Psikolog: Pura-Pura Tidak Bisa Kerjakan Tugas Bisa Hambat Karier
- 20 Agt 2026 10:09 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda — Kebiasaan sengaja menunjukkan ketidakmampuan agar tidak lagi diberi tugas atau tanggung jawab di tempat kerja dapat menjadi pola perilaku yang justru merugikan diri sendiri. Fenomena yang dikenal sebagai weaponized incompetence tidak hanya berdampak pada hubungan dengan rekan kerja, tetapi juga dapat menghambat perkembangan karier.
Ketua IPK HIMPSI Kalimantan Timur, Ayunda Ramadhani, dalam obrolan Tonight Corner Health Pro 2 RRI Samarinda mengatakan, perilaku tersebut dapat muncul ketika seseorang merasa nyaman karena tidak lagi diberi tugas setelah berulang kali menunjukkan ketidakmampuan.
“Itu namanya adalah dia justru dapat reward. Dia malah justru, dalam tanda kutip, dapat reward karena akhirnya dia karena dia enggak mau tadi, akhirnya orang sudah malas nyuruh dia. Akhirnya yang kena orang lain,” ujarnya, dikutip Kamis, 20 Agustus 2026.
Menurut Ayunda, kebiasaan tersebut pada akhirnya dapat menimbulkan dampak yang lebih luas di lingkungan kerja. Beban pekerjaan dapat berpindah kepada rekan lain sehingga memengaruhi produktivitas dan memicu konflik dalam hubungan kerja.
“Yang rugi kan dia sendiri, bukan orang lain sebenarnya. Orang lain sih terdampak juga. Misalnya di perusahaan akhirnya produktivitas di perusahaannya menurun karena dia enggak mau disuruh. Selalu orang lain dan akhirnya ada konflik relasi dengan teman kerja. Ini kan jadi masalah,” katanya.
Dosen Psikologi Universitas Mulawarman tersebut menegaskan, hal terpenting yang perlu dibangun adalah kesadaran bahwa perilaku menghindari tanggung jawab secara sengaja justru dapat merugikan diri sendiri dalam jangka panjang.
“Sebenarnya yang perlu dibangun itu adalah kesadaran bahwa perilaku itu merugikan diri sendiri,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kebiasaan menghindari tugas juga dapat membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk berkembang karena terus mempertahankan pola pikir bahwa dirinya tidak mampu.
“Dia sendiri pun enggak akan berkembang lagi seperti itu ya, karena menolak kesempatan. Menolak kesempatan. Betul. Tadi akhirnya fixed mindset, ‘Aku enggak bisa, aku enggak bakal bisa, ya sudah aku akan gini-gini aja.’” katanya.
Selain menghambat perkembangan diri, perilaku tersebut juga berpotensi membuat seseorang dijauhi rekan kerja. Pasalnya, ketika seseorang terus menghindari pekerjaan, beban tersebut pada akhirnya harus ditanggung oleh orang lain.
“Dianya nyaman karena akhirnya enggak disuruh. Tapi yang harus dia sadari adalah lama-lama perilaku itu akan merugikan dia sendiri karena dia dijauhi orang lain,” katanya.
Dalam konteks pekerjaan, Ayunda mengatakan dampak tersebut juga dapat berlanjut pada evaluasi kinerja. Jika pola tersebut terus dipertahankan, seseorang dapat dinilai memiliki kinerja yang kurang baik dan berisiko kehilangan pekerjaannya.
“Nah, kemudian kalau kita bicara ini suatu perusahaan swasta atau pegawai di pemerintahan kan pasti ada evaluasi kinerja. Nah, ketika dia terus-menerus mempertahankan kinerja begitu, bukan tidak mungkin kan dia akan diberhentikan. Artinya nanti sebenarnya yang rugi kan tadi baliknya ke dia sendiri,” ucapnya.
Ayunda menambahkan, seseorang yang terus menghindari tugas juga berisiko kehilangan kesempatan untuk mengembangkan potensi yang sebenarnya dimiliki.
“Minimal, oke, lah, kita setidaknya punya tanggung jawab untuk punya kesadaran bahwa saya punya banyak potensi yang harus saya keluarkan. Masa sih hanya gara-gara satu kritikan atau satu cemoohan dari orang itu membuat saya enggak mau bergerak? Kan sangat rugi ya, bahwa keberhargaan diri kita itu tidak sebatas penilaian orang,” katanya.
Karena itu, kemampuan dan potensi diri sebaiknya tidak dikorbankan hanya demi menghindari tanggung jawab atau penilaian negatif dari orang lain. Kesediaan menerima tugas, belajar dari kesalahan, dan terus mengembangkan kemampuan dapat menjadi bagian penting dalam membangun hubungan kerja sekaligus perkembangan karier.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....