Memahami Pola Perilaku Abusif dalam Hubungan
- 09 Jul 2026 13:35 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Hubungan yang penuh kasih seharusnya memberikan rasa aman, dihargai, dan didukung. Namun, sebagian orang mengalami situasi ketika pasangan dapat bersikap sangat perhatian dan penuh kasih, lalu tiba-tiba berubah menjadi kasar, mengendalikan, atau melakukan tindakan yang menyakiti.
Kondisi seperti ini sering membuat korban kebingungan dan mempertanyakan dirinya sendiri, seperti “Apa kesalahan saya?” atau “Mengapa dia bisa berubah seperti itu?”. Padahal, perilaku kekerasan dalam hubungan tidak selalu disebabkan oleh kesalahan pasangan yang menjadi korban.
Dalam sebuah podcast edukasi kesehatan, seorang psikiater dan traumaterapis dari WellSpring Indonesia, Jiemi Ardian, menjelaskan perilaku abusif perlu dipahami sebagai pola, bukan sekadar ledakan emosi sesaat. “Buku ini bukan membahas gangguan kepribadian tertentu, tetapi membahas pola perilaku abusif agar kita bisa memahami pola dan tidak kebingungan,” ujar Jiemi ketika membahas buku Why Does He Do That? karya Lundy Bancroft, Kamis 9 Juli 2026.
Salah satu mitos yang sering muncul adalah anggapan bahwa seseorang melakukan kekerasan karena tidak mampu mengendalikan amarah. Banyak orang mengira pelaku hanya membutuhkan latihan mengelola emosi, mengurangi stres, atau menyelesaikan luka masa kecil. Namun, kenyataannya tidak selalu demikian.
“Seseorang bisa marah-marah di rumah, tetapi di kantor dan tempat lain dia bisa tenang serta professional. Hal ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan hanya kemampuan mengendalikan emosi, melainkan bagaimana seseorang memilih memperlakukan orang tertentu,” katanya.
Perilaku abusif sering kali berkaitan dengan keyakinan dan nilai yang keliru tentang hubungan. Seseorang dapat merasa memiliki hak untuk mengatur kehidupan pasangannya, menentukan pilihan, membatasi pergaulan, atau mengontrol aktivitas sehari-hari.
“Perasaan tidak mengatur perilaku kasar atau perilaku pengendalian, tetapi keyakinan, nilai, dan kebiasaan menjadi kekuatan pendorong. Dengan kata lain, tindakan tersebut muncul dari cara berpikir tertentu yang menganggap kontrol sebagai sesuatu yang dibenarkan,” ucapnya.
Salah satu konsep penting dalam memahami perilaku abusif adalah rasa berhak atau entitlement. Perasaan ini membuat seseorang merasa memiliki hak istimewa yang tidak berlaku bagi pasangannya. Misalnya, ia merasa berhak mengetahui seluruh aktivitas pasangan, meminta pasangan selalu memberi kabar, atau memutus hubungan pasangan dengan lingkungan sosialnya.
“Kekerasan tumbuh dari sikap dan nilai-nilai, bukan dari perasaan. Akarnya adalah rasa kepemilikan, sedangkan cabangnya adalah kontrol,” ujar Jiemi menambahkan.
Masalah terbesar dalam hubungan abusif adalah tuntutan yang tidak pernah berhenti. Ketika seseorang terus memenuhi keinginan pasangan yang mengontrol, tuntutan tersebut sering kali semakin bertambah. Awalnya mungkin hanya meminta kabar lebih sering, kemudian berkembang menjadi pembatasan pertemanan, pengawasan berlebihan, hingga hilangnya kebebasan pribadi.
“Tidak peduli berapa banyak yang diberikan, itu tidak akan pernah cukup karena kebutuhan tersebut dianggap sebagai tanggung jawab pasangan,” katanya.
Dalam hubungan yang sehat, setiap orang dewasa bertanggung jawab terhadap kebutuhan emosional dan perilakunya sendiri. Seseorang boleh merasa kecewa, marah, atau sedih, tetapi ia tetap bertanggung jawab untuk mengelola perasaannya tanpa menyalahkan pasangan. Hubungan yang sehat dibangun melalui komunikasi dan penghormatan terhadap batasan, bukan melalui ancaman, rasa takut, atau kontrol.
Pertanyaan yang sering muncul adalah apakah seseorang dengan perilaku abusif dapat berubah. Perubahan memang mungkin terjadi, tetapi hal tersebut bergantung pada kemauan pribadi untuk bertanggung jawab.
“Seseorang hanya bisa pulih kalau dia mau untuk pulih, bukan karena dipaksa atau sekadar ingin menghindari konflik,” ucap Jiemi.
Perubahan nyata terlihat ketika seseorang mampu mengakui kesalahan, berhenti menyalahkan orang lain, dan menghormati batasan meskipun tidak sesuai dengan keinginannya. Tanda lain bahwa seseorang benar-benar berubah adalah ketika ia tidak menuntut penghargaan atas perubahan kecil yang sebenarnya merupakan tanggung jawabnya.
Ia memahami bahwa memperlakukan pasangan dengan baik bukanlah hadiah, melainkan kewajiban dalam hubungan yang sehat. Tanpa kesadaran tersebut, perubahan hanya menjadi siklus sementara yang dapat kembali pada pola lama.
Penting bagi korban perilaku abusif untuk memahami bahwa pengalaman yang dialami adalah nyata. Sering kali korban dibuat ragu terhadap dirinya sendiri karena terus-menerus mendapatkan pembenaran bahwa perilaku pasangan adalah hal biasa atau kesalahan dirinya. “Pengalamanmu ketika mengalami perilaku abusif itu nyata. Kamu tidak sedang mengarang sesuatu yang ada di kepalamu,” katanya.
Pada akhirnya, memahami perilaku abusif bukan berarti langsung mengambil keputusan tertentu dalam hubungan, melainkan membantu seseorang melihat situasi dengan lebih jelas. Setiap orang berhak mendapatkan hubungan yang aman, saling menghargai, dan tidak dibangun atas dasar ketakutan. Kesadaran terhadap pola kontrol, rasa berhak, dan manipulasi menjadi langkah penting agar seseorang dapat menjaga kesehatan mental serta menentukan kehidupan yang lebih baik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....