Benarkah Semua Emosi Harus Divalidasi? Ini Kata Psikiater

  • 24 Jun 2026 11:53 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Kalimat "semua emosi itu valid" semakin sering terdengar di media sosial dan ruang diskusi kesehatan mental. Banyak orang merasa perlu mendapatkan validasi ketika sedang sedih, marah, kecewa, atau takut. Namun, menurut dokter spesialis kedokteran jiwa, validasi emosi tidak selalu menjadi jawaban terbaik jika tidak disertai pemahaman terhadap sumber munculnya emosi tersebut.

Dalam program edukasi kesehatan mental, yang tayang di kanal youtube @malakaprojectid, Dokter spesialis psikiatri, Jiemi Ardian, menjelaskan emosi memang nyata dan perlu diakui keberadaannya. Namun, ia mengingatkan setiap emosi juga dipengaruhi oleh cara seseorang memaknai pengalaman hidup yang dialaminya.

"Emosi itu valid. Seluruh emosi yang kita rasakan adalah sesuatu yang nyata," ujar Jiemi, dikutip Rabu 24 Juni 2026.

Menurutnya, banyak orang memandang emosi sebagai sesuatu yang berdiri sendiri dan memiliki makna tetap. Padahal, emosi sering kali terbentuk dari berbagai pengalaman, lingkungan sosial, pola asuh, hingga informasi yang dikonsumsi sehari-hari melalui media sosial maupun lingkungan sekitar.

"Emosi merupakan konstruksi sosial yang dibangun berdasarkan pengalaman yang kita miliki. Kita belajar mengenali dan memberi nama pada perasaan dari lingkungan tempat kita bertumbuh," katanya.

Ia mencontohkan, seseorang yang marah karena ditolak oleh calon pasangan belum tentu marah semata karena penolakan tersebut. Bisa jadi terdapat keyakinan atau asumsi tertentu yang melekat di balik perasaan itu, seperti merasa lebih berhak diterima atau menganggap penolakan sebagai penghinaan terhadap dirinya.

"Ketika kita langsung memvalidasi kemarahan tanpa memeriksa konstruksi yang ada di belakangnya, hal itu bisa berbahaya," ucapnya.

Lebih lanjut, Jiemi menilai budaya yang terlalu merayakan kerentanan atau vulnerability tanpa diimbangi kemampuan menghadapi tantangan dapat berdampak negatif terhadap daya tahan mental seseorang.

"Jika kerentanan selalu dirayakan tanpa pemahaman yang tepat, kita berisiko membentuk generasi yang kurang tangguh dalam menghadapi kesulitan hidup," ujarnya.

Ia juga menyoroti peran bahasa dalam membentuk emosi manusia. Menurutnya, manusia sering kali memberikan makna tertentu terhadap sebuah peristiwa, padahal makna tersebut tidak selalu melekat pada peristiwa itu sendiri.

"Makna sebenarnya tidak selalu ada pada sebuah kejadian. Kita yang menyematkan makna tersebut melalui bahasa dan cara berpikir kita," kata Jiemi.

Sebagai contoh, seseorang yang mengalami putus hubungan dapat memaknai peristiwa itu sebagai bukti bahwa dirinya tidak cukup baik. Padahal, makna tersebut merupakan interpretasi pribadi yang belum tentu sesuai dengan kenyataan.

Jiemi juga mengingatkan masyarakat agar lebih kritis terhadap berbagai konten di media sosial yang sering memberikan kesimpulan sederhana terhadap situasi yang kompleks. Menurutnya, banyak konten yang tanpa sadar membentuk cara berpikir dan memengaruhi emosi audiens dalam jumlah besar.

"Kita harus berhati-hati terhadap makna yang disebarkan melalui media sosial. Jangan sampai kita mempercayai sesuatu hanya karena sering melihatnya di internet," ucapnya.

Di akhir pemaparannya, ia menegaskan memvalidasi emosi tetap penting sebagai langkah awal memahami diri sendiri. Namun, proses tersebut sebaiknya diikuti dengan refleksi mendalam untuk mengetahui akar munculnya perasaan tersebut.

"Periksa dulu emosi itu berasal dari mana. Bisa jadi berasal dari pengalaman masa lalu, trauma, atau makna yang tanpa sadar kita sematkan sendiri. Di situlah pentingnya memahami diri sebelum memvalidasi perasaan," ujarnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kesehatan mental tidak hanya soal mengakui emosi yang muncul, tetapi juga memahami bagaimana emosi itu terbentuk agar seseorang dapat meresponsnya secara lebih sehat dan bijaksana.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....