Dokter Soroti Risiko Makanan Instan dan Frozen Food

  • 17 Mei 2026 10:11 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Meningkatnya kebiasaan mengonsumsi makanan instan dan frozen food di kalangan masyarakat, termasuk generasi muda yang menjadikannya camilan sehari-hari, mendapat perhatian kalangan medis. Pola makan praktis tersebut dinilai berpotensi memicu gangguan kesehatan apabila dikonsumsi berlebihan dalam jangka panjang.

Dokter Spesialis Gizi Klinik RS Hermina Samarinda, dr. Benedicta Afianti, dalam obrolan Tonight Corner Health Pro 2 dikutip Minggu, 17 Mei 2026, menyoroti tren konsumsi makanan instan dan frozen food di kalangan generasi muda. Ia menyebut kebiasaan tersebut perlu diwaspadai karena kandungan gizinya tidak selalu seimbang.

Menurut dr. Benedicta, makanan instan dan frozen food umumnya mengandung kadar garam, gula, lemak, serta zat aditif yang cukup tinggi. Konsumsi tanpa kontrol berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan.

“Kalau dikonsumsi berlebihan, yang kita waspadai adalah kelebihan garam, gula, dan lemaknya, minyaknya,” ujar dr. Benedicta dalam siaran radio di Samarinda.

Ia menjelaskan makanan dengan cita rasa gurih cenderung membuat seseorang makan lebih banyak. Kondisi tersebut meningkatkan asupan kalori harian dan berisiko menyebabkan obesitas apabila tidak diimbangi aktivitas fisik.

“Kalau makanannya gurih ada kecenderungan makannya lebih banyak sehingga meningkatkan kalori,” katanya.

Menurutnya, kelebihan kalori yang menumpuk dalam tubuh dapat memicu penyakit metabolik seperti hipertensi, diabetes melitus, kolesterol tinggi, hingga penyakit jantung.

“Kalori yang berlebihan yang tidak diikuti dengan pembakaran yang seimbang atau aktivitas fisik akan menyebabkan obesitas,” ujarnya.

Dr. Benedicta juga mengingatkan masyarakat tidak hanya berfokus pada MSG atau micin dalam makanan instan. Kandungan lain seperti garam, gula, dan minyak dinilai memiliki dampak yang lebih besar terhadap kesehatan.

“Mereka itu yang lebih berpengaruh,” ucapnya.

Ia menambahkan, akumulasi zat aditif dari makanan olahan yang dikonsumsi setiap hari dalam jangka panjang dapat merugikan kesehatan.

“Kita juga harus hati-hati dengan zat aditif lainnya. Kalau tiap hari berarti menumpuk-menumpuk, memang akan merugikan kesehatan,” katanya.

Dr. Benedicta menyarankan masyarakat, khususnya generasi muda, untuk membatasi konsumsi makanan praktis dan lebih sering mengonsumsi makanan rumahan. Langkah tersebut dinilai membantu menjaga keseimbangan gizi harian.

“Kalau memang ada kesempatan lebih baik masak di rumah,” katanya mengakhiri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....