Buka Medsos untuk Hiburan, Pulang Justru Bawa Kecemasan
- 14 Jun 2026 12:52 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda — Kebiasaan membuka media sosial untuk mencari hiburan ternyata tidak selalu berujung pada perasaan senang. Anggota Himpunan Psikolog Indonesia Wilayah Kalimantan Timur (HIMPSI Kaltim), Anang Arief Abdullah, menilai banyak pengguna justru mengalami kelelahan emosional, kecemasan, hingga perubahan suasana hati setelah terpapar berbagai informasi negatif yang muncul di linimasa.
Fenomena tersebut semakin sering terjadi seiring meningkatnya konsumsi media sosial di kalangan masyarakat, terutama generasi muda dan pekerja. Banyak orang mengakses media sosial untuk melepas penat setelah beraktivitas, namun tanpa disadari menerima paparan informasi yang memengaruhi kondisi psikologis mereka.
“Sehingga yang awalnya kita tenang-tenang aja dapat berita jelek dari media sosial akhirnya mood-nya jadi jelek. Nah, itu berarti kan tanpa sadar kita dipengaruhi media sosial,” katanya dalam obrolan Tonight Corner Health Pro 2 RRI Samarinda, dikutip Minggu 14 Juni 2026.
Menurut dia, pengaruh media sosial terhadap emosi sering kali terjadi secara tidak disadari. Pengguna merasa sedang memilih konten yang ingin dilihat, padahal algoritma platform digital juga berperan besar dalam menentukan informasi yang muncul di hadapan mereka.
“Orang yang pengguna media sosial itu bukan dia yang menentukan apa yang ingin dia lihat, tapi kebanyakan adalah media sosial, algoritma itu yang membentuk suatu perilaku dan cara berpikir seseorang,” ujarnya.
Anang menjelaskan, paparan informasi negatif yang berlangsung terus-menerus dapat membentuk persepsi dan respons emosional pengguna. Kondisi tersebut membuat seseorang lebih mudah merasa cemas, marah, atau sedih meski tidak mengalami langsung peristiwa yang diberitakan.
Ia menyarankan masyarakat lebih sadar terhadap tujuan penggunaan media sosial. Pengguna perlu menentukan informasi atau hiburan yang ingin dicari sebelum membuka aplikasi, bukan sekadar mengikuti arus konten yang muncul secara acak di linimasa.
“Jadi sebenarnya kalau ada yang stres terus juga penat dan lain sebagainya, main media sosial, saya enggak nyaranin. Saya lebih nyaranin teman-teman untuk pasang sepatunya jogging atau jalan kaki keliling komplek aja itu udah cukup untuk ngurangin stres,” katanya.
Anang juga mengingatkan pentingnya melakukan jeda ketika menemukan informasi yang memicu emosi negatif. Menurutnya, menenangkan diri terlebih dahulu dan membatasi paparan konten yang mengganggu dapat membantu menjaga kesehatan mental di tengah derasnya arus informasi digital.
Ia menilai media sosial tetap dapat dimanfaatkan secara positif selama digunakan secara sadar, terarah, dan tidak menjadi satu-satunya sumber hiburan maupun informasi sehari-hari.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....