Kebiasaan Membaca Berita Buruk pada Ponsel, Bisa Ganggu Kesehatan Mental
- 08 Agt 2026 17:35 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Kebiasaan membuka ponsel untuk sekadar mengecek notifikasi, kemudian berlanjut membaca kabar buruk tanpa henti, dapat membuat seseorang terjebak dalam doomscrolling. Fenomena ini semakin mudah terjadi ketika arus informasi di media sosial terus mengalir tanpa batas.
Doomscrolling atau doomsurfing menggambarkan perilaku terus-menerus mencari dan membaca informasi negatif melalui media digital. Kebiasaan tersebut membuat seseorang sulit berhenti meski informasi yang dikonsumsi mulai memicu rasa cemas, lelah, atau tidak nyaman.
Kondisi ini perlu menjadi perhatian karena penggunaan media digital yang berlebihan dapat berkaitan dengan berbagai persoalan kesehatan dan kesejahteraan, terutama pada kelompok usia muda.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyebut lingkungan digital memiliki manfaat besar untuk komunikasi dan akses informasi, tetapi juga membawa risiko terhadap kesehatan mental. Paparan konten yang merugikan, penggunaan berlebihan, serta perilaku penggunaan yang sulit dikendalikan menjadi sejumlah hal yang perlu diwaspadai.
Dalam konteks doomscrolling, masalahnya bukan sekadar berapa lama seseorang memegang ponsel. Pola informasi yang dikonsumsi juga berpengaruh. Ketika seseorang terus mencari kabar mengenai konflik, bencana, kriminalitas, atau persoalan sosial yang memicu kecemasan, tubuh dan pikiran dapat terus berada dalam kondisi tegang.
WHO dalam panduan mengenai stres juga mengingatkan bahwa terlalu banyak mengikuti berita melalui televisi maupun media sosial dapat meningkatkan stres. Karena itu, pembatasan waktu mengikuti berita dianjurkan apabila konsumsi informasi mulai meningkatkan tekanan psikologis.
Mengapa Sulit Berhenti?
Salah satu alasan doomscrolling sulit dihentikan adalah dorongan manusia untuk mencari informasi mengenai sesuatu yang dianggap mengancam. Kabar buruk cenderung membuat seseorang ingin terus mengetahui perkembangan terbaru.
Di sisi lain, sistem rekomendasi pada platform digital membuat pengguna dapat terus menerima konten serupa. Satu berita kemudian memunculkan berita lain, disusul video, komentar, hingga unggahan baru yang kembali memancing rasa ingin tahu.
Tanpa disadari, aktivitas yang awalnya hanya beberapa menit dapat berlangsung jauh lebih lama.
Pada remaja, penggunaan media sosial yang bermasalah juga menjadi perhatian. Studi WHO terhadap hampir 280 ribu anak muda usia 11, 13, dan 15 tahun di 44 negara dan wilayah menemukan 11 persen menunjukkan tanda penggunaan media sosial bermasalah. Kondisi tersebut juga dikaitkan dengan kesejahteraan mental dan sosial yang lebih rendah serta waktu tidur yang lebih sedikit.
Dampaknya Bisa Merembet ke Tidur dan Konsentrasi
Kebiasaan menggulir layar hingga menjelang tidur dapat membuat waktu istirahat semakin berkurang. WHO merekomendasikan pembatasan penggunaan perangkat elektronik seperti telepon pintar sebelum tidur sebagai bagian dari kebiasaan tidur yang sehat.
Kurang tidur kemudian dapat memengaruhi kemampuan seseorang berkonsentrasi pada aktivitas berikutnya. Pada pelajar, kondisi tersebut berpotensi mengganggu proses belajar. Sementara pada orang dewasa, kelelahan dapat memengaruhi produktivitas dan kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Karena itu, doomscrolling sebaiknya tidak dipandang hanya sebagai kebiasaan menggunakan telepon pintar, tetapi sebagai pola konsumsi informasi yang perlu dikendalikan.
Cara Memutus Kebiasaan Doomscrolling
Langkah pertama adalah menyadari kapan kebiasaan tersebut mulai muncul. Jika seseorang membuka media sosial secara refleks setiap kali merasa bosan atau cemas, aktivitas itu dapat diganti dengan kegiatan lain seperti berjalan sebentar, berbicara dengan keluarga, membaca buku, atau melakukan aktivitas fisik.
Pengguna juga dapat menetapkan waktu khusus untuk membaca berita sehingga tidak terus-menerus memeriksa perkembangan terbaru.
| Baca juga: Tips Mandi Sehat untuk Jaga Skin Barrier |
Selain itu, linimasa media sosial dapat dikurasi dengan berhenti mengikuti akun yang terlalu sering menyajikan konten sensasional atau memicu kecemasan. Informasi penting tetap dapat diperoleh dari sumber terpercaya tanpa harus mengikuti seluruh arus informasi sepanjang hari.
WHO juga menekankan pentingnya literasi digital dan akses terhadap informasi yang dapat dipercaya untuk mengurangi dampak buruk lingkungan informasi digital.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan mental di era digital bukan berarti menjauhi teknologi. Yang diperlukan adalah kemampuan menentukan kapan harus terhubung dan kapan harus berhenti.
Ponsel seharusnya menjadi alat untuk membantu kehidupan, bukan menjadi sumber kecemasan yang terus terbawa hingga waktu tidur.
Jika konsumsi informasi mulai mengganggu tidur, pekerjaan, pendidikan, hubungan sosial, atau menimbulkan tekanan yang sulit dikendalikan, langkah yang lebih tepat adalah mencari dukungan dari orang terpercaya maupun tenaga profesional.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....