Pentingnya Komunikasi Dua Arah dan Validasi Perasaan Anak dalam Keluarga

  • 25 Agt 2026 02:46 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Pola asuh kaku dan minimnya ruang artikulasi emosi di lingkungan keluarga dinilai sebagai salah satu faktor dominan yang menyebabkan tingginya angka depresi pada usia produktif.

Kurangnya kecakapan orang tua dari generasi terdahulu dalam mendengarkan aspirasi anak menciptakan jurang komunikasi yang memicu masalah kesehatan jiwa.

"Permasalahan kenapa sekarang itu anak-anak lebih gampang cemas adalah pola asuh, terus kemudian juga kecenderungan tidak didengarkan oleh orang tua," kata dr. Gerit, dokter umum RSJD Atma Husada Mahakam pada dialog Dokter Etam, Kamis, 6 Agustus 2026.

Sering kali, respons lingkungan keluarga terhadap keluhan emosional anak berorientasi pada peremehan atau judgemental. Tindakan meremehkan perasaan (invalidasi) justru berpotensi mendorong seseorang pada tindakan bahaya penanganan diri seperti self-harm hingga depresi berat.

"Banyak pasien yang tahan-tahan self-harm, langsung ada ide suicide, itu banyak banget karena cuma diomongin kayak kamu nih lebay aja," ujarnya.

Oleh sebab itu, edukasi penanganan masalah jiwa kini tidak hanya difokuskan pada pasien secara individu, melainkan melibatkan seluruh anggota keluarga melalui pendekatan penanganan lingkungan holistik.

Keluarga diharapkan mampu menciptakan ruang aman (safe space) dengan belajar memvalidasi perasaan anak serta mendengarkan tanpa menghakimi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....