Psikiater: Kehadiran Orang Terdekat Mampu Selamatkan Penderita Cemas
- 20 Jun 2026 21:08 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Faktor lingkungan dan dukungan sosial memegang peran krusial dalam memicu sekaligus menyembuhkan gangguan kecemasan pada seseorang. Tekanan eksternal yang toksik sering menjadi pemicu utama munculnya gangguan mental ini di usia produktif.
Hal itu diungkapkan oleh dr. Nurulita, Sp.KJ dalam siaran edukasi kesehatan jiwa pada Kamis, 4 Juni 2026. Ia menyebutkan bahwa masalah kesehatan mental bersifat multifaktorial, yang melibatkan interaksi genetik, kondisi psikologis pribadi, dan lingkungan sosial.
"Kita beranjak ke faktor berikutnya faktor psikososial, lingkungan lain misalnya dia di lingkungannya cukup toksik, sekolah, atau pekerjaan," kata dr. Nurulita. Stres harian, masalah ekonomi, riwayat perundungan (bullying), dan trauma masa lalu saling berinteraksi memicu kerentanan.
Kelompok usia yang paling banyak ditemukan mencari bantuan klinis di lapangan didominasi oleh remaja akhir dan dewasa muda. Tekanan hidup dan peran ganda, seperti menjadi ibu rumah tangga sekaligus pekerja, membuat beban stres menjadi ganda.
Oleh karena itu, kepekaan lingkungan sekitar sangat dibutuhkan untuk mendampingi mereka yang sedang berjuang dengan kecemasannya. Banyak orang di sekitar yang ingin menolong, namun sering kali merasa bingung atau takut melakukan kesalahan.
"Setidaknya kita hadir dulu di dekat dia, itu sudah sangat membantu untuk pasien jadi tidak merasa sendiri," ujar dr. Nurulita memberikan saran. Menunjukkan kepedulian tanpa menghakimi merupakan langkah awal yang sangat baik untuk membangun rasa percaya.
Jika penderita mulai menarik diri atau mengurung diri di kamar, orang terdekat harus mengambil langkah aktif yang suportif. Mendengarkan cerita mereka atau sekadar menemani secara fisik dapat memberikan rasa aman yang signifikan bagi penderita.
Bila kondisinya memburuk hingga memicu depresi, lingkungan sekitar wajib menjembatani penderita dengan layanan medis. "Kita boleh kok ajak dia, kita antar dia, kita hubungkan dia dengan layanan profesional misalnya ke psikiater atau psikolog," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....