Body Shaming Bukan Candaan Biasa, Komentar yang Terus Diulang Bisa Melukai

  • 08 Jul 2026 10:28 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Komentar seperti "kok gemukan?", "makin kurus, ya?", atau "pipinya makin chubby" masih sering dianggap candaan dalam pergaulan sehari-hari. Padahal, ucapan tersebut dapat meninggalkan dampak psikologis, terutama jika disampaikan berulang kali. Praktik body shaming tidak hanya memengaruhi kepercayaan diri, tetapi juga meningkatkan risiko munculnya kecemasan, depresi, hingga gangguan citra tubuh.

Dosen Psikologi Universitas Mulawarman, Ridha Wahyuni, mengatakan komentar terhadap bentuk tubuh kerap berawal dari lingkungan terdekat, bahkan sejak usia anak-anak.

"Anak kecil pun sudah diberikan gambaran kalau gendut itu body shaming. Padahal anak kecil tidak mengerti seperti itu. Kita tidak bisa mengatur lingkungan, tetapi kita bisa memahami orang berbicara sesuai pengetahuan yang mereka dapat dari lingkungan sosial mereka," ujarnya dalam obrolan Tonight Corner Health Pro 2 RRI Samarinda, Selasa 7 Juli 2026.

Ridha menilai dampak body shaming semakin besar ketika komentar negatif disampaikan terus-menerus. Seseorang dapat mulai mempercayai penilaian tersebut hingga mempertanyakan dirinya sendiri.

"Ada yang bilang kebenaran itu adalah kebohongan yang selalu diulang-ulang. Orang mungkin hanya bercanda, tapi karena setiap hari diulang, akhirnya kita bertanya, 'Ini benar tidak, ya?' Itu menjadi suatu kebenaran untuk diri kita sendiri karena setiap saat terpapar hal itu," katanya.

Menurut Ridha, seseorang tidak dapat mengendalikan ucapan orang lain. Respons terhadap komentar negatif justru menjadi faktor penting untuk menjaga kesehatan mental.

"Kita tidak bisa mengontrol apa yang diucapkan orang lain, apa respons orang lain, atau perilaku orang lain terhadap kita. Kita hanya bisa merespons dan mengontrol diri kita sendiri," ucapnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Body Image dan laporan World Health Organization (WHO). Individu yang sering mengalami stigma atau ejekan terkait berat badan memiliki risiko lebih tinggi mengalami depresi, kecemasan, rendahnya harga diri, perilaku makan tidak sehat, serta menghindari aktivitas fisik karena merasa malu terhadap tubuhnya.

Anggota IPK HIMPSI Kalimantan Timur ini juga mengingatkan masyarakat membedakan kritik yang membangun dengan komentar yang hanya menyakiti. Kritik seharusnya disertai solusi, bukan sekadar menghakimi penampilan seseorang.

"Kalau kritik itu hanya bilang, 'Kamu gendutan, perutmu buncit,' tanpa solusi, itu hanya asal bunyi. Berbeda kalau mengajak olahraga atau menerapkan pola hidup sehat bersama," ujarnya.

Ia juga mengajak masyarakat lebih berhati-hati sebelum mengomentari fisik orang lain. Menurutnya, bentuk tubuh bukan sesuatu yang pantas dijadikan bahan penilaian atau candaan.

"Jangan menganggap fisik orang lain sesuatu yang harus kita hakimi. Kita bukan Tuhan. Tuhan menciptakan manusia sangat unik. Kita harus menerima diri kita dulu sebelum bisa maju," katanya.

Ridha berharap masyarakat mulai membangun budaya saling menghargai dan mengurangi komentar yang berfokus pada penampilan fisik.

"Suara orang lain tidak mendefinisikan siapa kita sebenarnya. Kita bisa mencintai diri sendiri. Ada hal yang jauh lebih penting daripada sekadar fisik kita," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....