Fenomena Komentar Julid Netizen Indonesia dalam Perspektif Sosiologi

  • 22 Apr 2026 11:14 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Fenomena media sosial di Indonesia diwarnai maraknya komentar “julid” dari warganet. Istilah ini semakin sering muncul seiring tingginya interaksi di platform digital, terutama saat isu viral mencuat dan memicu beragam tanggapan bernada sindiran hingga kritik tajam.

Label “julid” pun kian melekat pada netizen Indonesia yang dinilai gemar mengomentari kehidupan orang lain di ruang publik digital. Dalam praktiknya, istilah ini kerap disamakan dengan “nyinyir” dan identik dengan respons negatif yang cepat menyebar luas.

Dosen Hubungan Internasional Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Timur, Sari Mulyani dalam obrolan SPADA, dikutip Rabu, 22 April 2026, menjelaskan kondisi tersebut mencerminkan perubahan pola komunikasi masyarakat di era media sosial. Kebebasan berekspresi di ruang online membuka peluang munculnya komentar tanpa batas yang tidak selalu sejalan dengan norma kesopanan di kehidupan sehari-hari.

Ia menilai, dalam konteks tertentu, “julid” kerap menjadi bentuk distraksi terhadap informasi yang belum tentu kebenarannya.

“Sebetulnya julit itu kan distraksi dari sebuah pengetahuan, dari sebuah informasi yang belum tentu benar atau tidaknya,” katanya.

Dalam kehidupan sosial sehari-hari, masyarakat Indonesia dikenal menjunjung tinggi keramahan dan norma kesopanan, terutama saat berinteraksi langsung. Kontrol sosial dinilai berperan besar dalam menjaga perilaku tersebut.

“Kita ngomong kalau misalnya masyarakat Indonesia itu terkenal dengan orang yang sangat ramah. Kita biar enggak kenal senyum. Tapi kalau di luar negeri kamu akan aneh,” katanya.

Menurutnya, interaksi tatap muka menciptakan batasan perilaku yang kuat karena adanya norma dan etika sosial.

“Nah, secara ruang sosialnya ketika kita offline ketemu langsung itu kita ada kontrol sosial, kita punya norma, punya etika sehingga kesopanan itu dijunjung atas nama masyarakat Indonesia yang ramah,” katanya.

Namun, kondisi berbeda terjadi di ruang digital. Ia menyebut anonimitas di internet membuka ruang ekspresi yang lebih bebas, sekaligus berpotensi menghilangkan kontrol sosial.

“Satu itu ruang online. Jadi teman-teman itu ruang online di mana kita tidak tahu pakai anonim. Namanya juga bukan Sari Mulyani misalnya cute 1, cute 2. Jadi semua merasa bisa lebih berekspresi,” ujarnya.

Kebebasan tersebut, lanjutnya, sering kali mendorong pengguna menyampaikan pendapat tanpa mempertimbangkan norma sosial yang berlaku.

“Jadi karena lebih berekspresi terkadang kita kehilangan kontrol sosial. Jadi sah-sah saja saya ngomong. Kita berekspresi terutama kayak ada kasus-kasus,” katanya.

Ia menegaskan, fenomena “julid” di kalangan netizen mencerminkan kontradiksi antara perilaku di ruang offline dan online, yang telah lama menjadi pembahasan dalam kajian sosiologi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....