Wajarkah Panik saat Timbangan Naik? Ini Kata Psikolog

  • 08 Jul 2026 10:19 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Kenaikan angka pada timbangan kerap memicu kepanikan. Tidak sedikit orang merasa gagal menjalani pola hidup sehat hanya karena berat badan bertambah beberapa kilogram. Kondisi ini semakin sering terjadi di tengah maraknya standar kecantikan dan tubuh ideal yang dibentuk media sosial. Padahal, para ahli mengingatkan berat badan bukan satu-satunya indikator kesehatan, apalagi penentu nilai seseorang.

Anggota IPK HIMPSI Kalimantan Timur, Ridha Wahyuni, dalam obrolan Tonight Corner Health Pro 2 RRI Samarinda, menilai rasa panik saat berat badan naik merupakan respons yang wajar. Namun, kepanikan tidak boleh berkembang hingga mengganggu kesehatan mental.

"Panik itu hal yang wajar, tapi bagaimana caranya timbangan yang kita inginkan itu tidak mengganggu pemikiran kita, mengganggu mental kita. Karena timbangan itu hanya angka," ujar Ridha Wahyuni, Selasa 7 Juli 2026.

Dosen Psikologi Universitas Mulawarman ini juga menjelaskan perhatian utama seharusnya tidak berhenti pada angka di timbangan. Kondisi tubuh perlu dilihat secara menyeluruh, termasuk pola makan, aktivitas fisik, serta komposisi tubuh.

"Sebenarnya lebih jauh itu bukan timbangannya, tapi apakah dengan tubuh seperti ini saya sudah sehat? Apakah timbanganku tetap naik itu lemak atau massa otot? Timbangannya sama, tapi ternyata itu adalah otot yang dibuat. Jadi jangan kaget," katanya.

Kekhawatiran terhadap kenaikan berat badan juga dipengaruhi standar kecantikan yang berkembang di masyarakat. Menurut Ridha, banyak orang menggantungkan harga dirinya pada ukuran tubuh sehingga perubahan kecil sekalipun dapat memengaruhi rasa percaya diri.

"Kenapa value diri kita bergantung pada angka? Karena kita sendiri memilih untuk menggantungkan value kita pada angka. Padahal kita tidak hanya dilihat dari angka timbangan, tapi bagaimana cara kita memperlakukan orang lain, membawa diri, dan berkomunikasi dengan orang lain," ucapnya.

Fenomena tersebut sejalan dengan temuan World Health Organization yang menyebut stigma terhadap berat badan dapat memicu rendahnya kepercayaan diri, kecemasan, depresi, hingga perilaku makan yang tidak sehat. Organisasi itu juga menegaskan praktik fat shaming justru meningkatkan stres dan dapat membuat seseorang semakin menghindari aktivitas fisik maupun layanan kesehatan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....