Beauty Standard: Siapa yang Menentukan Cantik?

  • 08 Jul 2026 10:21 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarnda - Standar kecantikan terus berkembang mengikuti budaya, industri kecantikan, dan media sosial. Wajah mulus, tubuh langsing, kulit cerah, hingga fitur wajah tertentu sering dianggap sebagai tolok ukur cantik. Akibatnya, banyak orang merasa tidak cukup menarik hanya karena tidak memenuhi standar tersebut.

Sejumlah penelitian juga menunjukkan paparan konten bertema penampilan di media sosial berkaitan dengan meningkatnya ketidakpuasan terhadap tubuh dan citra diri, terutama pada perempuan muda.

Dosen Psikologi Universitas Mulawarman, Ridha Wahyuni, menilai standar kecantikan bukan sesuatu yang bersifat mutlak. Setiap negara bahkan memiliki definisi cantik yang berbeda.

"Kita tinggal di negara yang punya beauty standard, orang cantik itu yang kurus, putih, hidungnya mancung. Padahal standar negara-negara lain pun berbeda," ujarnya saat menjadi narasumber dalam obrolan Tonight Corner Health Pro 2 RRI Samarinda, Selasa 7 Juli 2026.

Anggota IPK HIMPSI Kalimantan Timur ini menjelaskan masyarakat sering lupa standar kecantikan terbentuk oleh lingkungan sosial. Penilaian terhadap penampilan berubah mengikuti budaya dan kebiasaan masyarakat setempat.

"Kalau kita kembali lagi ke Barat, kulit yang semakin hitam justru dianggap semakin cantik. Jadi standar itu berbeda-beda. Media sosial membuat standar-standar tersebut sehingga kita tanpa filter mengikuti standar yang sebenarnya irasional," katanya.

Laporan UNESCO juga mengingatkan algoritma media sosial kerap memperlihatkan konten dengan standar kecantikan yang tidak realistis. Paparan tersebut dapat menurunkan kepercayaan diri, memperburuk citra tubuh, serta memengaruhi kesehatan mental remaja perempuan. Sementara tinjauan sistematis terhadap puluhan penelitian menemukan gambar tubuh ideal di media sosial secara konsisten meningkatkan ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh penggunanya.

Menurut Ridha, media sosial memiliki pengaruh besar karena terus menampilkan gambaran tubuh ideal secara berulang. Kondisi itu membuat sebagian orang merasa gagal hanya karena penampilannya tidak menyerupai figur yang dikagumi.

"Media sosial itu wadah, tinggal kita sendiri untuk memfilternya bagaimana. Pengaruhnya memang sangat besar sekali," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....