Kalimantan Timur Tiga Besar Nasional Kasus Hipertensi
- 06 Jun 2026 22:17 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda- Hipertensi atau tekanan darah tinggi masih menjadi ancaman kesehatan yang kerap luput dari perhatian masyarakat. Minimnya gejala pada tahap awal membuat banyak penderita tidak menyadari dirinya mengidap hipertensi hingga muncul komplikasi yang lebih serius.
Dokter spesialis jantung dr. Dedy Pratama mengungkapkan Kalimantan Timur saat ini termasuk tiga besar daerah dengan kasus hipertensi tertinggi di Indonesia. Kondisi tersebut menjadi peringatan bahwa kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin masih perlu ditingkatkan.
Menurut Dedy, hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama berbagai penyakit kardiovaskular, termasuk serangan jantung, gagal jantung, hingga stroke. Karena itu, deteksi dini menjadi langkah penting untuk mencegah dampak yang lebih berat.
Ia menjelaskan banyak masyarakat merasa tubuhnya sehat sehingga tidak pernah memeriksakan tekanan darah. Bahkan kondisi tersebut juga kerap ditemukan pada kalangan tenaga kesehatan yang merasa tidak perlu melakukan pemeriksaan rutin karena tidak merasakan keluhan tertentu.
Padahal, hipertensi sering disebut sebagai silent killer atau pembunuh senyap. Penyakit ini dapat berkembang dalam waktu lama tanpa gejala yang jelas, namun perlahan merusak pembuluh darah dan organ-organ penting dalam tubuh.
Ketika tidak terkontrol, tekanan darah tinggi dapat meningkatkan risiko penyumbatan pembuluh darah, serangan jantung, stroke, gangguan ginjal, hingga gagal jantung. Tidak sedikit penderita baru mengetahui dirinya mengalami hipertensi setelah terjadi komplikasi serius.
Karena itu, Dedy mengajak masyarakat untuk mulai membiasakan pemeriksaan tekanan darah secara berkala, baik untuk diri sendiri maupun anggota keluarga. Menurutnya, langkah sederhana tersebut dapat membantu mendeteksi risiko penyakit sejak dini.
“Kita harus mulai membiasakan mengukur tekanan darah secara rutin. Jangan hanya memeriksa orang lain, tetapi juga memeriksa diri sendiri, keluarga, dan orang-orang di sekitar kita,” katanya Sabtu 6 Juni 2026.
Selain faktor keturunan, hipertensi juga dipengaruhi pola hidup sehari-hari. Konsumsi makanan tinggi garam dan lemak, kurang aktivitas fisik, obesitas, stres, hingga kebiasaan merokok menjadi faktor yang dapat meningkatkan tekanan darah.
Perubahan gaya hidup masyarakat modern turut memperbesar risiko tersebut. Aktivitas yang semakin banyak dilakukan secara digital membuat sebagian orang menjadi kurang bergerak, sementara konsumsi makanan cepat saji dan minuman tinggi gula semakin mudah dijangkau.
Dedy menegaskan sebagian besar faktor risiko hipertensi sebenarnya dapat dikendalikan melalui pola hidup sehat. Menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, mengurangi konsumsi garam, berhenti merokok, serta melakukan pemeriksaan kesehatan berkala menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah.
Di tengah tingginya angka hipertensi di Kalimantan Timur, kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini dinilai menjadi kunci utama. Sebab, semakin cepat tekanan darah tinggi diketahui, semakin besar peluang untuk mencegah penyakit jantung dan komplikasi lainnya yang dapat mengancam keselamatan jiwa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....