Psikolog: Berita Bersifat Prediksi Bisa Memicu Kecemasan Publik
- 14 Jun 2026 12:55 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda — Di era media sosial, informasi bergerak jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan sebagian orang untuk mencerna dan memverifikasinya. Dalam hitungan detik, satu unggahan dapat menyebar ke ribuan bahkan jutaan pengguna. Sayangnya, tidak semua informasi yang beredar berisi fakta yang sudah terjadi. Banyak di antaranya masih berupa prediksi, asumsi, atau kemungkinan yang belum tentu menjadi kenyataan.
Anggota Himpunan Psikolog Indonesia Wilayah Kalimantan Timur (HIMPSI Kaltim), Anang Arief Abdulah, mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mempercayai atau merespons berlebihan informasi yang mengandung unsur prediksi di media sosial. Penggunaan kata seperti “akan” dan “mungkin” dinilai berpotensi memicu kecemasan publik jika tidak disikapi secara kritis.
Menurut Anang, banyak informasi di ruang digital tidak sepenuhnya berisi fakta yang telah terjadi, melainkan dugaan atau kemungkinan yang masih belum pasti. Kondisi tersebut sering membuat masyarakat terbawa pada kekhawatiran terhadap sesuatu yang belum terjadi.
“Biasanya akan ada kata-kata seperti akan, mungkin terjadi. Ini perlu diwaspadai karena itu adalah kata-kata yang biasanya berita dengan perilaku pejabat seperti ini mungkin Indonesia akan apa. Kan masih mungkin,” katanya dalam obrolan Tonight Corner Health Pro 2 RRI Samarinda, dikutip Minggu 14 Juni 2026.
Ia menjelaskan, informasi yang bersifat prediktif dapat memicu respons emosional berlebihan ketika pembaca tidak mencermati isi berita secara utuh. Akibatnya, seseorang dapat mengalami kecemasan, ketakutan, hingga overthinking hanya berdasarkan asumsi yang belum memiliki kepastian.
Anang menilai kebiasaan membaca judul atau potongan informasi tanpa memahami konteks secara lengkap, turut memperbesar risiko munculnya kecemasan kolektif. Kondisi tersebut semakin diperkuat oleh media sosial yang memungkinkan informasi tersebar cepat dan menjangkau banyak orang dalam waktu singkat.
“Coba untuk tenangkan diri dulu karena itu bisa membawa diri kita ke perilaku kecemasan, ke perasaan cemas. Padahal itu masih mungkin loh, itu masih belum terjadi masa depan,” ujarnya.
Ia menyarankan masyarakat tidak langsung menolak informasi yang dianggap negatif. Langkah yang lebih penting adalah memeriksa isi berita secara menyeluruh, memahami konteks yang disampaikan, serta melakukan verifikasi terhadap sumber informasi sebelum mengambil kesimpulan.
“Yang perlu kita lakukan adalah mengonfirmasi dan memastikan berita itu benar atau tidak. Pastikan kita coba untuk lebih pintar daripada media sosial kita, lebih pintar untuk melihat, mencerna kata-kata yang tersirat di sana,” katanya.
Anang menekankan kemampuan berpikir kritis dapat menjaga kesehatan mental di era digital. Masyarakat perlu membiasakan diri memverifikasi informasi dan memahami perbedaan antara fakta serta prediksi agar tidak mudah terjebak dalam kecemasan yang muncul akibat informasi yang belum tentu terjadi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....