Memahami Emosi, Keyakinan, dan Harga Diri

  • 09 Jul 2026 13:35 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Banyak orang pernah mengalami kondisi ketika pikiran mengatakan bahwa dirinya berharga, tetapi perasaan justru berkata sebaliknya. Seseorang dapat memahami bahwa dirinya pantas dicintai dan dihargai, tetapi tetap merasa takut ditinggalkan atau merasa tidak cukup baik. Fenomena ini menunjukkan, pengetahuan dan perasaan tidak selalu berjalan beriringan.

Hal itu disampaikan psikiater dari wellsping Indonesia, Jiemi Ardian, di kanal youtubenya dalam pembahasan mengenai trauma dan kesehatan mental. Ia menjelaskan, manusia bukan hanya makhluk yang berpikir secara logis, tetapi juga dipengaruhi oleh emosi.

Pemahaman tentang kesehatan mental membantu seseorang menyadari bahwa apa yang dirasakan belum tentu menggambarkan kenyataan sebenarnya. “Kita adalah makhluk emosional yang berpikir. Kita bukan makhluk rasional yang merasa,” ujar Jiemi, dikutip Kamis 9 Juli 2026.

Pernyataan tersebut menggambarkan keputusan manusia sering kali dipengaruhi oleh pengalaman dan perasaan yang tersimpan dalam diri. Salah satu contoh yang sering terjadi adalah ketika seseorang merasa dirinya tidak berharga karena pernah ditolak, ditinggalkan, atau tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup.

Padahal, sebuah kejadian tidak selalu memiliki makna seperti yang langsung disimpulkan oleh pikiran. “Keluarga tidak menginginkan seseorang bukan berarti orang tersebut tidak berharga,” kata Jiemi. Menurutnya, manusia sering kali menghubungkan dua hal yang sebenarnya tidak memiliki hubungan langsung.

Otak manusia memang memiliki kecenderungan untuk menciptakan cerita dari sebuah pengalaman. Ketika seseorang mengalami perceraian, misalnya, fakta yang terjadi hanyalah hubungan tersebut berakhir. Namun, sebagian orang menambahkan kesimpulan bahwa dirinya gagal, tidak pantas dicintai, atau tidak memiliki masa depan.

“Kita menambahkan lapisan-lapisan tambahan pada sesuatu yang awalnya tidak ada. Pola pikir seperti ini dapat membentuk keyakinan negatif yang akhirnya memengaruhi cara seseorang menjalani kehidupan,” ucapnya.

Perasaan juga memiliki pengaruh besar terhadap keyakinan seseorang. Ketika seseorang merasa dirinya buruk, tidak penting, atau tidak layak dicintai, perasaan tersebut dapat terasa seperti sebuah fakta. Padahal, perasaan tidak selalu sama dengan kenyataan.

“Hanya karena kita merasa sesuatu itu benar, bukan berarti sesuatu itu benar. Kesadaran ini penting agar seseorang mampu membedakan antara emosi yang muncul dengan realitas yang sebenarnya terjadi,” ujar Jiemi.

Banyak orang berusaha mengubah hidup hanya dengan mengubah cara berpikir. Namun, perubahan mendalam tidak selalu cukup dilakukan melalui logika. Pengalaman emosional, luka masa lalu, dan trauma juga perlu diproses agar seseorang dapat memiliki pandangan baru terhadap dirinya sendiri.

“Untuk mengubah apa yang kita percaya, tidak cukup hanya mengubah apa yang kita pikir. Kita juga perlu mengubah apa yang kita rasa,” katanya.

Pemahaman bahwa manusia dipengaruhi oleh emosi bukan berarti manusia tidak mampu berpikir secara rasional. Justru, dengan mengenali emosi, seseorang dapat mengambil keputusan yang lebih sehat. Keyakinan seperti “aku tidak berharga” atau “aku tidak pantas dicintai” dapat diperiksa kembali karena sering kali terbentuk dari pengalaman tertentu, bukan dari kebenaran mutlak.

Mengubah keyakinan negatif membutuhkan proses dan kesadaran. Seseorang dapat mulai dengan mengenali pola pikir yang merugikan, memahami sumber emosinya, serta mencari dukungan ketika merasa kesulitan. Dukungan dari orang terpercaya maupun bantuan profesional dapat membantu seseorang memproses pengalaman yang berat. Pada akhirnya, memahami hubungan antara pikiran, perasaan, dan keyakinan menjadi langkah penting untuk membangun kesehatan mental yang lebih baik.

Ia menyimpulkan, apa yang diketahui seseorang tentang dirinya belum tentu langsung mengubah apa yang dirasakannya. Perubahan membutuhkan proses untuk menyentuh bagian emosional yang membentuk keyakinan dalam diri. Dengan belajar memahami emosi, seseorang dapat membangun pandangan yang lebih sehat tentang dirinya dan menyadari bahwa sebuah pengalaman buruk tidak menentukan nilai dirinya sebagai manusia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....