Pola Asuh Terlalu Melindungi Bisa Membentuk Rasa Tidak Mampu pada Anak
- 20 Agt 2026 11:23 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda — Pola asuh orang tua menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi terbentuknya rasa tidak mampu atau inferioritas pada anak. Psikolog mengatakan, pola asuh yang terlalu melindungi, terlalu membebaskan, maupun terlalu keras dapat memengaruhi cara anak menghadapi kesulitan, kesalahan, hingga tanggung jawab.
Ketua IPK HIMPSI Kalimantan Timur, Ayunda Ramadhani, dalam obrolan Tonight Corner Health Pro 2 RRI Samarinda mengatakan, perilaku seseorang tidak terbentuk hanya dari satu faktor. Salah satunya adalah pola asuh yang diterima sejak masa kanak-kanak.
“Iya. Selalu dalam perspektif teori psikologi, kenapa seseorang berperilaku seperti itu tuh selalu dijelaskan dengan multifaktor, bukan single factor ya. Jadi salah satunya juga pola asuh orang tua ini adalah menjadi salah satu faktor kenapa seseorang bisa kemudian mengembangkan perasaan inferior sehingga perilakunya akhirnya menolak pekerjaan atau melimpahkan tanggung jawabnya pada orang lain,” ujarnya, dikutip Kamis 20 Agustus 2026.
Menurut Dosen Psikologi Universitas Mulawarman (UNMUL) tersebut, pola asuh yang terlalu protektif dapat membuat anak kehilangan kesempatan untuk belajar menghadapi kesulitan dan kesalahan secara mandiri.
“Pola asuh yang terbiasa membantu anak. Orang tua terlalu overprotected nih, Mbak. Apa-apa pokoknya orang tua harus cek-recek. Anak enggak bisa, anak yang kemudian misalnya kesulitan sama orang tua langsung di-take over tugasnya. Orang tua yang beresin,” katanya.
Kebiasaan orang tua mengambil alih persoalan anak juga dapat membuat anak tidak terbiasa bertanggung jawab terhadap tugasnya sendiri. Misalnya, ketika anak tidak mengerjakan pekerjaan rumah, orang tua justru mengambil alih pekerjaan tersebut.
| Baca juga: Memahami Emosi, Keyakinan, dan Harga Diri |
“Termasuk ketika ada masalah di sekolah, orang tua yang turun tangan. Anak enggak kerjain PR, orang tua yang ngerjain. Anak ketinggalan apa-apa di sekolah, orang tua nganterin. Ya, sebenarnya anak jadi tidak belajar bertanggung jawab,” ucapnya.
Ayunda menilai, pola asuh yang terlalu melindungi juga berisiko membuat anak tidak memiliki kesempatan untuk belajar dari kesalahan dan menghadapi ketidaknyamanan.
“Jadi pola asuh yang terlalu overprotektif yang apa-apa selalu overmelindungi, tidak ingin anak mengalami ketidaknyamanan, tidak ingin anak mengalami kesulitan sehingga orang tua mengambil alih seluruh kesulitan itu berisiko. Berisiko terhadap perilaku inferior seperti ini tadi. Perasaan tidak mampu. Karena anak kan tidak pernah punya kesempatan untuk belajar dari kesalahan,” ujarnya.
Selain pola asuh overprotektif, Ayunda menyebut pola asuh permisif sebagai faktor lain yang dapat memengaruhi perilaku anak. Dalam pola asuh tersebut, orang tua cenderung memberikan kebebasan tanpa batasan atau aturan yang jelas.
“Orang tua yang permisif, Mbak. Yang apa-apa boleh. Terserah. Kamu mau lakukan apa pun silakan. Enggak ada batasan aturan. Anak jadi belajar untuk seenaknya, kata Ayunda.
Menurutnya, ketiadaan batasan dapat membuat anak kesulitan memahami tanggung jawab dan batas perilaku terhadap orang lain.
“Anak jadi enggak punya batasan, enggak tahu mana yang boleh dilakukan, mana yang harus dilakukan, mana yang tidak boleh. Sehingga dia juga akhirnya belajar bahwa orang lain juga bisa saya perlakukan seperti itu,” katanya.
Sementara itu, pola asuh otoriter yang disertai bentakan, kekerasan, atau ancaman juga dapat berdampak pada keberanian anak untuk mencoba. Anak dapat menjadi takut melakukan kesalahan karena khawatir mendapatkan hukuman.
“Nah, kemudian orang tua yang otoriter juga nih, orang tua yang selalu menggunakan bentakan, kekerasan, ancaman misalnya gitu sehingga anak jadi takut untuk mencoba dan takut melakukan kesalahan hingga akhirnya untuk menghindari hukuman, ya udahlah jangan aku yang kerjain, kamu aja, gitu akhirnya kan,” ucapnya.
Ayunda menegaskan, ketiga pola asuh tersebut sama-sama dapat berkontribusi terhadap munculnya perasaan tidak mampu maupun perilaku menghindari tanggung jawab.
“Nah, jadi berbagai pola asuh itu sebenarnya sama-sama berkontribusi sih terhadap perasaan tidak mampu tadi atau perilaku-perilaku dengan perasaan inferior, perilaku menunda pekerjaan atau mendelegasikan pekerjaan atau kalau kita bilang weaponized incompetence tadi,” katanya.
Sebagai alternatif, Ayunda menyarankan orang tua menerapkan pola asuh demokratis dengan melibatkan anak dalam berbagai aktivitas dan memberikan kesempatan untuk belajar bertanggung jawab sesuai dengan usianya.
“Jadi bagaimana bagusnya? Tentu saja pola asuh yang demokratis yang kemudian selalu melibatkan anak ketika ada pekerjaan rumah dikerjakan bersama. Orang tua juga menjadi contoh, Mbak, menjadi modeling yang bagus ketika di rumah ada pembagian peran antara ibu dan ayah,” ujarnya.
Ia menekankan, anak perlu diberikan ruang untuk belajar melakukan berbagai hal secara mandiri. Kesempatan tersebut penting untuk membangun rasa percaya diri sekaligus kemampuan anak dalam menghadapi masalah.
“Kalau kita mau menciptakan anak yang bertanggung jawab, anak yang kompeten, anak yang mampu melakukan apa yang kita inginkan atau apa yang mereka butuhkan di masa depan, berikan anak kesempatan. Bukan dilarang, bukan diancam apalagi dibiarkan,” ucapnya.
Psikolog tersebut juga mendorong orang tua untuk melibatkan anak dalam aktivitas sehari-hari di rumah sesuai usia dan kemampuannya. Sejak dini, anak dapat diberi kesempatan untuk memilih, mencoba, menyelesaikan tugas sederhana, dan belajar dari kesalahan.
Menurut Ayunda, rasa sayang kepada anak tidak harus diwujudkan dengan selalu mengambil alih pekerjaan yang sebenarnya mampu dilakukan anak. Kebiasaan terlalu melayani justru dapat membuat anak terbiasa bergantung dan menyerahkan berbagai persoalan kepada orang lain.
Karena itu, membangun kemandirian anak perlu dilakukan secara bertahap. Orang tua tetap dapat memberikan dukungan dan pendampingan, tetapi tidak mengambil alih seluruh proses yang seharusnya menjadi kesempatan anak untuk belajar.
Jika pola ketergantungan tersebut terus terbentuk sejak kecil, kebiasaan menyerahkan tanggung jawab kepada orang lain berpotensi terbawa hingga anak tumbuh dewasa, termasuk ketika menghadapi tuntutan pendidikan maupun pekerjaan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....