Psikolog: Menolak Tugas Tak Selalu Berarti Malas, Bisa Jadi Ada Masalah Psikologis
- 20 Agt 2026 10:10 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda — Menolak tugas yang diberikan tidak selalu menunjukkan seseorang malas atau sengaja menghindari tanggung jawab. Psikolog mengatakan, perilaku tersebut perlu dilihat dari pola dan latar belakangnya karena dapat dipengaruhi rasa takut gagal, takut dikritik, kurang percaya diri, pengalaman dimanfaatkan, hingga kondisi kewalahan akibat beban kerja.
Psikolog Ayunda Ramadhani saat menjadi narasumber dalam obrolan Tonight Corner Health Pro 2 RRI Samarinda mengatakan, untuk mengetahui apakah seseorang malas atau memang merasa tidak mampu, perlu dilakukan pengamatan terhadap pola perilakunya.
“Untuk bisa mengetahui dengan pasti apakah seseorang itu malas atau memang dia itu merasakan ketidakmampuan, jadi memang dia enggak bisa gitu ya. Nah, itu tuh menjadi suatu hal yang sebenarnya agak sulit ya karena bicara niat. Niat itu kan enggak kelihatan ya,” ujarnya, dikutip Kamis, 20 Agustus 2026.
Menurut Ayunda, salah satu cara untuk melihat kondisi tersebut adalah dengan memperhatikan konsistensi perilaku seseorang ketika diberikan tugas.
“Tapi biasanya kita lihat dari polanya. Kalau misalnya dalam satu tempat kerja ada satu orang yang misalnya selalu ketika diberikan tugas baru dia selalu menolak, menolak, menolak, even without trying gitu loh. Tidak pernah mencoba. Bisa jadi sebenarnya akarnya masalahnya di psikologis,” katanya.
Ketua IPK HIMPSI Kalimantan Timur ini mengatakan, perilaku menolak tugas dapat muncul karena seseorang takut gagal, takut dikritik, takut mengecewakan orang lain, atau khawatir menimbulkan masalah baru.
“Bisa jadi karena mungkin dia takut gagal, takut dikritik, takut mengecewakan, kan takut bikin masalah baru gitu ya, sehingga dia tuh enggak berani gitu untuk mengambil risiko,” ucapnya.
Namun, kondisi berbeda dapat terjadi pada seseorang yang sebelumnya dikenal memiliki inisiatif dan pekerja keras, tetapi kemudian mulai menolak tugas tambahan. Menurut Ayunda, perubahan tersebut bisa dipengaruhi pengalaman ketika seseorang merasa dirinya dimanfaatkan oleh orang lain.
“Tapi mungkin ada juga orang yang dulunya dia orangnya inisiatif, kemudian dia orangnya juga pekerja keras, tapi ternyata beberapa kali dia dimanfaatkan oleh orang lain,” ujarnya.
Pengalaman tersebut, lanjut Ayunda, dapat mengubah pola perilaku seseorang. Mereka bisa mulai enggan mengambil pekerjaan tambahan atau membantu rekan kerja karena khawatir kebaikannya kembali dimanfaatkan.
“Nah, sehingga dia mulai berpikir bahwa setiap kali aku bantu orang, eh orang lain malah keenakan nyuruh-nyuruh terus sehingga polanya sekarang berubah. Dia tidak lagi inisiatif, dia tidak lagi mau mengerjakan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya mungkin ya kalau tanggung jawabnya masih mau, tapi kayak beban-beban tugas tambahan atau diminta tolong temannya dia menolak.”
Karena itu, Dosen Psikologi Universitas Mulawarman (UNMUL) tersebut menekankan pentingnya melihat peristiwa yang melatarbelakangi perubahan perilaku seseorang.
“Adakah peristiwa di baliknya? Apakah dia dikecewakan gitu ya? Atau apakah dia memang dikritik berlebihan saat gagal melakukan tugasnya sehingga dia enggak berani lagi. Nah, itu berarti kan bukan malas.”
Selain pengalaman negatif, kondisi kewalahan akibat beban pekerjaan juga perlu dibedakan dari perilaku sengaja menghindari tugas. Seseorang yang sebenarnya mampu dapat mengalami kesulitan ketika tugas terus bertambah sebelum pekerjaan sebelumnya sempat diselesaikan.
“Kalau misalnya beban kerja seseorang tuh sudah terlalu banyak, enggak bisa. Dia sebenarnya mampu, tapi kemudian kewalahan dengan banyaknya tugas karena dia belum punya kesempatan menyelesaikan, sudah ditumpuk lagi dengan kerjaan baru,” jelasnya.
Dalam kondisi tersebut, Ayunda mengatakan, penolakan terhadap tugas dapat menjadi cara seseorang memberikan batasan terhadap kapasitas dirinya. Namun, batasan tersebut sebaiknya tidak berubah menjadi pola menghindari pekerjaan secara terus-menerus.
“Nah, sebenarnya akhirnya menolak tugas itu menjadi bentuk pasif agresif juga. Tapi berusaha memberi batasan sebenarnya atau memberi jeda pada dirinya. Tapi ingat ini sifatnya harus sementara.”
Ayunda mengingatkan, pekerja perlu mengetahui batas kemampuan dan tidak harus menerima seluruh tugas yang datang. Menurutnya, kemampuan memilih pekerjaan berdasarkan tingkat urgensi merupakan bagian dari cara bekerja secara cerdas.
“Jadi kita tuh kalau bekerja juga harus pilah-pilih ya, Mbak. Bukan berarti saya bilang semua kerjaan yang datang harus dikerjain. Enggak juga. Kita tuh kan juga sekarang eranya kerja cerdas gitu ya. Jadi kita perlu memilih dan memilih berdasarkan urgensi,” ucapnya.
Menurutnya, memahami penyebab penolakan tugas menjadi penting agar seseorang tidak terburu-buru memberikan label malas kepada rekan kerja. Di sisi lain, seseorang juga perlu jujur memahami alasan dirinya menolak suatu pekerjaan.
“Bedain saya enggak bisa atau saya tidak mampu. Saya belum bisa. Saya enggak bisa atau saya tidak mau. Oke. Harus sadar di situ,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....