritma media sosial memiliki peran besar dalam membentuk cara pandang pengguna terhadap suatu isu. Seseorang yang terus menerima paparan informasi serupa berpotensi ikut merasakan emosi yang berkembang di lingkungan digital, meski sebelumnya tidak memiliki kekhawatiran terhadap isu tersebut atau bahkan tidak ikut terpapar penyakit tersebut secara nyata.
“Orang yang pengguna media sosial itu bukan dia yang menentukan apa yang ingin dia lihat, tapi kebanyakan adalah media sosial, algoritma itu yang membentuk suatu perilaku dan cara berpikir seseorang,” katanya.
Anang mengingatkan masyarakat untuk lebih sadar terhadap pola konsumsi informasi di media sosial, memeriksa kebenaran informasi yang diterima, serta membatasi paparan konten yang memicu kecemasan agar tidak mudah terjebak dalam trauma kolektif yang terbentuk di ruang digital.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....