Gen Z Garda Depan Kesehatan Mental di Era Digital

  • 14 Jun 2026 12:58 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Selama beberapa tahun terakhir, Generasi Z kerap ditempatkan sebagai kelompok yang paling rentan terhadap dampak negatif media sosial. Mulai dari kecemasan, tekanan sosial, hingga masalah kesehatan mental sering dikaitkan dengan generasi yang tumbuh bersama internet dan gawai tersebut.

Anggota Himpunan Psikolog Indonesia Wilayah Kalimantan Timur (HIMPSI Kaltim), Anang Arief Abdulah, melihat situasi ini dari sudut pandang yang berbeda. Alih-alih hanya menjadi kelompok yang terdampak, Gen Z justru memiliki peluang besar untuk menjadi penjaga kesehatan mental di era digital karena dinilai paling memahami cara kerja media sosial.

Menurut Anang, pemahaman yang dimiliki Gen Z terhadap platform digital membuat mereka berada pada posisi strategis untuk membantu lingkungan sekitar menghadapi berbagai risiko yang muncul dari penggunaan media sosial. Pengetahuan tentang algoritma, tren digital, hingga pola penyebaran informasi menjadi keunggulan yang tidak dimiliki semua generasi.

“Bukan kita yang mengharapkan dukungan sosial dari orang tua atau komunitas tertentu, tapi kita yang sebagai agennya karena Gen Z yang lebih menguasai media sosial tersebut,” ujarnya dalam obrolan Tonight Corner Health Pro2 Samarinda, dikutip Minggu 14 Juni 2026.

Ia menjelaskan, selama ini banyak orang beranggapan dukungan sosial selalu datang dari keluarga, komunitas, atau kelompok yang lebih dewasa. Dalam konteks dunia digital, peran tersebut dapat dijalankan oleh generasi muda yang memiliki pemahaman lebih baik terhadap dinamika media sosial.

Anang menilai Gen Z tidak hanya berperan sebagai penerima dukungan, tetapi juga sebagai penyedia dukungan bagi kelompok lain yang lebih rentan terhadap dampak informasi digital. Kelompok usia yang lebih tua sering kali memiliki keterbatasan dalam memahami cara kerja media sosial, sementara generasi muda lebih dekat dengan ekosistem digital tersebut.

“Sehingga peran Gen Z di era sekarang itu adalah sebagai support system. Jadi bukan sebagai social support, sebagai pendukung sosial, enggak. Tapi mereka yang menyediakan support tersebut karena mereka yang lebih paham bagaimana media sosial itu bekerja,” katanya.

Kemampuan memahami media sosial dinilai penting di tengah derasnya arus informasi yang beredar setiap hari. Tidak sedikit pengguna yang terjebak dalam informasi menyesatkan, berita yang memicu kecemasan, hingga konten yang memengaruhi kondisi psikologis tanpa disadari.

Dalam kondisi tersebut, Gen Z memiliki peluang menjadi agen literasi digital. Mereka dapat membantu keluarga, teman, maupun komunitas untuk membedakan informasi yang kredibel dan tidak kredibel, sekaligus membangun kebiasaan bermedia sosial yang lebih sehat.

“Sehingga diharapkan teman-teman Gen Z ini yang sebagai agen untuk menyediakan support system tersebut ke teman-teman yang di atasnya, usia di atas, lingkungan di atas atau di bawahnya. Atau mereka malah berkumpul memang untuk menyaring mana sih yang dapat dipercaya dan mana yang tidak bisa dipercaya,” ujarnya.

Peran tersebut menjadi semakin penting ketika media sosial tidak lagi sekadar sarana hiburan, melainkan ruang yang ikut membentuk cara berpikir, emosi, hingga perilaku masyarakat. Gen Z dinilai memiliki kesempatan besar untuk mengambil peran sebagai penggerak literasi digital dan kesehatan mental di lingkungannya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....