Meski Nol Kasus, Kadinkes Kaltim Terbitkan Surat Edaran Waspada Hantavirus
- 15 Mei 2026 09:29 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) memastikan hingga saat ini belum ada laporan kasus hantavirus di wilayah Kaltim. Meski demikian, kewaspadaan terhadap penyakit yang ditularkan hewan pengerat itu tetap ditingkatkan.
Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, mengatakan pemantauan terus dilakukan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) yang dilaporkan rutin setiap minggu ke Kementerian Kesehatan. “Sejauh ini tidak ada dilaporkan di Kalimantan Timur,” ujarnya, dikutip pada Jumat, 15 Mei 2026.
Ia menjelaskan, laporan mingguan terkait berbagai penyakit terus dipantau untuk mendeteksi kemungkinan peningkatan kasus tertentu, termasuk hantavirus. Namun sejauh ini, penyakit yang masih dominan ditemukan di Kaltim justru infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan campak.
Meski belum ditemukan kasus, Kadinkes Kaltim tetap mengeluarkan surat edaran kewaspadaan hantavirus kepada seluruh kabupaten dan kota. Langkah itu dilakukan karena penyakit tersebut berkaitan dengan tikus dan curut yang cukup banyak ditemukan di lingkungan masyarakat.
“Hari ini saya bikin surat edaran, karena hantavirus ini terkait dengan tikus atau curut dan kita kan banyak tuh hewan tersebut,” ucap Jaya.
Jaya pun mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan agar tidak menjadi tempat berkembangnya hewan pengerat. Ia juga mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi urine maupun kotoran tikus, terutama saat musim banjir.
“Itu ada kencingnya di mana-mana, kita enggak tahu kita pegang atau enggak. Maka kita harus cuci tangan pakai sabun,” kata dia.
Ia menjelaskan, hantavirus termasuk penyakit zoonosis atau penyakit yang menular dari hewan ke manusia, bukan antarmanusia. Penularan bisa terjadi ketika partikel dari urine atau kotoran tikus terbawa udara lalu terhirup manusia.
Menurut Jaya, gejala hantavirus juga mirip dengan sejumlah penyakit lain seperti demam berdarah dengue (DBD), tifoid, hingga demam kuning. Gejala awal biasanya berupa demam dan gangguan pada tenggorokan.
Untuk penanganannya, hingga kini belum ada obat spesifik bagi penderita hantavirus. Karena itu, Jaya menekankan pentingnya pencegahan dini.
“Jadi ya kalau memang demam, kita pasang infus agar tidak terjadi kekurangan cairan. Kalau panas kita kasih obat penurun panas. Jangan sampai terjadi komplikasi di ginjal maupun jantung,” ujarnya.
Ia juga menyarankan untuk mengonsumsi suplemen atau vitamin bila perlu agar membantu meningkatkan kekebalan tubuh dan tidak mudah terpapar virus. Namun, kebersihan lingkungan dan menerapkan pola hidup sehat menjadi yang paling utama untuk menghindari penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....